Oleh: Kyan | 10/06/2014

Muwahidun: Ahmadiyah Masa Depan

Muwahidun: Ahmadiyah Masa Depan

##

Muwahidun, adalah Ahmadiyah Masa Depan. Setidaknya itulah doa yang dipanjatkan seorang Sunni pada Ahmadiyah. Semoga Ahmadiyah seperti Muwahidun (Al-Mohad) yang suatu saat nanti menyambut kegemilangan Islam. Karena antara Muwahidun (Andalusia) dan Ahmadiyah (Anak Benua India), kedunya punya kemiripan serupa saat mulai tampil ke panggung dunia Islam: Membawa idiom Al-Mahdi, atau sang pendirinya mengaku Imam Mahdi.

Muwahidun yang mengokohkan diri dari Maroko sampai Andalusia (1080-1236) peletak dasarnya adalah Muhammad bin Tumart, bersama rekannya Abdul Mu’min bin Ali yang melahirkan genarasi Muwahidun selanjutnya. Ibnu Tumart ialah seorang suku Masmudah Amazig (Berber) yang telah berkeliling ke negeri-negeri muslim menuntut ilmu: Sepuluh tahun di Baghdad, belajar seni berdebat pada kaum Mu’tazilah, belajar berbagai arus pemikiran dari kaum intelektual dan kalangan, bahkan disinyalir pernah belajar pada Al-Ghazali—meski katanya itu tidak mungkin, telah membikin terkatup mulut ulama-ulama Murabithun, bahkan membikin sembab mata khalifah, Ali bin Yusuf bin Tasyifin, saat menerima kritiknya tentang situasi sosial masyarakatnya.

Suatu ketika ia berkata, “Akulah Muhammad bin Abdullah.” Akuannya kepada penduduk Thenmala. Mengaku Ma’sum (tidak punya salah dan dosa) yang dengan keajaiban-keajaiban yang ia ciptakan bersama Al-Wansyarisi, memikat penduduk Murabithun menjadi pengikutnya.

Sampai terkumpul Tim 50 orang, lalu mereka menamakan diri: Jamaah Muwahidun. Yakni kumpulan orang-orang yang mengesakan Allah (Muwahid). Pekerjaannya menuduh siapa berkata Allah ada di langit—seperti jawaban orang Baduy yang jawaban itu dibenarkan oleh Rasul—dianggapnya sebagai Mujasimin, yaitu orang yang mempersonifikasikan Allah. Maka siapa yang menganggap Allah berada di suatu tempat, halal darahnya. Membunuh mereka dijanjikan pahala yang sangat besar. Maka bersama pengikutnya, Ibnu Tumart, melakukan At-Tamyiz. Memeriksa mana yang setuju dengan pendapatnya, dan mana yang tidak akan dikumpulkan untuk dibunuh. “Sunnah membolehkan memerangi mereka,” begitu argumennya.

Sepeninggal Ibnu Tumart yang gugur dalam perang Bahira (Bustan), lalu kepemimpinan diambil alih rekan revolusinya, Abdul Mu’min bin Ali. Menurut Adz-Dzahabi, mengenai kebiasaan sehari-harinya Abdul Mu’min bin Ali: Setiap waktu tak pernah meninggalkan salat fardhu di masjid, setiap hari rajin membaca sepertujuh Alquran, berpuasa senin-kamis, enggan mengenakan baju sutra yang saat itu sudah biasa dikenakan pejabat dan orang kaya. Tapi dari sikapnya mewarisi pemikiran-pemikiran Ibnu Tumart yang tak segan membunuh siapa yang menentang pendapatnya. Bahkan meski karena dosa kecil, kata Ibnu Katsir, tega membunuh orang yang tidak menjaga salat fardhu lima waktu, dan menghajar siapa yang terlambat melakukan salat malam.

Tapi kemudian, ketika Muwahidun dibawah pimpinan Yaqub bin Yusuf (Al-Mansur), yang mewarisi tahta dari ayahnya, Yusuf bin Abdul Mu’min, ia sebagai generasi ketiga Muwahidun, melakukan perombakan ideologi negara—atau ideologi organisasi bagi Ahmadiyah—Menolak gelar Al-Mahdi dan predikat maksum bagi Muhammad bin Tumart. Ia menyatakan menarik kembali pernyataan pikiran-pikiran Ibnu Tumart yang bertentangan dengan Alquran dan Sunnah.

“Karena sesungguhnya gelar Al-Mahdi hanya milik Isa putra Maryam. Karena ia sudah bisa berbicara ketika masih berada di dalam ayunan (Al-Mahdi)”. Maka sejak itu menginstruksikan kepada para khatib Jum’at atau para mubaligh di seluruh pelosok negeri Muwahidun untuk berhenti menyebutkan gelar Al-Mahdi bagi Ibnu Tumart dalam khutbah dan dakwah para ulamanya.

Pun demikian dengan Ahmadiyah, yang diharapkan Ahlus Sunnah. Karena pasti tidak mau menerima usulan bahwa Ahmadiyah sebagai bukan dari Islam. Kata mereka kami bersyahadat tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Maka sudah pasti tidak ingin dianggap ingkar dari jalan Islam yang benar. Ahmadiyah seperti juga Muwahidun yang tetap dibiarkan hidup di bumi Islam, meskipun pada awalnya punya faham mengingkari Sunnah, tapi bisakah dari rahim Ahmadiyah dapat terlahir generasi—seperti Muwahidun melahirkan generasi Al-Mansur—yang berani membalik haluan, yang menganjurkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad sesungguhnya bukan Al-Mahdi, tapi sebagai Mujaddid.

Mari kita berdialog untuk menuju persatuan Islam. Karena kesalehan adalah pencarian kebenaran tanpa final. Janganlah kita seperti dikatakan dalam Alquran, “Sesungguhnya kami dapatkan begini dari nenek moyang kami”, maka kita mensakralisasi organisasi keagamaan kita yang seolah-olah itu sudah benar dan final. Maka setiap apa yang kita dapatkan dari pendahulu kita tentu ada hal baik yang harus kita teladani, dan boleh jadi ada hal yang harus kita koreksi.

Tak dapat dinapikan bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu seorang manusia mulia. Seorang pembaharu zaman yang telah mengukuhkan diri—yang kalau Muwahidun mampu menguasai teritori dari Maroko sampai Andalusia—tapi dari perintisan Mirza Ghulam menjadikan Ahmadiyah sebagai organisasi kaliber dunia, cabangnya di macam-macam negara, yang dari rahim pergumulannya semoga melahirkan manusia-manusia emas peradaban Islam, seperti dulu di jaman Al-Mansur Muwahidun terlahir para ilmuwan muslim semacam Ibnu Rusyd (Filsuf), Imam Asy-Syathibi (Sastrawan), dan Ibnu Zarqum (Ahli Hukum), sedangkan dari Ahmadiyah sudah muncul Prof. Abdus Salam, peraih Nobel Fisika sebagai permulaannya.

Maka berharap pada Ahmadiyah, seperti dulu Al-Mansur Muwahidun yang memenangkan pertempuran Arch (Al-Arak) melawan pasukan Kristen pimpinan Alfonso VIII, yang menyambut kemenangan Saladin melawan pasukan Frank Kristen di Hittin delapan tahun kemudian, pun kepada Ahmadiyah sekarang, dengan pengikutnya yang militan dan jaringannya lintas negara, punya media komunikasi luas, dan sokongan dana kuat, Ahmadiyah menjadi organisasi garda depan siap menyambut kegemilangan Islam. Amin.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori