Oleh: Kyan | 22/03/2014

Wisata Syariah: Safari Masjid di Kota Seribu Masjid

Wisata Syariah: Safari Masjid di Kota Seribu Masjid

##

Tasikmalaya sebagai Kota Santri, saat ini boleh Anda ragukan keabsahan julukannya. Karena situasi zaman yang serba global, sering tak dapat mengelak dari dampak negatifnya, yang diantaranya ada degradasi moral yang dulu berperilaku santri, tapi kini ada salah putranya yang terjerat korupsi.

Tapi Tasikmalaya sebagai Kota Seribu Masjid, sesudah saya melancong ke beberapa negeri, dan sesudah dua bulan berhilir-mudik di wilayah Tasikmalaya, dari kecamatan ke kecamatan, dari desa ke desa, dari gang ke gang untuk sebuah pekerjaan, harus saya akui bahwa memang “Delhi van Java” ini benar-benar sebagai Kota Seribu Masjid.

Maka, kalau Anda sedang jalan-jalan di Tasikmalaya dan sudah tiba waktunya salat fardhu, Anda tidak akan sulit menemukan masjid yang tidak sekedar masjid yang padahal tajug atau langgar, tapi ini masjid yang representatif dengan arsitektur unik buah karya para arsitek ternama Tasikmalaya. Saya telah dibuat terkagum-kagum dengan banyaknya masjid indah dan wah di setiap sudut kota Tasikmalaya, dan saya berpikir dari mana itu sumber keuanganya sampai mampu mendirikan masjid yang wah dan mewah.

Menelusuri sejarah Tasikmalaya sebagai Mutiara Dari Timur, sebagai ibukota Priangan Timur, memang sudah tumbuh kembang sejak lama, yang berdasar situs Geger Hanjuang bahwa wilayah yang kini bernama Tasikmalaya, yang diakui sebagai hari jadi Tasikmalaya, sudah sejak 21 Agustus 1111 Masehi masyarakatnya sudah mengalami tata administratif. Demikian peralihan nama dan kepemimpinan sejak Batara Galunggung, Sukakerta, Sukapura, sampai Tasikmalaya, secara turun-temurun nenek moyang Galunggung (karuhun) telah mewariskan kemandirian dalam ekonomi.

Wajarlah sekarang masih terdengar bahwa orang Tasik terkenal dengan Tukang Kredit-nya. Karena Tasikmalaya sebagai “Padang”-nya Orang Sunda. Mengapa pula Kongres I yang dijadikan Hari Koperasi, Mohammad Hatta mengambil tempat pelaksanaan kongres di Tasikmalaya. Karena untuk kemajuan usaha membutuhkan kegotong-royongan yang terwujud dalam gerakan Koperasi untuk mensejahterakan para anggotanya.

Tapi meskipun Koperasi hari ini dianggap mati suri, tapi kemandirian ekonomi di Tasikmalaya terus berkelanjutan, baik secara mandiri atau suntikan dari sumber-sumber keuangan lain, sampai mereka mampu membesarkan dan memegahkan masjid-masjid yang dulu bangunan biasa, tapi kini sudah penuh sentuhan arsitektur modern dengan paduan gaya bangunan klasik dan modern.

Sekarang saatnya Anda berkunjung ke Tasikmalaya, untuk membuktikan benarkah di Tasikmalaya berdiri masjid sejumlah seribu bangunan, atau untuk melebarkan jaringan bisnis Anda, atau untuk mencermati tatanan masyarakatnya, atau untuk sekedar menikmati aroma nuansanya.

Tidak hanya masjid ke masjid yang dapat Anda kunjungi, tapi sekalian bisa Safari Pesantren. Anda bisa jalan-jalan dari pesantren ke pesantren yang tradisional salafiyah sampai modern ala sekolah boarding school yang barangkali dapat menjadi telaah ilmiah atau tambahan referensi dimana tempat pendidikan terbaik putra-putri Anda.

01-Masjid Agung Tasikmalaya.1600.

01-Masjid Agung Tasikmalaya.1600.

Start Wisata masjid pertama, boleh di Masjid Agung Tasikmalaya, yang belum lama ini sempat terjadi kehebohan di laman maya bahwa Masjid Agung Tasikmalaya telah dijual. Setelah itu Anda berkunjung ke Masjid Kuno Manonjaya. Masjid yang pertama berdiri tahun 1837 ketika Manonjaya (Harjawinangun) menjadi ibukota Kabupaten Sukapura. Dengan peletakan batu pertama bangunan utama oleh Raden Tumenggung Danuningrat, dan tahun 1889 didirikan bangunan tambahan pada masa RTA Wiraadiningrat.

02-Masjid Kuno Manonjaya

02-Masjid Kuno Manonjaya

Selanjutnya berkunjung ke Masjid Al-Rosyad (Indihiang), lalu ke Masjid Ahmadiyah (Singaparna) dengan arsitektur uniknya yang didirikan tahun 1925, dan seterusnya mengunjungi Masjid Pemkab Tasikmalaya (Singaparna), Masjid Al-Hasan dan Masjid Aisiyah yang mirip Masjid Cordova Andalusia, Masjid Ruhaeniyah (Gobras), Masjid Al-Rosyad, Masjid Sahidan (Bale Kota), Masjid Fastabiqul Khairat (Pondok Karisma Regency), Masjid Al-Askary (Sukaraja) kalau sekalian ziarah ke Pamijahan, Masjid Al-Istikomah (Bungursari) sampai Masjid Pancatengah sebagai basis wilayah Saladin Institute.

03-Masjid Aisiyah

03-Masjid Aisiyah

04-Masjid Ruhaeniah (Gobras)

04-Masjid Ruhaeniah (Gobras)

05-Masjid Al-Rosyad (Indihiang)

05-Masjid Al-Rosyad (Indihiang)

06-Masjid Sahidan (Bale Kota)

06-Masjid Sahidan (Bale Kota)

07-Masjid Suhada

07-Masjid Suhada

08-Masjid Al-Askary

08-Masjid Al-Askary

09-Masjid Al-Hasan

09-Masjid Al-Hasan

10-Masjid Ahmadiyah (1925)

10-Masjid Ahmadiyah (1925)

11-Masjid Al-Islam

11-Masjid Al-Islam

12-Masjid Fastabiqul Khairat

12-Masjid Fastabiqul Khairat

13-Masjid Istiqomah

13-Masjid Istiqomah

14-Masjid Pancatengah

14-Masjid Pancatengah

15-Masjid Babur Rohmah (Cigorowong)

15-Masjid Babur Rohmah (Cigorowong)

16-Masjid Pemkab Tasikmalaya

16-Masjid Pemkab Tasikmalaya

================== Lalu sepulang perjalanan dari Masjid ke Masjid, dari Pesantren ke Pesantren, jangan lewatkan mampir dulu di “Sentra Batik Kota Tasikmalaya” untuk sekedar melihat-lihat dan ngeborong baju-baju batik sebagai oleh-oleh khas dari wisata ke Tasikmalaya.

Sentra Batik Kota Tasikmalaya (Depan)

Sentra Batik Kota Tasikmalaya (Depan)

Sentra Batik Kota Tasikmalaya (Belakang)

Sentra Batik Kota Tasikmalaya (Belakang)

Dan selanjutnya terserah Anda.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori