Oleh: Kyan | 25/11/2015

Orang Maiyah

Emha Ainun Nadjib, __Orang Maiyah“Orang Maiyah adalah orang yang hidup dan menghidupi kehidupan dengan tuntas menjalaninya, merenunginya, menghayatinya, menangisinya, dan menertawakannya.. Orang Maiyah adalah orang yang tidak pusing berkepanjangan, tidak sedih secara inefisien, tidak menderita secara bodoh, tidak berantem tanpa ilmu..

Orang Maiyah adalah orang yang belajar kepada siapa dan apa saja, kepada yang hebat dan yang tak hebat, kepada kepandaian maupun kepada kebodohan, kepada yang disukai dan tak disukai.. Orang Maiyah adalah orang yang mengerti bahwa kedewasaan itu lebih besar dibanding dunia, mengerti bahwa manusia lebih kuat dibanding kegembiraan dan kesedihan itu sendiri, sehingga tidak memberi ruang dan waktu kepada kecengengan ketika mengalami gembira ataupun sedih.

Orang Maiyah adalah yang menyadari bahwa kondisi kemiskinan tidak membuatnya menjadi penyedih, pemarah, penuduh, penuding, dan pendendam atas orang-orang lain yang tidak miskin. Orang Maiyah menyadari bahwa kekayaan dan kemiskinan sama baiknya sepanjang manusia sanggup menggunakan akal dan nuraninya untuk memperlakukan kekayaan sebagai sumber rasa syukur, dan kemiskinan sebagai pintu cahaya perangkat ilmu hikmah.

Demikian hidupnya tidak tergantung kekayaan atau kemiskinan, tetapi tergantung pada proses pembelajaran menggunakan akal dan nuraninya untuk menyutradarai hidup menuju yang pantas dituju.. karena orang Maiyah adalah filsuf yang bukan karena hebat atau soal pinter. Tapi filsuf karena orang Maiyah sangat serius menjalani hidupnya. Serius dalam arti ia bertanggung jawab secara nilai terhadap apa saja yang ia alami, terhadap setiap kata yang ia ucapkan, terhadap setiap keputusan yang ia ambil, sehingga mau tidak mau ia berfilsafat atas setiap zarah dari unsur kehidupan yang sedang dialami atau dikelolanya.

Orang Maiyah adalah yang menulis tanpa pretensi untuk menjadi penulis. Orang Maiyah adalah bukan pengarang, apalagi yang pekerjaannya adalah mengarang-ngarang, mereka-reka, sementara begitu berlimpah kekayaan hidup manusia, masyarakat, dan bangsa yang tidak ditoleh dan diperhatikan oleh mereka untuk menjadi bahan penulisan. Menulis bagi orang Maiyah adalah sama sekali tak ada hubungannya dengan posisi eksistensialisme, gengsi kepenulisan, juga tidak ada cita-cita profesional untuk menjadi penulis.

Orang Maiyah adalah orang yang membaca dirinya berulang kali, ribuan kali..”[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori