Oleh: Kyan | 05/12/2015

The Reader: Buta Huruf

The Reader

Sama halnya dengan AIDS, maka kenapa harus diperingati ialah untuk momentum kampanye akan bahayanya bagi keadaban manusia. Saya ingat film The Reader. Film yang bercerita tentang perempuan buta huruf, yang karena buta huruf, telah menjerumuskan pada pengakuan bersalah di depan pengadilan. Meski sebenarnya tidak semata-mata karena kesalahan dirinya, tapi karena “malu” mengakui bahwa ia tak bisa membaca dan menulis.

Diperankan Kate Winslet yang berani telanjang bulat, lebih berani dari adegannya di Titanic (1997) yang membawanya meraih The Best Actress. Tapi kemudian sempat katanya merasa menyesal karena sudah beradegan telanjang, dan nampak sekali layu itu kemolekan tubuh perempuan dalam rentang 11 tahun—sensual tubuh Kate Winslet di film Titanic dengan The Reader (2008) berbeda gurat-gurat kesintalannya.

Tapi tidak berbeda adalah nasib manusia yang menyembunyikan masa lalunya. Balas budi yang tak sempat ia tunaikan, meski itu ada peluang di satu kesempatan, tapi urung dilakukannya karena suatu hal. (Mungkin) karena tidak ingin kisah pribadinya terbongkar yang dapat mencemari nama baiknya sebagai kaum cendekia, karena ini menyangkut soal moral calon advokat hukum.

Pada mulanya memang cinta terlarang antara Hana Schmitz, perempuan 30-an dengan lelaki remaja 16-an, Michael Berg, di sebuah era Nazi di Jerman Barat 1958. Suatu ketika Micheal remaja yang calon pengacara itu kehujanan sepulang sekolah. Di sebuah gang yang ternyata menuju tempat tinggal Hana Schmitz, tiba-tiba Michael muntah karena demam. Hana Schmitz yang bekerja sebagai pemeriksa karcis bus melihat dan menolongnya.

Sejak pertolongan itu, pun Michael Berg terpikat kecantikan Hana Schmitz. Mulailah terjalin hubungan gelap. Dari beberapa kali kunjungan dan jalan-jalan bersama, Michael remaja menyadari bahwa “pacar dewasa”-nya tidak bisa membaca, dan apalagi menulis. Hanna yang seketika tertegun saat dirinya berkata “malas membaca”, Hanna sangat ingin tahu tentang bahasa yang dipelajari Michael di sekolahnya.

Hana pun lebih senang dibacakan saja oleh Michael buku-buku cerita mulai dari “Odyssey” karya Homer, “Emilia Galotti” karya Ephrain Lessing, “The Lady with the Little Dog” karya Anton Chekov—buku yang sangat disukai Hanna, “War and Peace” karya Leo Tolstoy, sampai buku-buku cabul.

Saat dibacakan buku-buku cabul, “Dari mana kau dapatkan buku itu?” tanya Hanna. “Kau seharusnya malu,” tegasnya, bak seorang ibu pada anaknya. Tapi “teruskan…” Ia yang merasa beruntung punya teman dekat, teman yang dapat menutupi kekurangannya. Ia yang tak diberi peluang untuk belajar, padahal tertarik pada bahasa. Entah apakah film ini bermaksud untuk memperlihatkan kebobrokan era Nazi yang tak mampu memeratakan kemampuan dasar manusia, yaitu baca-tulis?

The Reader..

Tapi film ini diangkat dari bukunya Bernhard Schlink berjudul “Der Vorseler”, yang bercerita tentang kepiluan seorang perempuan bernama Hanna Schmitz kelahiran 21 Oktober 1922, sesudah hidupnya sendirian, tidak punya keluarga, dan dipenjara seumur hidup, serta baru di usia 63 tahun mulai belajar membaca dan menulis. Berkat balas budi dan kontak satu-satunya, hanya seorang yang menghubunginya setelah 20 tahun di penjara atas 300 kasus pembunuhan Yahudi dalam tragedi Holoqoust, ialah Michael Berg yang telah jadi pengacara, pacarnya dahulu.

Saat sidang pengadilan Hanna 1966, Michael sudah jadi mahasiswa hukum. Saat kehadiran Michael bersama dosen dan rekannya mahasiswa hukum lainnya pada sebuah sidang pengadilan, ternyata yang jadi terdakwa ialah orang yang dikenalnya. Tapi ada yang menahan dirinya untuk memberikan kesaksian dan pembelaan. Entah karena alasan moral yang menyangkut dirinya, tapi pasti bukan karena kata-kata Hanna pada Michael, “Kau tidak cukup penting untuk bisa membuatku marah” dalam pertengkaran mereka sebelumnya.

Tapi perpisahan mereka, karena kisah gelap mereka memang harus berakhir. Sebuah hubungan yang “tak wajar”, yang terpaut jauh usianya di antara mereka—dan ini sering jadi keliaran imajinasi para penulis Eropa, menyebut di antaranya “Anne Carenina” dari Leo Tolstoy dan “Lolita” dari Vladimir Nabokov—dengan lirih Hanna berkata pada Michael, “Kau harus kembali pada teman-temanmu”, untuk kembali pada keceriaan sebagai lelaki yang masih remaja.

Meski seorang mahasiswa hukum, setelah tahu Hanna sedang jadi terdakwa, tapi Michael tak mampu berbuat apa-apa. Tak kuasa sekedar bertemu muka, bertemu untuk menguatkan moralnya terdakwa. Bukan enggan, tapi ada sesuatu yang menahan, dan apalagi memberi kesaksian untuk terdakwa yang tak bisa baca-tulis yang dapat meringankan hukumnya.

Hubungan Hanna-Michael, sejak Hanna dipromosikan dan tak lagi jadi pemeriksa karcis bus, membuat mereka tak bisa bertemu lagi. Hanna mendapat promosi jadi bagian administrasi dan pindah alamat. Tapi bagaimana bisa ia bekerja di bagian admin, sedangkan ia tak mampu membaca dan menulis. Mungkin itu yang membawanya akhirnya ia jadi kepala sipir penjara Holoqoust, yang menyeret dirinya, enam perempuan jadi terdakwa di pengadilan.

Hanna yang tanpa pembela dan Michael yang diam—karena lebih memuliakan moral—saat terdakwa disodorkan kertas untuk menulis, untuk hakim mengetahui bagaimana bentuk tulisannya untuk disamakan dengan tulisan pada surat dokumen yang membuktikan tuduhan, apakah benar dokumen tersebut ditulis dan ditanda tangani terdakwa.

Terdakwa hanya terpaku. Dipikirnya kalau ia mengakui bahwa ia tidak bisa membaca dan menulis, para hadirin akan menertawakannya. Saksi satu-satunya pun bisu. Di pengadilan ia hanya mengakui saja bahwa sudah tahu buku yang ditulis Hana Mather tentang kesaksian orang yang selamat dari kamp konsentrasi. Ia jawab “ya ya ya” saja setiap kali ditanya sang hakim.

The-Reader-Promotional-Stills-kate-winslet

Berlalu kemudian, sebagai “Pernyataan Rasa Bersalah Jerman”, rasa bersalah Michael yang terus menghantui dirinya, sampai rumah tangganya pun berantakan, yang bisa ia lakukan ialah mengirimkan pada Hanna kaset-kaset berisi rekaman buku-buku cerita yang telah dibacakan Michael, seperti yang dilakukan dulu antara Michael dan Hanna. Hanna yang memang amat tertarik pada bahasa, berdasarkan kesaksian, ketika masih jadi sipir penjara pun, sering menyuruh gadis-gadis untuk dibacakan buku-buku untuknya.

Sampai setelah 20 tahun di penjara, ia mengoleksi puluhan kaset berisi rekaman buku-buku yang dibacakan Michael, sampai ia dapat belajar membaca, belajar menulis, sampai mengoleksi buku-buku, sampai akhirnya ia dibebas. Tapi kemana ia melenggang keluar, mencari tujuan selepas dari penjara.

Kepala penjara mengetahui kontak Hanna Schmitz, hanya satu-satunya adalah Michael, yang dengan lirih berkata padanya, “Anda tidak bisa membayangkan betapa dunia luar akan tampak mengerikan baginya”. Michael yang ketika pertama bertemu kembali setelah puluhan tahun dalam kisah gelapnya, tapi Micahel sudah pernah melihatnya lagi dari jauh saat di pengadilan, Hanna yang teramat ceria sudah bertemu kekasih gelapnya, berkata pada Michael, “Kau sudah besar, Nak.. Apa kau sudah menikah?”[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori