Oleh: Kyan | 07/04/2014

Maafku Pada Diana Husna

Minggu, 07 April 2014

Maafku Pada Diana Husna

##

Sebelum aku tertidur ingin aku menuliskan dulu semua yang jadi pikiran. Ingin aku membuang perasaan yang masih mengganjal dan mencoba memaafkan atas diri yang penuh kekurangan, dan tingkah lakuku yang tahu-tahu di luar nalar dan kesadaran. Tapi semua yang jadi pikiran, perasaan, dan terutama tingkahku pada seseorang memang tidak dapat aku kendalikan sepenuhnya. Selalu saja ada orang terutama perempuan yang dibuat kesal dan marah karena sikap dan perilakuku yang mungkin kurang ajar.

Diana Husna Farisah

Diana Husna Farisah

Tapi itulah aku dan itulah kepribadianku. Aku pasti punya anasir-anasir pikiran dan isyarat-isyarat perasaanku sendiri yang memiliki independensi sendiri yang seharusnya begitu. Tapi persepsi atas persepsi, merespon sesuatu hal kadang aku berlebihan. Kenapa aku serba berlebihan yang dalam bahaya sekarang lebay. Tapi sejak dulu sampai sekarang tidak lepas ketika orang mulai mengenalku bahwa aku ini orang aneh. Aneh dalam sudut mana aku yang harus bisa mengevaluasi diri, apakah itu memang kekuranganku, apakah itu bisa diperbaiki, ataukah memang itulah ciri khas kepribadianku.

Dan hari ini kenapa aku telah membuat kesalahan fatal. Kenapa saat beberapa jam lalu aku mengalami hal diluar kesadaran. Kenapa sering sekali dalam tingkah dan perbuatanku sering tanpa sadar bahwa itu akan membuat fatal dan segala rencana menjadi berantakan. Entah apakah itu yang mencuat dari alam bawah sadar, bahwa alam bawah sadarku sebenarnya busuk, munafik, dan kronis?

Seperti banyak orang berkata ada banyak orang berwajah manis di situs jejaring sosial, tapi sebenarnya di alam nirmaya ia penjahat kelas kakap dan pemberdaya wanita. Tapi apakah begitu sebenarnya manusia?Karena aku tak percaya dengan sebutan-sebutan seperti misalnya politisi-politisi busuk, pejabat-pejabat korup, manusia-manusia sampah dan macam sebutan lainnya yang menusuk telinga. Karena sebenarnya manusia punya niat baik, tapi kadang orang lain tidak dapat memahaminya, atau caranya bisa tergelincir di luar nalar dan kesadaran.

Memang manusia tempatnya salah dan khilaf. Dalam sebuah situasi seseorang pernah berbuat khilaf, seperti aku juga berbuat khilaf saat beberapa jam lalu itu.Tapi aku meyakini dasarnya manusia adalah baik yang punya hati dan kelembutan. Hanya karena sebuah situasi dalam percaturan sosial, dalam sistem yang kita bangun sendiri, secara bersama-sama kita andil, sehingga sering ada salah satu diantara kita yang masuk lumpur atau bahkan masuk jurang pengkhianatan. Padahal sebenarnya tak terlintas di benak sedikitpun ia hendak bermaksud begitu, yang hendak mencelakakan manusia lainnya.

Tapi itulah proses kehidupan, maka muncul kosakata durjana karena memang terjadi dialami manusia. Makanya kuingat dulu saat kecil ingin sekali aku mati sebelum usia dewasa. Karena kata guru mengaji kalau sudah akil balig maka dosa-perdosa akan dihitung. Makanya aku lebih baik mati sebelum mencapai akil balig daripada harus menempuh dosa yang dari tahun ke tahun makin menumpuk.

Mungkin rasanya lucu dengan keinginan itu. Hidup itu mengenakkan, kok ini ingin mati. Lagi pula belum menikmati rasanya kawin-kawinan, ini ingin terjun ke jurang menempuh kematian.Tapi justru itulah persoalannya. Hanya karena seorang perempuan sering dibuat uring-uringan. Karena tak kunjung dipertemukan di manakah itu perempuan yang jadi pasangan dan pelengkap hidup, akhirnya berputus asa dari optimisme masa depan. Dan bahkan dalam proses menemukan, aku malah sekarang tersandung kasus kesalahan, yang sangat-sangat aku tak bermaksud untuk menghinakan atau bahkan melecehkan.

Tapi itulah proses ikhtiar yang pasti akan mengalami lika-likunya. Sekarang aku menerima apapun adanya kejadian, toh aku sudah meminta maaf dan dia sudah memberi maaf, katanya. Inilah resiko perjalanan akan ada banyak kerikil-kerikil tajam. Tapi aku tak akan berhenti berjalan untuk mengejarnya. Aku tidak akan pupus harapan di tengah jalan, sebelum jelas apakah ia sudah menerima satu pinangan.

Tapi masalahnya sekarang kenapa sih ceroboh? Bermula maksud hendak memuja, tapi karena kesalahan komunikasi jadi dianggap menghina. Ya karena tidak bisa semuanya berada dalam pengendalian, tidak mampu segalanya dalam alam kesadaran. Hanya dua puluh persen alam sadar, dan selebihnya alam bawah sadar. Maka sangat perlulah untuk melibatkan Tuhan dalam segala hal. Karena tiada seizin dari-Nya, apapun tidak akan pernah terjadi. Tapi kalau Allah sudah menghendaki, kun fayakun jadilah maka jadilah. Jadilah perbuatan di luar kesadaran, meski itu tidak aku kehendaki untuk maksud menghinakan.

Kenapa aku menulis panjang lebar begini? Tidakkah ini jadi bumerang? Apakah bermaksud supaya ada pengertian? Tiada lain maksudku supaya hatiku plong sebelum aku tertidur panjang, bahwa jikapun aku mati aku sudah meminta maaf padanya. Sebelum memasuki kematian sementaraku, aku sudah meminta maaf atas kejadian diluar sadar itu. Maafkan aku Diana Husna Farisah! Aku hanya tak sengaja dan tak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menarik simpatimu padaku. Jikapun engkau tak melirik padaku, setidaknya maafkanlah kesalahanku tak sengaja itu.

Memang soal diterima maaf dan tidaknya adalah persoalan lain. Meski akupun harus berdoa pada Tuha,n supaya orang yang dimintakan maaf itu dilembutkan hatinya untuk mau menerima maaf dari siapapun. Bukan hanya kesalahanku tapi kesalahan para lelaki yang berniat hendak mendekatinya, sehingga dengan berbagai cara, tapi akhirnya menjadi bumerang.

Tak ada kejadian tanpa izin dari Tuhan. Tapi sebuah kesalahan tentulah datang dari manusia yang sering alpa dan memang hina. Lalu apa yang dapat dibanggakan dari manusia, selain meminta, percaya, dan menerima.Bahwa aku sudah meminta, dan percaya dia memaafkanku tapi aku hanya butuh diyakinkan saja. Dan aku menerima apapun adanya hari ini.[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori