Oleh: Kyan | 12/04/2014

Ketika Doa Menjadi Realita

Sabtu, 12 April 2014

Ketika Doa Menjadi Realita

##

Tulisan ini dipastikan tak berguna bagi orang lain selain bagi aku sendiri sebagai terapi kejiwaan dan dokumentasi perjalanan. Ini hanya sampah yang kalau sudah menumpuk harus dibuang, atau semacam libido yang dalam situasi tertentu harus disalurkan dengan cara dan tempat yang sudah ditentukan. Tapi apakah berkata-kata itu termasuk membuang ataukah melempar. Apakah mengucap kata dapat menjadi mantra, menjadi doa atau bahkan bala di lain pengertian?

Apakah sebuah doa ketika dulu di halaman pertama laporan tugas akhir aku menuliskan pijakan awal bahwa, “Aku bukanlah siapa-siapa, aku tak punya apa-apa, aku tak mampu apa-apa, dan aku tak jadi apa-apa”?

Dustur kata ketakberdayaan telah berlalu tujuh tahun meresonansi dan memvibrasi mengisi sebuah ruang yang ada pada diriku yang menulisnya. Dan sekarang barulah mencuat kembali permenungan. Ketika sekarang benarkah aku tak menjadi apapun selama tujuh tahun berselang? Kecuali aku hanya tetap di sini saja dan tak pernah beranjak kemana-mana menunggu kekalahan demi kekalahan.

Dulu entah kenapa sangat suka berkata begitu. Aku tak hendak gagah-gagahan bahwa itu mengambil bahasa berbeda dari teologi sufistik manunggaling kawula Gusti, bahwa manusia hanya dalam kemenjadian (becoming) sedangkan yang ada (being) hanya Tuhan. Manusia itu tidak ada, yang ada adalah yang mutlak ada. “Ana Al-Haq”, begitu kata Al-Hallaj. “Di sini Tuhan, bukan Siti Jenar,” Syekh Siti Jenar menjawab panggilan utusan Kanjeng Sunan.

Bukan pula mencontek Soe Hok Gie dalam film Gie ketika ia berpuisi, “Makhluk kecil kembali dari tiada ke tiada. Aku tak pernah menenam apa-apa, aku tak pernah kehilangan apa-apa…” Apakah pula berkata demikian karena aku tak pernah benar-benar dimiliki dan memiliki perempuan? Karena ketakmampuan punya cinta, lalu ia mengiba dan berputus asa. Karena sudah bosan menjalani upaya rasional dan suprarasional bagaimana menyapa perempuan, sampai dapat mengantarkan pada kesejatian, tapi di manakah perempuan yang menghidangkan secawan kenangan.

Kesendirian hanya menunggu diterkam macan. Karena kalau di samping ada teman perempuan, ia akan menguatkan bahwa cahaya lilin akan menerangi kegelapan. Kalau tak kunjung datang, lebih baik menempuh jalan kematian. Membiarkan diri ditumbuhi rasa nyeri. Tak menghiraukan program pemerintah untuk mendaftar BPJS, sebagai upaya rasional untuk meningkatkan kualitas kesehatan rakyatnya.

Sekarang masih kujalani tirakat keperihan. Meski memang sebagai muslim masih tetap aku menjalankan kewajiban salat fardhu dan sunnah yang dianjurkan. Tapi lintasan dan bisikan untuk mengakhiri hidup, seperti aku tak mampu membendung dan menggempur bujuk rayuan. Mampukah aku tak tergoda keindahan yang hanya nampak saja. Ingin menghindar dari bunuh diri atau menghindar diri dari menghaapi, tapi sanggupkah aku melawan dengan kadar iman yang dangkal. Bukan tak memperdulikan kesehatan dengan menjarangkan makan, tapi karena ketakutan tak cukup uang. Lagi pula toh kalaupun sudah waktunya mati, yang sakit atau sehat tak akan bisa mengelak dari kedatangannya.

Bagaimanapun dari semua itu, tetap aku bertahan memberdayakan daya hidupku. Secara naluriah manusia pasti akan terus berupaya mendekati daya hidup, daya pengungkit hidup, dan berusaha sekuat tenaga menghindari daya kematian, daya kemalangan. Untuk menyemangati hidup, sejak dulu sudah kubaca dan telaah tulisan-tulisan dari motivator kawakan Barat dan Timur. Dari Barat kukenali Dale Carnagie, Napoleon Hill, David Schwartz, Norman Vincent Peale, Sean dan Stephen Covey, dan yang terbaru Rhonda Byrne. Dari Timur Tengah ada Aidh Al-Qarny, Amru Khalid, Ibrahim Elfiky, dan dari Indonesia ada Ary Ginanjar, Erbe Sentanu, Ippho Santosa, Adam Nova, dan Irma Rahayu.

Memang tak cukup sekali baca dan cobalah ikut pelatihan dan lagi-lagi uang yang jadi hambatan. Ya, kata Cak Nun sendiri itu hanya hiasan industri. Meski memang manusia suka dengan hiasan, polesan, atau packaging untuk bisa menarik perhatian. Sedangkan inti persoalan manusia atau yang mampu menyelesaikan persoalan adalah dirinya sendiri. Orang butuh hiburan dengan memperbanyak tontonan, padahal berkreasi adalah jenis hiburan tertinggi dan merupakan yang tertinggi dari jenis hiburan macam manapun.

Katamu, “kembalilah ke Alquran sebagai pedoman”. Karena membaca buku hasil penalaran akal tak lebih dari bisikan-bisikan. Apakah bisikan dari syetan ataukah penyingkapan karena bantuan malaikat kita memang tidak tahu. Tapi memang Alquran dapat menjadi penimbang dan pembeda antara yang hak dan yang batil.

Tapi bukan maksud pamer, sudah kubaca Alquran sekalian tafsirnya dari Fi Zhilail Quran (Di bawah naungan Alquran)-nya Sayyid Quthb dan Tafsir Al-Mishbah yang ditulis M. Quraish Shihab. Memang tak cukup hanya sekali dibaca, tapi harus berulang-ulang dengan merenungkan makna lapis demi lapisnya. Karena memahami ayat-ayat Tuhan ibarat kita menanggalkan lapis demi lapis kulit bawang, hingga sampai yang kita butuhkan, hingga sampai pada inti sebuah kebenaran.

“Dan yang sudah kau ketahui, amalkan!” Begitu kan katamu?

Sampai akhirnya ketika saat ini selalu mewujud dustur kata aku tak menjadi apa-apa, padahal sudah ribuan buku kubaca tapi seolah nihil hasilnya—setidaknya itu penilaian orang-orang yang telah melemahkan—tapi memang keadaanku demikian. Faktanya adalah bahwa aku sudah tak menjadi apa-apa, tak mampu apa-apa, tak punya apa-apa, dan bukanlah siapa-siapa. Malu aku sudah rela tak cukup makan demi ingin membeli buku demi mendapatkan pencerahan, tapi pembaikkan pada hidupku serasa jauh dari panggang. Sudah sejak kecil belajar dan terus belajar sampai punya prestasi akademik lumayan, toh kenapa sekarang aku tak menjadi anu atau itu seperti orang-orang kebanyakan. Serasa buntu sudah jalan terang untuk terus melanjutkan kehidupan.

Kata orang, “Sabarlah engkau, Nak. Karena engkau tidak sendirian.” Tapi bagaimana ketika ada orang-orang bukannya mereka menguatkan, tapi ini melemahkan. Persahabatan apa itu namanya kalau kita saling diam. Kenapa aku bernasib sendirian dan tak ada perempuan yang datang untuk bisa saling menyemaikan impian dan harapan. Ketika orang jadi ini dan itu, sedangkan aku masih buntu jalan dan masih sendirian.

Lalu mereka berkata kembali, “Kau kira kami-kami ini tak pernah dirundung permasalahan? Kami hanya menikmati hidup. Persoalan besar yang melanda negeri ini tidak semata kesalahan kami. Tapi kesalahan semua orang. Ketika ingin melakukan perbaikan, yang datang hanya cibiran dan hinaan yang katanya sok ingin jadi pahlawan.”

Memang sekarang orang daripada memikirkan persoalan yang lebih besar, lebih baik katanya memikirkan dirinya sendiri. Dengan memikirkan diri sendiri sudah otomatis itu memberi solusi memperkecil persoalan. Kita tidak bisa apapun selain harus melibatkan Tuhan. Dan katanya cobalah dengan lantang mengatakan, “Wahai masalah, Allah Maha Besar… Wahai masalah, aku tak akan terkalahkah.”[]

 


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori