Oleh: Kyan | 19/08/2015

Ornamen Dunia Bernama Andalusia

Maria Rosa Menocal, Surga di AndalusiaSatu lagi buku tentang Andalusia. Buku ini berjudul asli “The Ornament of The World..” (Ornamen Dunia; Hiasan Dunia..) yang penulisnya, Maria Rose Menocal, mendapat inspirasi judul bukunya dengan mengambil dari ungkapan seorang biarawati Gandersheim di Jerman kala itu, Hroswitha, kala diplomat kekhalifahan Al-Andalus berkunjung ke istana kerajaan Jerman, dan salah satu petinggi gereja bercerita tentang keindahan kota-kota di Andalusia, khususnya ibukota Cordova.

Menocal melalui buku ini, seperti berkeinginan hati atau katakanlah “berambisi” supaya era Andalusia Muslim yang dalam literatur sejarah dikategorikan ‘Abad Pertengahan’ dapat menjadi satu bab, dalam apa yang dinamakan: “Sejarah Eropa”. Karena kalau tidak, akan terjadi ketidaktersambungan sejarah mereka saat peralihan dari periode Yunani-Romawi menuju Eropa modern dan sampai saat ini.

Denyutnya memang aku rasakan. Misalnya ketika membaca Dunia Sophie, sang penulisnya, Jostein Gaarder, seperti memiliki mindset demikian. Ketika rangkaian kisah dalam novel filsafat ini memperkenalkan satu-persatu tokoh filsafat sejak dari Miletus dan Yunani sampai ke Prancis, Jerman, Inggris, Amerika.. yang diwakili St. Augustine, Thomas Aquinas, Rene Descartes, Marx dan para filsuf kenamaan lain, oleh Jostein Gaardner masa Abad Pertengahan hanya dibuat satu bab saja. Tidak menjelaskan terperinci apa gagasan-gagasan inti dari filsafat semisal Al-Farabi tentang teori emanasi, Ibnu Thufail tentang Hayy Ibn Yaqzan, atau Ibnu Rusyd sebagai guru kedua setelah Aristoteles beserta faylasuf-faylasuf lain yang muncul di abad pertengahan yang memang kebetulan banyak beragama Islam.

Barat mengatakan Abad Pertengahan sebagai abad kegelapan. Padahal menurut Menocal, kalau sejarah Andalusia Muslim dimasukkan menjadi salah satu fasenya, maka tidak ada yang disebut era kegelapan. Bahkan era terdahulu yang kadang disebut era keterbelakangan, justru Andalusia Muslim dapat menjadi “rolemodel” ketika bagaimana Muslim, Yahudi, dan Kristen dapat hidup berdampingan. Ketiga dari kaum ini bisa bahu-membahu guna memberi warni-warni keharmonian di kota-kota muslim semenanjung Iberia kala itu.

Padahal, kalau tidak ada era Andalusia Muslim, tidak ada yang kini dinamakan Eropa. Eropa tidak terwujud sepenuhnya kalau mengandalkan pada bekas wilayah kekaisaran Romawi saja. Alexandria, yang sebagai kota penting kekaisaran Romawi, justru telah menjadi kota penting muslim. Maka baginya Andalusia Muslim selayaknya menjadi “pintu depan” untuk menjadi apa dan bagaimana kebudayaan Eropa secara ideal.

Pun Menocal menganggap, keruntuhan Andalusia Muslim bukanlah karena pengaruh besar serangan kaum Kristen (Kerajaan Aragon, Leon-Castile, dan Portugal), tapi lebih besar karena tercerai-berai dan puritanisme kaum Berber (Muwahidun) yang perintisnya adalah Ibnu Tumart yang mengaku Mahdi Muntazar, seperti kepercayaan Ahmadiyah saat ini. Ia telah mengantarkan Andalusia Muslim tidak stabil dari sisi politik.

Terlebih lagi sikap muslim dan penulis muslim, dalam menyikapi kisah Andalusia, sering lebih untuk sekadar mengobati rasa ingin tahu yang bersifat nostalgia belaka, dengan pembahasannya yang meledak-ledak menyalahkan orang lain (Pasukan Salib). Tapi siapapun boleh menafsirkan sendiri-sendiri kisah yang “telah selesai”, tapi sangat berpengaruh besar dengan apa yang terjadi hari ini dan ke depan.

Benar kata Rendra terkait kita memandang sejarah. Kita bermaksud dan mengapa begitu penting mempelajari tata buku masa lalu, ialah untuk merekayasa tata buku masa depan yang di-idealkan. Karena apa yang terjadi dahulu, sering terjadi pula di kemudian. Dan kata filsuf, orang yang tak mengambil pelajaran dari perjalanan 1000 tahun, ia tak pernah belajar. Lalu sampai kapan aku diam dan terus memelihara kebodohan.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori