Oleh: Kyan | 04/10/2015

Lelaki dan Bahari, Lelaki Jomblo Seperti Santiago

Ernest Hemingway__Lelaki Tua dan LautSejak lama ingin membaca novel ini, “The Old Man and the Sea” (Lelaki Tua dan Laut) karya masterpiece Ernest Hemingway. Sebuah karya yang sering disebut-sebut sebagai karya masterpiece, dimana telah mengantarkan penulisnya meraih nobel sastra. Novel yang bercerita seorang lelaki tua yang menghayati kehidupannya di laut, yang mata pencahariannya sebagai nelayan, seperti bapak-bapak penduduk Nusantara.

Akupun bertanya kenapa karya sehebat ini, kisah tentang laut tidak lahir di Nusantara. Padahal berjuta-juta penduduknya terlahir atau dinasibkan jadi nelayan. Tidakkah pekerjaan yang dianggap “biasa-biasa” ini menjadi inspirasi?

Tapi mungkin justru karena sebagai inspirasi itu sendiri, adalah manusia-manusia Indonesia yang sudah sejiwa antara raga dengan perahu dan lautnya, karena ketika seseorang menuliskan sesuatu, seringkali kenapa itu patut dituliskan dan dikenangkan, karena peristiwa demi peristiwa yang dialaminya itu memang langka, sangat langka. Tapi karena bagi penduduk Nusantara itu hal biasa, sehingga tak menggugah untuk dikenangkan dalam sebuah tulisan.

Atau seperti kata Pram, kita sering tak punya kesadaran akan dokumentasi. Menganggap karena hal itu merupakan yang biasa, karena setiap hari selalu diulangi, katanya lantas kenapa harus menuliskan kebosanan? Dari waktu ke waktu tak perlu membawa yang tak perlu. Seperti Santiago yang pulang tak membawa apa-apa, kecuali rahang sisa-sisa kerangka ikan Marlin yang telah dimakan Hiu ganas, seganas rintangan yang telah membuat hidupku, hidupmu, hidup semua, tak menyisakan apa-apa sebagai bekal pulang. Semua telah diambil oleh keganasan yang menghadang.

Tetapi hidup, seperti juga laut, sering kita metaforkan bahwa laut adalah samudera kehidupan. Sementara aku, kau, semua adalah bahtera yang menjalani ini semua. Tetapi lelaki yang sendiri, seperti Santiago dalam “The Old Man and the Sea”, ia sendirian mengarungi lautan. Sampai selama 84 hari di laut lepas, tapi tak kunjung menangkap satu pun ikan, pasti memunculkan kekesalan dan pertanyaan: kenapa semua ini terjadi.

Seperti juga lautan lepas, begitupun lelaki yang sendiri. Ia beriak-riak sendiri tanpa ombak yang terempas angin dan badai, lalu bagaimana ia mencipta gelombang, untuk mencuri perhatian satu saja perempuan yang ia harapkan. Saat raganya kian renta, seseorang seharusnya tak sendirian, seperti yang dipikir Santiago, “aku berharap aku bersama anak lelaki itu,” gumamnya berharap ditemani Mandolin, si anak kecil yang sering menengok ke gubuknya, ia yang peduli, yang pernah diajak bersama menangkap ikan sebelumnya.

“Betapa menyenangkan bila ada seseorang yang bisa diajak bicara, dibandingkan berbicara dengan dirinya sendiri dan laut,” lenguh Santiago dalam renungan di kala sendirian itu. Santiago bertanya kenapa dirinya menjadi nelayan. Ia yang berulang kali terjatuh dan untuk dapat berdiri kokoh, ia berpikir tentang keberuntungan. “Aku akan membeli keberuntungan jika ada yang menjualnya. Aku akan mengambilnya dalam bentuk apapun. Bakal kubayar berapa pun harga yang mereka minta.”

Ia pun berkata, “Mungkin aku seharusnya tidak menjadi nelayan. Namun setelah dipikirkan lagi, direnungkan kembali, “Tapi mungkin inilah alasan kenapa aku dilahirkan.. Aku dilahirkan untuk menjadi nelayan, seperti ikan itu terlahir untuk menjadi ikan.” Pun yang sendiri mengarungi sepi, di saat merasa sendiri, berharap hadir di sisinya seorang perempuan yang begitu sayang. Setiap kali kelelahan dan kebosanan menerpa, berkali-kali ia ingat si anak kecil itu. Tapi memang kenyataan aku tidak bersama anak itu, tapi tak ada perempuan itu. “Aku hanya bersama diriku sendiri,” lirih Santiago dan yang jomblo.

“Aku seharusnya tak memikirkan omong kosong ini.. Aku lebih baik bekerja kembali. Lebih baik aku menunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh seorang lelaki dan sejauh mana aku bisa bertahan. Sekarang aku sedang membuktikan itu. Karena setiap waktu adalah waktu yang baru. Tidak usah memikirkan masa lalu ketika sedang melakukan sesuatu.

Katakan sekarang tidak ada waktu untuk memikirkan yang tidak aku miliki. Pikirkan sekarang apa yang bisa kulakukan dengan apa yang ada, meski sudah di penghujung waktu. Mungkin aku mengharapkan terlalu banyak hal, tapi itulah yang kuinginkan saat ini. Dan luka semestinya bukanlah masalah bagi seorang lelaki.

Untuk melupakan sejenak dari masalah yang utama, yang menghimpit di dada, cobalah pada masalah pinggiran, cobalah untuk bersenang-senang sebentar. Santiago pun kangen pada radio untuk dapat mendengar pertandingan bisbol, Santiago membayangkan ia berada dalam sebuah pesawat terbang, ingin mengetahui bagaimana rasanya melihat laut dari ketinggian, atau beberapa meter saja dari permukaan laut melihat ikan-ikan yang berseliweran; dan yang jomblo membayangkan dapat menatap mata binar seorang perempuan dari dekat, atau memeluknya untuk sedikit menghangatkan tubuh dan jiwanya yang gersang, yang bertahun-tahun hanya ditemani bayang-bayang.

Tapi raga yang lelah dan jiwa yang letih, istirahatlah!.. Mencobalah tidur meski tidurmu seperti mereka yang tertidur di saat seharusnya tidak tidur. Tapi bukankah bulan dan matahari, bahkan laut pun kadang-kadang tidur pada hari-hari tertentu, atau suatu waktu, ketika tak ada ombak, tanpa riak di permukaan laut yang datar. Sekarang bebaskan kemuan yang tak kesampaikan itu; berhentilah berniat menaklukan perempuan, karena manusia tidak diciptakan untuk ditaklukan. Mencintai bukan soal takluk-menaklukkan atau kuasa-menguasai. Meski karena urusan cinta, banyak manusia dihancurkan. Memang, manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa ditaklukkan.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori