Oleh: Kyan | 01/04/2014

Wajah Baru Komunikasi Sosial

Wajah Baru Komunikasi Sosial
##
Perkembangan komunikasi seperti melingkar. Pada muasalnya orang zaman dulu ketika menyampaikan ide atau maksud pada orang lain itu biasa lewat suara atau bunyi atau alias berbicara. Misalnya bagi yang pernah aktif di Pramuka kita pernah belajar Morse. Tapi ketika lewat bunyi memiliki kekurangan, berkembanglah menjadi bahasa gambar, dan selanjutnya muncullah apa yang kita kenal sekarang sebagai huruf dan huruf yang disusun disebut tulisan. Begitulah mulanya bunyi-bunyian lalu muncullah gambar, lalu berkembanglah tulisan dengan beragam jenis seperti yang kita pakai di ketikan komputer.

aksara-sunda.

aksara-sunda.

Tapi melihat fenomena sekarang, ketika orang kalau menyampaikan maksud lewat berbait-bait kata akan dirasa terlalu panjang dan bertele-tele, atau misalnya sebagai pelengkap sebuah postingan tulisang, orang sering pakai gambar untuk mewakili apa yang kita maksudkan. Bahkan ketika sudah mapan orang mengenal tulisan, kita tahu dalam situs jejaring sosial, saya biasanya lebih banyak melihat-lihat update-an gambar saja daripada tulisannya. Atau ketika menyampaikan maksud suka lebih ‘ngeh dengan bahasa gambar. Seperti dalam kode chatting, untuk memberi senyuman cukup diwakili dengan simbol lingkaran yang diberi titik mata dan garis lingkar sepertiga.

Akhirnya bentuk komunikasi seperti kembali ke awal, ke pertama penemuan ketika orang saling berkomunikasi biasa pakai bahasa gambar, dan mungkin kedepan akan terasa lebih mengena lewat bunyi-bunyian. Seperti relief di gua-gua atau pola suara-suara yang sekarang menjadi khazanah kebudayaan yang sedang dikhawatirkan punah kalau tidak dilestarikan.
Tapi disadari atau tidak, entah siapa yang menggiring yang sebenarnya pun kita sedang mengarah kepada muasal. Mungkin itulah kehendak alam bawah sadar yang tidak mungkin kita tercerabut dari akar budayanya sendiri sebagai manusia yang selalu gelisah mencari asal-muasal. Tapi generasi hari ini terlanjur telah dianggap kurang kreatif, kita dikatakan baru sebatas pemakai, bukan penemu.

Kita setiap hari ramai dalam status jejaring sosial, atau dalam koran, majalah, buku, dalam menuangkan isi pikiran dan anasir perasaan selalu memakai tulisan, tapi kita tidak tahu bagaimana asal-muasalnya sebuah tulisan. Bagaimana kita bisa menjadi bangsa penemu, kalau tidak mengenal sejarahnya, atau bahkan alergi terhadap pelajaran sejarah. Bagaimana kita bisa menemukan bentuk baru kalau tidak mengetahu bentuk-bentuk lama. Bagaimana kita tahu bahwa pada mulanya bunyi atau suara manusia, lalu digambar, lalu disederhanakan menjadi huruf-huruf.

Tulisan dalam bentuk gambar disebut Piktografi. Ada pula yang disebut Ideografi, yaitu tulisan yang mengungkapkan suatu gagasan atau cerita. Suku Aztec (Amerika Selatan) sudah mengenal Piktografi, dan Cina sekitar abad 14 SM. Sementara di Nusantara ideografi kita temukan seperti relief di Candi Prambanan yang bercerita tentang Ramayana.

Tulisan yang dianggap sebagai yang tertua adalah huruf Paku dalam kebudayaan Sumeria (Eufrat dan Tigris) 3000 tahun yang lalu. Selanjutnya Kebudayaan Mesir dikatakan sebagai penemu papirus untuk pembuatan kertas. Maka di Mesir berkembanglah tulisan yang disebut Hieroglief. Begitu pula dalam kebudayaan Jepang ada abjad Katakana dan Hiragana, dan susunannya disebut Akasatanaha. Sedangkan di kebudayaan Nusantara ada tulisan Jawa dengan huruf Hana Caraka, dan di Bengkulu (Rejang) ada huruf Kaganga atau Ulu (Rencong).

Bangsa Punesia (Libanon dan Suriah) sudah mengenal huruf yang disebut abjad Pinesia telah berumur 1000 SM dengan mengembangkan abjad dasar tulisan Yunani. Orang Etruska (penduduk asli Italia) mulailah mengembangkan abjad Pinesia, lalu berkembang kemudian huruf yang disebut Quadrata, dan Rustica.

Maka tahun 430 abjad Pinesia ini terdaftar dalam Undang-Undang Yunani dengan sedikit modifikasi. Sementara abjad Pinesia yang berkembang di Suriah berkembang kemudian menjadi huruf Arab yang dinamakan huruf Hijaiyah.

Selanjutnya di Eropa, sekitar abad IX Karel Agung menyusun huruf kecil Carolina, yang perkembangannya menjadi tulisan patah sekiar tahun 1180. Maka muncullah seni tulisan tangan dengan huruf tekstur yang disebut Gotik. Inilah tulisan yang dipakai Johanes Gutenberg, sang penemu teknik cetak-mencetak menggunakan huruf Gotik untuk percetakannya. Lalu berkembanglah huruf Schawabacher dan Fraktur.

Tahun 1470 Huruf Kuno Romawi mulai dipakai sebagai huruf cetak. Lalu diperbaharui oleh Claude Garamond di Paris tahun 1540. Kemudian muncul John Baskerville yang menemukan jenis huruf Baskerville. Tahun 1767 muncul huruf Badoni, dan selanjutnya dan selanjutnya muncul jenis-jenis tulisan lain yang namanya disematkan pada nama pemodifikasinya, yang sekarang menjadi huruf-huruf komputer.

Sejak 5000 tahun yang lalu, orang telah tahu pentingnya lambang atau tulisan untuk menyalurkan ide dan maksudnya kepada orang lain, sehingga untuk memudahkan penyampaian telah mendorong orang untuk mencipta dan menemukan huruf atau tulisan. Maka fungsi inti sebuah tulisan tiada lain sebagai sarana komunikasi, sebagai bentuk komunikasi sosial.

Masalah lain, dari dulu sampai sekarang orang menulis cukup dengan tangan. Tapi sekarang dan ke depan, atau bahkan berabad-abad kemudian tulisan tangan akan tergantikan oleh menulis ketikan? Tapi seiring perkembangan seperti yang kita temukan dalam pergaulan sosial chatting dan jejaring sosial yang sekarang banyak menggunakan bahasa gambar dan kode, seolah seperti kita sedang menuju semula. Mungkin karena tulisan yang panjang kadang malah bertele-tele, sering tidak dibaca karena orang-orang sudah malas membaca, dan menulis ketika sering malah kehilangan ruhnya. Sudah kehilangan unsur seninya sebagai arti hidup manusia. Menulis ketikan telah membuat kita menjadi mesin, sedangkan menulis tangan adalah mencoba siapapun untuk jadi seniman bagi tulisannya.

#Referensi: ketika bertandang ke sekolah SDN Nagarawangi Tasikmalaya, menemukan buku lusuh berjudul “Asal Usul Tulisan dan Perkembangannya” dengan penulisnya Etty Hartati Mahfud.

 

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori