Oleh: Kyan | 01/04/2014

Shalahuddin Al-Ayyubi: Pembebas Jerusalem, Penyayang Musuh

Shalahuddin Al-Ayyubi: Pembebas Jerusalem, Penyayang Musuh
##
Tak ada peperangan yang berlangsung demikian lama, selain Perang Salib. Ratusan tahun dibutuhkan untuk mengakhiri perang yang sangat ganas ini. Seorang penulis Barat bahkan menyebutnya sebagai badai kefanatikan liar Kristen Eropa dalam menumpahkan dendamnya kepada orang-orang Asia Barat. 

Saladin

Saladin

“Perang Salib merupakan salah satu episode yang paling gila dalam sejarah. Kaum Kristen menghasut diri mereka sendiri ke dalam peperangan melawan pengikut Nabi Muhammad dari satu ekspedisi ke ekspedisi lain selama tiga abad. Eropa dibanjiri manusia pendendam dan uang. Mereka merasa terancam oleh kebangkrutan sosial jika bukan kelaparan atau penyakit. Setiap kekejaman yang hanya ada dalam khayalan itu pun terjadi dan itu mencemarkan prajurit-prajurit Salib”, tulis Michaud, seorang sejarawan Prancis.

Kaum Kristen Barat dirangsang ke arah kegilaan agama oleh Peter Sang Pertapa untuk menghancurkan Islam dan membebaskan Tanah Suci Jerusalem. Hallam, sejarawan lain pun lebih lanjut menulis, “Segala cara dan alat digunakan untuk merangsang tumbuhnya kegilaan yang mewabah. Pada masa itu, kalau ada tentara Salib yang memikul tiang Salib, maka ia berada dalam perlindungan gereja dan dibebaskan dari semua pajak serta sekaligus mendapat kebebasan untuk melakukan dosa.”

Peter Sang Pertapa, otak dari semua kegilaan itu, memimpin sendiri pasukan Salib kedua yang terdiri dari 40 ribu pasukan. Michaud menuliskan bagian ini dengan paparan yang demikian menggenaskan: “Sesampainya di Mallevie, mereka membalaskan dendam atas kematian para pendahulu mereka dengan menganiaya dan membunuh tidak kurang dari tujuh ribu warga kota itu kemudian mereka menghibur diri mereka dengan segala bentuk kekasaran. Gerombolan-gerombolan liar yang disebut pejuang Salib itu mengubah Hungaria dan Bulgaria menjadi daerah terpencil. Katika mereka sampai di Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan yang membuat alam bergetar karena menjijikan”.

Gelombang ketiga serangan tentara Salib, tak berbeda dengan gelombang kedua. Sejarawan Edward Gibbon menyebut perilaku tentara yang dipimpin seorang biarawan Jerman sebagai manusia sampah yang paling liar dan bodoh. Mereka (tentara Kristen Eropa) mencampuradukkan ketaatan dengan perampokan yang brutal, pemerkosaan, dan mabuk-mabukkan.

Sementara itu, gelombang keempat pasukan Salib muncul dari Eropa Barat. Menurut sejarawan John Stuart Mills, pasukan tersebut merupakan kawanan lain dari manusia biadab yang liar dan nekat. Mereka punya kebiasaan yang sama: menganiaya, memperkosa, dan merampas tanpa ampun. Bila gelomban-gelombang tentara Salib sebelumnya sulit mendapatkan kemenangan apalagi menduduki Tanah Suci Jerusalem, gelombang selanjutnya barulah mendapat keberhasilan. Sukses awal mereka dimulai ketika menaklukkan bagian terbesar dari Syria dan Palestina, termasuk kota suci Jerusalem.

Kemenangan itu disusul dengan tindakan brutal dan pembantaian orang-orang Islam yang tidak bersalah, termasuk orang tua, anak-anak, dan wanita. Jumlah umat Islam yang terbantai, jauh melebihi pembantaian yang pernah dilakukan Jengish Khan atau Hulagu Khan, kaisar Mongol ketika menjarah dan membantai umat Islam di Baghdad.

Sejarawan Mills, kendati beragama Kristen, membuktikan pembantaian itu dilakukan saat pasukan Salib menguasai kota Antioch, Syria. Tentara Salib menduduki kota-kota Syria yang maju dan berkembang baik. Mereka membantai penduduknya dengan darah dingin dan membakar hingga jadi abu semua benda seni dan benda peraga pengetahuan yang tak ternilai harganya. Termasuk perpustakaan Tripoli yang terkenal yang memiliki koleksi tiga juta jilid buku-buku ilmu pengetahuan. “Jalan-jalan digenangi darah sampai keganasan itu lelah atau capek dengan sendirinya,” tulis Mills.

Semua kegilaan itu mencapai puncaknya saat tentara Salib mendapat dukungan dari Raja-raja Jerman dan Prancis serta Raja Inggris Richard The Lion Heart pada abad ke-12 M. Saat kegilaan itu memuncak, Allah melahirkan seorang pembebas dari Syria. Sang pembebas itu adalah Shalahuddin al-Ayyubi yang lahir pada 1137 M dari ayahnya bernama Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Sherkoh (Shirkuh) yang mendidik Yusuf, nama kecil Shalahuddin menjadi ksatria tangguh. Sherkuh merupakan panglima tangguh yang selalu mendapat kepercayaan untuk memimpin pasukan Raja Syria, Nuruddin Mahmud untuk mengusir tentara Salib dari Syria dan Mesir.

Kepandaian dan kecakapan dalam ilmu pemerintahan membuat Shalahuddin dipercaya menjadi wakil raja di Mesir oleh Raja Nuruddin. Saat itu sang Raja telah berulang kali menjaga kedaulatan kekuasaannya, termasuk melawan tentara Salib yang mencoba penguasai wilayah Jerusalem.

Ketika Nuruddin wafat, putranya, Malikus Shaleh yang baru berusia 11 tahun pun menggantikan ayahnya. Kendati berkuasa, Malikus Shaleh sangat dipengaruhi anggota keluarganya terutama Gumusthagin. Karena pengaruhnya pula, Malikus Shaleh meninggalkan Damaskus dan mengasingkan diri di Aleppo. Saat itulah tentara Salib mengepung ibukota dan baru mengendurkan pengepungan setelah mendapat upeti besar.

Kenyataan itu membuat Shalahuddin marah. Ia pun segera berangkat ke Damaskus dengan membawa sejumlah pasukan dan menguasai kota itu. kendati telah dikuasai, ia tidak memasuki istana raja karena ia masih menghormati almarhum Raja Nuruddin. Di Damaskus, Shalahuddin tinggal di rumah orang tuanya. Beberapa kalangan mendesak Shalahuddin untuk segera mengambil alih kekuasaan dari Malikus Shaleh. Namun, ia menolaknya. Barulah ketika raja muda itu meninggal tahun 1181 M, Shalahuddin segera memegang tampuk kekuasaan.

Kala berkuasa, Sultan Shalahuddin melakukan gencatan senjata di Palestina dengan pasukan Salib yang dipimpin Raja Frank dari Jerman. Michaud menulis gencatan senjata itu dihormati pasukan Islam. Namun, tidak demikian dengan tentara Kristen. “Pemimpin Kristen Renauld dari Chatillon menyerang kafilah Islam yang melewati markas mereka. Juga mereka membantai para penduduk dan merampas semua harta benda mereka”.

Jelas ini melanggar kesepakatan bersama. Shalahuddin pun tak merasa berat melakukan pembalasan atas perlakuan tentara Salib. Dengan sebuah gerakan yang piawai, Shalahuddin menjebak pasukan musuh di dekat Bukit Hittin pada 1187 M. Kemenangan pun diraih dan ia pun tidak memberi kesempatan kepada tentara Salib untuk melakukan konsolidasi sehingga pasukan Shalahuddin segera menguasai sejumlah kota seperti Nablus, Jericho, Ramallah, Caesarea, Asruf, Jaffa, dan Beirut serta Ascalon.

Setelah semua kota itu bebas, Shalahuddin segera memusatkan perhatian pada kota Jerussalem yang saat itu dikuasai tidak kurang dari 60.000 pasukan Salib. Serangan gencar yang dilakukan Shalahuddin dan pasukannya membuat pasukan Salib akhirnya menyerah pada akhir tahun 1187 M. Saat penyerahan kekuasaan atas kota suci ini, tampak sekali perbedaan yang dilakukan tentara Islam dengan tentara Salib ketika masuk kota suci ini 90 tahun sebelumnya.

Michaud mencatat kala itu pembantain terhadap umat Islam di Jerusalem terjadi pada 1099 M. Raymond de Agilles, bangsawan Prancis yang termasuk seorang pemimpin tentara Salib, menyaksikan dengan mata kepala sendiri peristiwa itu dan menuliskan, bahwa di bawah serambi masjid yang melengkung itu, genangan darah mencapai kedalaman selutut dan mencapai tali kekang kuda. Hal ini bisa dibayangkan manakala 70.0000 penduduk muslim binasa dibantai tentara Salib.
Saladin_InstituteKini, ketika pasukan Shalahuddin datang dan menguasai Jerusalem, tak ada balas dendam yang ditakutkan. Shalahuddin mengampuni semua penduduk Kristen Jerusalem. Hanya orang-orang yang pernah bertempur atau pejuang-pejuang Kristen yang diminta meninggalkan kota setelah membayar tebusan. Dalam banyak kasus, ternyata Shalahuddin memberikan uang tebusan dari kantongnya sendiri dan memberi ongkos transportasi.

Sultan Shalahuddin pun sangat tersentuh dengan permohonan sejumlah wanita Kristen. Dengan menggendong anak-anaknya, mereka meminta para suami yang tertawan dibebaskan. Permintaan ini pun dipenuhi Sultan dan semua lelaki yang tertawan dibebaskan serta diberi kebebasan membawa semua harta benda yang dimiliki.

Jatuhnya Jerusalem membuat umat Kristen kacau balau. Raja Jerman, Prancis, dan Inggris pun segera mengambil langkah bersama, bersatu padu mengumpulkan kekuatan guna menuntut balas. Pasukan gabungan ketiga kerajaan tersebut dibentuk untuk melancarkan serangan di bawah komando Raja Richard berhati singa. Mereka segera mengepung kota Acra selama beberapa bulan. Pasukan Islam yang terdesak akhirnya menyerah dengan syarat tak satu pun penduduk dibunuh dan mereka akan membayar 200.000 keping emas sebagai jaminannya. Richard setuju. Namun ketika pembayaran jaminan itu terlambat, tanpa ampun semua penduduk Acra dibantai tanpa sisa.

Kekejaman mereka membangkitkan kemarahan Sultan. Segera ia pun memimpin langsung serangan balasan kepada pasukan gabungan Kristen. Sepanjang garis pantai 150 mil dan dalam sebelas kali pertempuran, pasukan Islam memorakporandakan pasukan Kristen. Akhirnya, di bulan September 1192 M, perdamaian pun dicapai dan pasukan Salib meninggalkan medan peperangan dengan kekalahan yang menyakitkan. Michaud mencatat dari 600.000 pasukan yang dikirim ke Acra, hanya tinggal 100.000 yang kembali ke Eropa.

Kondisi pun kembali berjalan normal. Namun, tiba-tiba tersebar kabar bahwa setibanya di Inggris, Raja Richard sakit keras, maka Sultan Shalahuddin yang juga seorang dokter itu merasa iba. Dengan pakaian yang lazim dipakai oleh orang Eropa dan topeng dari kulit di wajahnya, Sultan menyamar datang ke tempat tinggal Richard untuk mengobatinya. Ketika pakaian samarannya itu ditanggalkan, Raja Richard pun terkejut bahwa sang tabib itu ternyata adalah musuhnya. “Aku adalah orang yang memusuhimu, mengapa engkau tak membunuhku? tanya Raja Richard terheran-heran. “Tidak, agamaku melarang membunuh musuh dalam keadaan lemah atau sakit,” jawab Shalahuddin penuh ksatria.

Sejak mundurnya pasukan Kristen dari Mesir dan Palestina, Sultan Shalahuddin lebih banyak membaktikan sisa hidpnya dengan pembangunan sarana dan prasarana guna menyejahterakan rakyatnya. Ia membangun banyak masjid, rumah sakit, dan sarana umum lainnya.

Ketika ajal menjemput pada 4 Maret 1193, dunia Islam kehilangan tokoh pembebas Jerusalem yang di dalamnya terdapat Masjid Al-Aqsha, tanah suci ketiga Islam. Kurir yang membawa berita kematian Sultan ke Baghdad hanya membawa ikat kepala dari baja, kudanya, satu dinar dan 36 dirham uang tunai sebagai warisan Sultan.

Dialah Sultan yang berhati lembut, penyabar, dan ramah tamah. “Di Eropa ia menyentuh imajinasi penulis-penulis kisah perjalanan berbahasa Inggris, begitu pula novelis-novelis modern dan ia masih dianggap sebagai suri tauladan bagi kesopanan dan kekesatriaan,” kata Philip K. Hitti. [Diketik ulang dari buku Khazanah Orang Besar Islam, Penerbit Republika]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori