Oleh: Kyan | 13/06/2015

Assalamualaikum Beijing

Assalamualaikum-Beijing-Ridho-Rhoma-Moving-On

Mungkin sudah lewat gegap gempita film “Assalamualaikum Beijing” dari sejak launching, promosi, dan apresiasi setelah penayangan perdananya. Sebuah film yang mengambil based on novel by Asma Nadia. Tapi baru kali ini aku bisa menontonnya, mengunduh dari ganool.com di saat libur sabtu. Karena menunggu batukku yang belum sembuh, di hari libur aku tak bisa kemana-mana. Jadinya kuputar saja film yang tokoh lelakinya, Morgan Oey mirip sahabatku, Emwil Hilman.. haha.

Apresiasi pada film ini seakan aku membaca ‘Jilbab Traveller’-nya dari penulis yang sama. Film ini memang menyuguhkan cerita tentang gadis bernama Asma, Ashima saat melancong korespondensi ke Beijing. Makanya setelah menontonnya membuat aku ingin kembali rajin menulis catatan harian. Ingin menulis hal apa saja dari apa yang telah kutemukan. Seperti dalam dialognya, bahwa tugas manusialah “menemukan hikmah di balik setiap kejadian dan keadaan”.

Asma Nadia, petualangannya yang sampai di Beijing, dapat melahirkan karya yang jadi inspirasi. Kenapa pula aku yang datang dari kampung pedalaman di Tasik selatan, meski baru sampai di Jakarta, mungkin ada banyal hal yang menurut sebagian orang itu hal biasa, dan anggap saja betul itu hal sederhana, tapi sudah berapa paragraf aku menuliskannya tentang yang kutemukan itu.

Setiap sabtu dan minggu aku biasa pergi jalan-jalan, pasti menemukan tak sedikit hal yang dapat dijadikan gagasan bahan penulisan. Meskipun itu hal sederhana, bisakah aku meramunya, memberinya makna sedalam-dalamnya pemaknaan, atas sikap kepasrahan pada kehendak Tuhan. Bukan maksud mendramatisasi dari hal yang sebenarnya sederhana, tapi tidak juga mengampang-gampangkan hal yang sebenarnya boleh jadi pelik dan rumit.

Misalnya menulis. Menulis itu gampang, seperti judul tenar bukunya Arswendo. Kita tinggal duduk, ambil mesin ketik atau nyalakan komputer, lalu menulislah dan teruslah menulis. Memang kalau menulis hal-hal dangkal, tuliskan saja semau-maumu. Sekarang siapa yang tidak punya perangkat menulis dari laptop sampai gadget.

Tapi menulis yang ada pendalaman, yang ketika dibaca sekarang dan nanti memiliki sisi keabadiannya tersendiri, itu memerlukan jarak lebar antara tulisan dengan perangkat medianya. Yang dalam bahasa Paulo Coelho, itu harus seperti “mengandung” yang siap melahirkan ketika waktunya tiba dituangkan menjadi tulisan. Apalagi antara tulisan dengan pemuatan atau penerbitannya membutuhkan keringat, keikhlasan, dan doa-doa ibu bapak. Maka yang dibutuhkan dalam menulis itu ‘semangat’. Semangat yang bergemuruh di dada, yang kalau sesuatu itu tidak segera dituliskan akan menguap secepat embusan nafas.

Tapi benarkah itu hal yang perlu dituliskan dan layak dibaca orang-orang? Benarkah itu bukan picisan. Tapi mungkin seperti picisan, tapi bisakah kita mengambil sudut pandang berbeda dari hal-hal yang kata orang itu sederhana. Yang pasti kerja kreatif memerlukan kepekaan bagaimana menghayati kehidupan, merenungi masalah-masalah, mempertanyakan nilai-nilai mapan dan pergeserannya. Pokoknya kita terus saja bekerja keras memutar otak, mendayaguna akal budi, menghayati perasaan, dan mendengar hati nurani.

Assalamualaikum Beijing..

Assaamu’alaikum Beijing dari sisi cerita, ada masih mengambil ide yang sama seperti Ayat-Ayat Cinta, 99 Cahaya di Langit Eropa, Syahadat Cinta, dan yang mengisahkan ada konversi agama dari non-muslim menjadi muslim. Sebagai muslim aku meyakini kemuliaan Islam. Aku meyakini pula ada hal-hal baik dari setiap agama, dan juga sikap buruk dari penganut agama manapun saja. Tapi kalau film ini ditonton oleh orang non-muslim, misalnya oleh penganut agama Kong-Hu-Cu, apakah itu tidak melukai atau memunculkan perasaan sentimen? Sebagaimana kalau aku mendengar ada orang berpindah agama dari Islam menjadi Kristen atau agama lainnya, meskipun aku mengakui itu hak dia, adalah hak dia memutuskan pilihan hidupnya, tapi serasa ada sesuatu yang hilang dari keutuhan diriku. Entah, apakah itu karena pengajaran bahwa kita harus seragam, yang ketika melihat sesuatu yang berbeda seperti kita tidak rela?

Kita mesti sadar adanya gairah kristenisasi, islamisasi, hinduisasi, dan seterusnya, itulah realitas sosial dan kewajaran teologis-religius. Itulah resiko dan tanggung jawab normal keimanan sebagai kompetisi yang wajar antar-iman. Inilah dinamika yang perlu kita tanggapi secara cair, wajar, dan tanpa perlu ditutup-tutupi. Tapi yang kita perlukan antar pendakwah, misionaris, dan sebutan lainnya adalah aturan main yang seadil-adilnya dalam mekanisme saling kontrol, memastikan tidak adanya kecurangan, manipulatif, dan pembodohan.

Terakhir, kisah romantika dari Assalamualaikum Beijing, teradat dialog Chung Chung atau Zhong Wen saat berkata pada Asma, “Aku juga takut Asma.. yang kutakutkan bukan bagaimana aku hidup bersama kamu.. yang kutakutkan adalah apakah aku bisa jadi laki-laki yang membahagiakan kamu, mengantar kamu ke surga-Nya,, Cinta sempurna ada. Dan tidak butuh fisik sempurna, untuk memiliki kisah cinta sempurna.. Kamu harus percaya itu Asma, Ashima.. Mari kita hidup bersama. Selamanya…”[]

Assalamualaikum Beijing.


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori