Oleh: Kyan | 01/04/2014

Saladin Milik Semua Orang

Saladin Milik Semua
##
Saladin bukanlah namaku, bukan pula bermaksud bernostalgia masa lalu, untuk membawa Anda ke abad pertengahan saat ada manusia teladan yang karena kebaikannya, pun musuhnya sangat mengaguminya.

Gedung Kantor ASI7-Saladin Institute.

Gedung Kantor ASI7-Saladin Institute.

Dalam sejarah Eropa, nama Saladin atau Shalahuddin Al-Ayyubi, tertorehkan dengan tinta emas sejarah peradaban mereka. “Ia telah menyentuh imajinasi penulis-penulis kisah perjalanan berbahasa Inggris, novelis-novelis modern, dan masih dianggap sebagai suri tauladan bagi kesopanan dan kekesatriaan,” kata Philip K. Hitti. Itulah Shalahuddin seorang pahlawan ratusan pertempuran, dan hari ini dunia hampir tak menyaksikan lagi seorang penakluk yang lebih ksatria dan lebih penyayang setelah dia.

“Aku bukan orang-orang seperti itu,” kata Saladin. “Aku Saladin, Shalahuddin,” lanjutnya dalam dialog film Kingdom Of Heaven garapan Ridley Scott. Saat pembebasan Yerusalem, ia menjamin setiap orang, wanita, anak-anak, orang tua, dan semua ksatria dan sang ratu istrinya Balian dari Ibelin. Bahkan ia tidak membunuh sang raja Kristen, si pengikut Reynauld dari Chatillon yang kasar dan bengis itu. Saladin seorang pejuang Islam yang siap memimpin jihad melawan musuh yang khianat, dan siapa pula untuk berdamai dalam dialog kesepakatan. Kata Karen Armstrong, dialah prototife terbaik mujahid Islam abad pertengahan.

Dan kenapa kami menamakan diri Saladin. Karena itulah namaku, Shalahuddin atau Salehuddin yang diadapsi ke dalam Bahasa Sunda menjadi Solehudin sebagai nama pemberian orang tuaku. Saladin adalah panggilan Eropa untuk Salahuddin dan aku pun ingin mengacu kesana. Menjadi inspirasi saat Palestina masih dalam prahara yang tak kunjung reda, karena dalam satu kota terdapat tiga muara agama. Sebagai inspirasi bagi pencari kebenaran yang kemenangan bukanlah membunuh musuh, tapi memaafkan dan atas kebaikannya ia dikenangkan dalam sejarah.

Begitu pula Saladin Institute. Ingin membaktikan diri sebagai jejak langkahku dengan semampuku. Kalau Buya Syafii Maarif membikin Maarif Institute, kalau puteri Abdurrahman Wahid mendirikan Wahid Institute, kalau Rizal Mallarangeng membangun Freedom Institute dan Erbe Sentanu membaktikan diri dengan Katahati Institute, yang semuanya mereka adalah manusia-manusia besar yang berkiprah di kancah nasional. Tapi aku, tidak bolehkah orang biasa-biasa saja mengimpikan hal yang sama?

Karena sejarah perjalanan bangsa manusia tidak hanya cerita-cerita besar dan tentang orang-orang besar. Tapi manusia biasa pun selayaknya berjuang untuk menorehkan sejarah emasnya sendiri. Karena kepada siapapun entah orang kecil atau besar, pada priyayi atau jelata, pada konglomerat atau miskin durjana, semua harus berkontribusi dan saling bahu-membahu untuk kebaikan semesta dunia. Salam![]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori