Oleh: Kyan | 11/05/2014

Sekolah (Bukan) Pasar Malam

Sekolah (Bukan) Pasar Malam

##

Kenapa malam. Karena malam identik dengan gelap. Ya di sekolah suka jadi pasar gelap. Saya jadi mengerti kenapa di negara maju itu, atau namanya yang modern suka ada sentra-sentra atau mall, untuk khusus menjual barang-barang dagangan tertentu.

Tidak seperti di Indonesia yang mulai dari trotoar jalan tempat orang berlalu-lalang berjalan sering diseruduki oleh motor yang tak sabar menunggu antrian stopan, juga oleh pedagang gerobak dorong dan lapak yang tak punya aturan tempat.

Dari curhat seorang kepala sekolah,bahwa sekolah yang semestinya sebagai tempat menuntut ilmu seolah sudah uang dalam pengertiannya yang verbal sekalipun. Lembaga pendidikan yang bernama sekolah kini berubah muka menjadi pasar: baik pasar terang ataupun pasar gelap rekanan dengan berupa-rupa penawaran barang.

Masih cerita kepala sekolah tadi. Ini setiap jam selalu saja ada orang datang menawarkan berbagai hal. Kalau menawarkan buku masih mending, tapi ini dari mainan sampai kosmetik apa itu memang dibutuhkan oleh guru dan murid. Bukan melarang, katanya. Tapi harus tahu waktu ketika datang. Ini jam delapan, baru saja duduk sudah ada yang datang berteriak-teriak menjajakan barang dagangannya.Seolah-olah barang yang tidak dibutuhkan siswa, harus disulap itu wajib bagi siswa. Tentu kepala sekolah dan guru diming-imingi persentasi keuntungan kalau bisa menjual.

Memang, bagaimanapun itu usaha mereka. Tapi dengan kedatangan mereka cukup membuyarkan konsentrasi kepala sekolah dan guru-guru,saat harus menyelesaikan pekerjaannya. Tapi karena sekarang sudah zaman serba uang, sila pertama Pancasila adalah ke-uang-an yang maha esa, membuat para pejabat sekolah pun akhirnya tergiur dengan tawaran persentase keuntungan kalau bersedia bekerja sama menjadi calo untuk memperdagangkan barang dagangannya.

Barang dagangan yang sebenarnya tak perlu di perdagangkan dengan datang ke sekolah-sekolah. Tapi cukup saja buka lapak di suatu tempat, dengan diatur pemerintah dengan dijadikan sentra-sentra, yang ketika masyarakat butuh barang tertentu, tinggal datang saja ke satu tempat yang menjadi sentra produk tertentu.

Geliat ekonomi mikro kecil, memang merupakan tulang punggung bertahannya ekonomi Indonesia saat dihantam badai krisis ekonomi kemarin. Tapi sebaiknya ciptakan ketertiban, mana itu tempat pasar dan mana ini adalah lembaga pendidikan. Ciptakan situasi sehingga murid, guru dan kepala sekolah bisa konsentrasi belajar dan menyelesaikan pekerjaannya. Tidak sedikit-sedikit riuh rendah oleh bunyi-bunyi yang menjajakan barang dagangannya.

Seperti bunyi pengeras suara tukang es. Murid-murid sering menjadikannya bahan guyonan, “Tong meli,, Tong meli,, Es na nu kamari…“[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori