Oleh: Kyan | 07/10/2015

Istriku Seribu: Dongeng Pengantar Poligami

Emha Ainun Nadjib, Istriku SeribuAr-Rahman dan Ar-Rahim, inilah sejatinya ayat poligami. Ayat sebagai asma’ yang sering kita sebut-sebut dalam kantuk dan sadar, kita pergunjingkan atau bela habis-habisan bahwa poligami itu dan ini.. Sesuai seleranya sendiri-sendiri, yang satu mengatakan, “saya berpoligami karena menjalankan syariat Islam”, lalu dijawab oleh ideologi berseberangan, “bagaimana mungkin orang memeluk suatu agama yang membolehkan poligami?”

Lalu yang satu lagi omong, “berpoligami bagus toh, daripada selingkuh dan melacur?” lainnya bilang “poligami itu melangar hak asasi kaum perempuan.” Tetapi di sebelah sana bercuit “hak asasi wanita memberinya hak untuk menjadi istri kedua, istri simpanan, sampai pelacur pun tak apa, daripada jadi perawan tua”. Lalu di seberangnya menegaskan “kalau lelaki punya hak berpoligami, wanita juga punya hak dong untuk berpoliandri.”

Tak henti-henti poligami jadi ayat komoditi, dijadikan bumbu dan pelaku utama atau sampingan cerita obrolan, diskusi, film, buku, novel, yang tak habis-habisnya mengangkut tema poligami, membicarakan poligami, untuk sekedar menyenangkan atau memberangkan sebuah kelompok, mazhab, aliran, golongan, perkumpulan yang mengamalkan maupun yang menentang poligami. Katanya cinta mendua itu sah-sah saja, sebagaimana slogannya “selingkuh itu indah”.

Meski hanya mengulang-ulang, tetapi berhasillah ia menjadikan Islam sebagai bahan olok-olokan. Seperti Islam saking sebagai “way of life”-nya untuk apapun saja, maka untuk memenuhi hasrat selangkangan pun harus dengan menjual atas nama agama. Tetapi mungkin karena manusia-lah yang diberi mandat oleh Allah sebagai makhluk paling cerdas, paling cemerlang, paling brilian, dan penuh cakrawala imajinasi untuk menembus segala batas akal pikiran dan rasa kemanusiaan.

Tapi untuk soal poligami seolah membiarkannya tak tuntas dan menyeluruh. Setiap pembicaraan sering tak sampai di akar masalahnya, di batang filosofinya, atau di ruang substansinya tentang bagaimana menemukan titik temu antara yang setuju, menolak, atau abstein dari perkara yang apakah sebenarnya masalah remeh tapi dianggapnya penting, atau justru ini sangat penting tapi dikajinya cuma selewat saja.

Cerita hidup Rasulullah sendiri, menikah dengan Khadijah (istri Ar-Rahim: dialah cinta yang dalam, cinta ke dalam, cinta vertikal, cinta personal). Inilah sesungguhnya persuami-istrian secara Ar-Rahim, Khadijah sebagai “istri Ar-Rahim”. Sementara hanya bersama Khadijah, hanya dengan Khadijah, beliau berdua memberi kontribusi-kontribusi sangat besar secara “Ar-Rahman”: pada ummat manusia yang harus diselamatkan, pada bangsa Arab yang harus disatukan. Inilah persuami-istrian sosial (istri Ar-Rahman: cinta meluas, horizontal, keluar).

Setelah Khadijah meninggal, gantinya, Aisyah sebagai istri Ar-Rahim. Sementara istri-istri lain adalah istri Ar-Rahman, sebagai bentuk persekutuan, diplomasi perhubungan, dan pertimbangan-pertimbangan lain yang sosial: banyaknya janda-janda peperangan, sejumlah wanita teraniaya, jumlah tak seimbang antara lelaki dan perempuan, atau ketentuan siapa boleh dan tidak boleh dinikahi.

Tetapi hari ini, benarkah lebih banyak perempuan dibandingkan laki-laki? Atau benarkah Islam secara tegas menetapkan hanya boleh sampai empat, atau melegitimasi harus menikahi empat, bagi lelaki kaya, karena kalau tidak itu sebuah dosa. Karena membikin terkatung-katung nasib perawan tua. Seolah sudah punah dan dipunahkan lelaki jomblo, yang kenapa belum kunjung menikah, hanya karena untuk mendekati wanita saja harus punya modal apalagi menikah harus berongkos besar.

Seolah ayat “nikahilah dua, tiga, empat..” sebagai sesuatu yang final, bukan merupakan sebuah tahapan juga, bahwa pada zaman sebelum Rasul, wanita ditempatkan sebagai barang dagangan, aksesori berlian, budak, dan kalau lelaki waktu itu kaya, ia bisa mengawini ratusan wanita.

Begitupun sebaliknya, tak sedikit lelaki mengawini wanita bukan cuma mengeksploitasi seksnya, tapi juga moroton harta bendanya. Maka dalam keadaan itu, Allah melakukan revolusi: dari fakta ratusan istri diradikalkan menjadi hanya paling banyak empat istri, dengan peringatan keras jangan mengeksploitasi mereka dalam hal apapun. Seluruh dunia abad 21 beranggapan seperti itu, stagnan dalam justifikasi bahwa Islam membolehkan lelaki kawin empat.

Namun, ketika hari ini suara-suara perempuan begitu nyaring karena sejak dulu diredam, mereka dengan lantang menyuarakan apa benar bahwa poligami itu surga, surga yang tak dirindukan.. Tapi bagaimana kalau aku terus sendirian, lebih baik istri kedua dan tak apalah jadi istri simpanan. Sungguh Maha Benar Tuhan mengajak kita berdiskusi, “Engkau lebih tahu urusanmu”, bahwa dengan kematangan akal, dengan rasa qalbu kemanusiaan—bukan dengan kesombongan “aku bisa kok berbuat adil.. Aku ingin memberi contoh poligami yang baik”, sementara banyak pemuda yang bermuram durja karena tak mampu menikah. Karena tak dimampukan oleh situasi sosialnya, oleh pemimpinnya yang doyan kawin, oleh ustadz dan kyai-nya membiarkan pemuda-pemuda binaannya ditinggalkan sendirian saja. Sendirian karena tak becus mengurusi diri sendiri dan memenuhi hak normal pribadi.

Terakhir, aku setuju dengan Syaikh Ibnu Utsaimin, ulama Wahabi yang berfatwa ketika ada seseorang yang sudah menikah, lalu ingin berpoligami. Seseorang itu menikahi seorang gadis yang katanya tujuan untuk menjaga kehormatan sang gadis. Padahal..” kata Syaikh Ibnu Ustaimin. “Menikahkan lajang juga sunnah. Bahkan lebih dari itu, menikahkan pemuda lebih besar pahalanya karena meraup 2 pahala sekaligus dibanding poligami.

Sang Syaikh menasihati, “Berikan hartamu kepada seorang pemuda yang tidak mampu. Dan biarkan dia menikahi gadis tersebut maka engkau akan mendapatkan 2 pahala”.[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori