Oleh: Kyan | 08/12/2015

Islam dan Sosialisme

Tjokroaminoto - Islam Sosialisme

Tjokroaminoto – Islam Sosialisme

Hari ini adalah hari pesta demokrasi Indonesia. Berjuta-juta rakyat Indonesia antri di tempat pencontrengan suara untuk memilih kandidat presiden dan wapres pilihannya masing-masing. Sementara aku duduk saja membaca buku yang juga sama mengenai bagaimanakah tanah airku menjadi lebih baik.

Buku karya monumental HOS Tjokroaminoto, “Islam dan Sosialisme” yang disinggung oleh seorang kawan, buku yang tidak link dan relevan di hari ini. Ia bilang, pekerjaan hari ini, masalah saat ini saja belum tertangani, ini malah baca buku yang tidak nyambung.

Kujawab, ini untuk tamasya intelektual, supaya mempunyai pandangan yang mendasar bagaimana hidup menjadi lebih baik. Aku yang sekarang penuh dengan ketakberdayaan adalah tanggung jawabku untuk merubahnya. Bukan di pundak orang siapapun. Maka aku harus mencari jawaban sendiri di manakah dan apakah biang terjadinya kesalahan pandangan ini.

Maka akupun mencari caraku sendiri bagaimana mengubah nasib diriku sendiri dengan berawal dari cara berpikirku (paradigma). Apapun dan bagaimanapun yang kulakukan dan kujalani harus adil sejak dalam pikiran, mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Toer. Mengenai nasibku hari ini pun tidak semata-mata kesalahanku, tapi lingkunganku, bangsaku, negaraku, memberi andil yang membawa kesalahan dalam pandangan manusia sekarang ini, yang memengaruhiku.

Buku ‘Islam dan sosialisme’ sangat dan masih relevan dengan keadaan sekarang. Meskipun buku tersebut ditulis pada zaman penjajahan Belanda, masa pergerakan nasional, masa Syarikat Islam sedang berkembang, keadaan bangsa ini tak kunjung berubah secara substansi. Cita-cita yang ditulis oleh penulis sampai saat ini masih juga belum terwujudkan pada bangsa ini. Kita masih terjajah oleh bangsa asing dan juga ego diri kita sendiri.

Dalam bukunya dijelaskan bahwa sosialisme sejati adalah yang bersandar pada agama. Mungkin sama dengan apa yang diungkap Yudi Crisnandi di acara The Candidate. Ia mengusung kata “sosialisme religius” dalam membangun bangsa ini.

Penulis menjelaskan sosialisme sejati adalah sosialisme Islam. Rasul dan Khulafaur Rasyidin pemimpin Republik Islam adalah batu bata pertama sosialisme Islam. Sosialisme adalah pengembangan dari demokrasi. Untuk menjadi sosialisme harus melalui dulu demokrasi. Sosialisme akan terwujud jika masyarakatnya, jika semua warga negaranya sudah mencapai taraf pendidikan tinggi. Ketika nilai-nilai etika Islam sudah menjadi karakter masyarakat secara keseluruhan, maka sosialisme akan terwujud.

Kenapa zaman Rasul, Khulafa Rasyidin, Umar ibn Abdul Aziz, dan masa khalifah-khalifah yang adil bisa terwujud semua rakyat adalah muzakki. Karena hal pertama yang dibangun adalah pembangunan etika moral rakyatnya adalah kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan. Tiga hal ini ditanamkan sejak awal Rasul menerima wahyu. Tiga hal ini haruslah yang diajarkan dalam membentuk karakter putra-puteri bangsa ini. Maka sangat wajar dalam waktu relatif pendek bangunan masyarakat Islam yang sejahtera dapat terwujud sempurna.

Aku ketika bekerja, bukanlah bekerja untuk diriku sendiri, bukan untuk memenuhi egoku sendiri, nafsuku sendiri. Tapi aku bekerja supaya aku mendapat bekal dalam memajukan masyarakat. Jika mendapat uang berlebih, sisa dari memenuhi kesederhanaan kebutuhan pangan, sandang, papan selebihnya digunakan untuk membangun kemajuan bangsa ini. Aku akan mendirikan lembaga pendidikan masyarakat.

Dalam sosialisme Islam harus membuat penganutnya memiliki karakter kedermawanan Islam dan persaudaraan Islam (share and care). Sosialisme adalah lawan dari kapitalisme. Kapitalisme adalah menarik kekayaan dengan mendzalimi orang, dengan menambahkan bunga, misalnya, dan itu bentuk kerjasama yang tidak adil.

Di zaman buku ini ditulis, imperialisme dikatakan demi untuk sosialisme, yakni semata-mata untuk kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan bangsa-bangsa dunia, demi mengadabkan bangsa-bangsa terbelakang, padahal itu hanya tunggangan, padahal itu selubung bagi penindasan kolonial, dan itulah ciri kenisbian universalisme Barat.

Sesungguhnya imperialisme adalah tunggangan kapitalisme. Ia menjelajahi dan menjajah bangsa-bangsa lain adalah demi mengeruk kekayaannya. Barat memiliki “perkakas” sementara tanah airnya penuh kekurangan. Sementara Timur, khususnya tanah airku yang kekayaannya berlimpah, sementara tak memiliki “perkakas” dalam optimalisasi kekayaan demi kesejahteraan rakyatnya. Tapi untuk menciptakan perkakas harus dengan ilmu.[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori