Oleh: Kyan | 09/04/2014

Langkah Politis Masyarakat Tasik Selatan

Langkah Politis Masyarakat Tasik Selatan

##

Hari ini adalah hari penting untuk lima tahun ke depan. Karena nama saya tidak tercantum di data KPU, maka otomatis saya golput. Golput yang bukan benar-benar sebagai pilihan ideologis, tapi karena sebuah sistem yang membuat saya digolputkan. Tapi dalam rangka merayakan pemilihan ada yang ingin saya sampaikan, terutama untuk masyarakat Tasik Selatan.

Kata orang memilih atau tidak memilih itu pilihan. Toh namanya hak, bukan kewajiban. Namanya hak boleh diambil atau diabaikan. Tapi kalau memilih sebagaimana MUI yang memfatwakan bahwa golput itu haram, mungkin maksudnya karena memilih itu kewajiban. Golput karena telah mengabaikan kewajiban, untuk memberi suara dalam menentukan masa depan, maka kalau mengabaikan sama saja telah meninggalkan kewajiban.

Si Kora (Maskot Pemilu 2014)

Si Kora (Maskot Pemilu 2014)

Sebagaimana zakat, ia berorientasi vertikal juga horizontal. Mungkin begitu pula ikut antri di tempat pencoblosan. “Saat engkau dalam perjalanan, pilihlah di antara kalian sebagai pemimpin,” kalau tidak salah itu kata Ibnu Taimiyah. Meskipun sebenarnya tidak ada pilihan, meskipun kita anggap track record-nya semuanya dzalim dan mengandung dosa masa silam, tapi pilihlah di antara mereka yang sedikit tingkat kedzalimannya.

Sepeninggal wafat Rasulullah, dalam tradisi arab soal kepemimpinan adalah hal krusial. Karena soal kepemimpinan pulalah mulanya umat Islam tercerai berai yang berkulminasi, bersimpangan, bahkan berlawanan antara Syiah dan Sunni, antara imamah atau konsesi, antara pro-demokrasi atau anti-demokrasi, antara revolusi atau evolusi, dan antara kultural atau struktural.

Tapi mereka yang golput saya kira bukan karena pilihan, tapi banyaknya karena keadaan. Katanya, siapapun yang memimpin toh tak membawa perubahan apa-apa. Toh ada kemajuan hanya untung bagi para konco-konconya, bagi anggota partainya, bagi partisannya, tapi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia hanya bacaan lantang sila kelima Pancasila saat upacara bendera.

Bagi yang sedang bepergian jauh, demi pencoblosan lantas ia pulang ke kampung domisili KTP-nya. Tapi bagi orang yang tirakat pengeluaran, untuk tetap bisa makan pagi dan sore, serangan fajar hanya cukup buat belanja sepekan. Suara hanya untung bagi caleg yang dipilihnya, tapi masih samar bahkan buram benefit bagi yang mencoblosnya. Tapi kalau perspektif ini terus dibiarkan sama dengan apatis untuk menempuh langkah pertama perbaikan.

Betul orang berkata, “kami tidak gila kekuasaan, tapi ingin merebut kekuasaan dari orang-orang gila”. Saya, anda, dan siapapun yang berpijak di bumi Indonesia, bernasib begini dan begitu karena andil semua. Engkau dan aku waswas dengan ketidakmenentuan harga BBM dan sembako, lahan usaha sempit karena situasi sosial rentan kacau dan daeglan-dagelan politik di istana hanya jadi komoditi media massa.

Ya, harapan masih ada. Itu kalau kita secara bersama-sama mengambil langkah-langkah sistematis dan konkret. Hanya harapan semu kalau kita tak merapatkan barisan dalam menempuh jalan perbaikan. Jangan jadi orang yang kata Anies Baswedan, negeri ini kacau karena orang-orang baik pada diam. Tapi golputnya saya di pemilu kali ini bukan karena pilihan. Karena ada situasi yang membuat saya tidak bisa ikut andil dalam pemilu kali ini. Semoga lima tahun ke depan, yang insyaallah saya pasti sudah menikah dan pasti punya tempat tinggal tetap.

15-partai-peserta-pemilu-2014

15-partai-peserta-pemilu-2014

Tapi maksud yang ingin disampaikan, ialah dalam rangka perbaikan untuk masyarakat Tasik Selatan. Beberapa hari lalu saya sempat bertemu sapa dengan caleg perempuan yang menamakan dirinya: Srikandi Tasik Selatan. Panggil saja namanya Teh Iis orang Cipatujah. Ia sebagai caleg Kabupaten Tasikmalaya dari partai Gerindra, yang saya tanya tentang pendapatnya mengenai Tasik Selatan dan seluk-beluknya.

Dari wawancara sebelumnya dengan salah satu pengurus Presidium pemekaran Tasik Selatan, bahwa saat ini Presidium sedang kekurangan dana untuk bisa menyelesaikan urusannya. Tapi di samping itu, kata Teh Iis untuk bisa goal pemekaran Tasik Selatan, kita butuh jaringan di tingkat Kabupaten, Propinsi, dan Pusat. Kita harus punya putra-puteri Tasik Selatan yang jadi anggota dewan, baik di DPRD Dati II, DPRD Dati I, dan DPR RI yang konsen memperjuangkan Tasik Selatan.

Ia menambahkan—pastinya sekalian kampanye—dari Gerindra sudah menyiapkan itu. H. Subarna (SBR) sebagai putra Cibalong sekaligus ketua Presidium menjadi Caleg DPR-RI. Dan Teh Iis—Srikandi Tasik Selatan—sebagai caleg DPRD Kabupaten, sedangkan untuk DPRD Propinsi saya lupa untuk konfirmasi siapa dari Gerindra.

Maksud saya, ini bukan kampanye. Lagi pula hari ini sudah hampir jam sembilan, pasti orang-orang sudah menentukan pilihan, sudah mengantri di tempat-tempat pencoblosan. Tapi ini jadikan saja sebagai bahan permenungan bahwa kita perlu bersama-sama mengambil tindakan konkrit sebagai langkah politis praktis. Sebagai tindak lanjut hasil kajian Unpad yang ketuanya Prof. Dr. Dede Mariana, seorang staf ahli Gubernur Jabar, bahwa Tasik Selatan sudah layak dimekarkan menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB) bernama Kabupaten Tasik Selatan. Salam.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori