Oleh: Kyan | 09/12/2015

Baghban

Sebuah dongeng modern tentang Malin Kundang dari Hindustan. Ketika ayah ibarat Tuhan dan ibu bagai malaikat bagi anak-anaknya—kata-kata manis dari sebuah era “tradisional”—lalu bagaimana anak sesudah dewasa, saat zaman menelikungnya tanpa berkesudahan. Hidup yang serba industrialis, manusia hanya sekadar fungsi-fungsi di sebuah era yang disebut “modern”.

Baghban

Mahalnya biaya hidup tidak hanya di kota. Sekarang yang di desa harus serba mengencangkan ikat pinggang dan tak lagi menanam, tak lagi jadi petani. Lalu bagaimana pemberian anak untuk peduli pada mimpi dan harap orang tuanya. Bukan saja yang terkait materi, tapi waktu luang si anak untuk orang tuanya—karena biaya hidup yang mahal itu—demi penghormatan selayaknya pada orang tua, kini seakan-akan terdegradasi seiring kian kukuhnya demokrasi dan kebebasan berekspresi, atau HAM, bahwa “surga di telapak kaki orang tua” pun ditafsir ulang: “bukan anak harus patuh pada orang tuanya” tapi “anak meraih surga atau merasakan neraka, sangat tergantung orang tua bagaimana mengasuhnya”.

Tapi Baghban, yang diperankan Amitabh Bachchan dan peran manisnya Salman Khan, film dengan sutradara Ravi Chopra, merasa perlu mengingatkan kembali tema yang “agung”, dan “usang” sebenarnya. Tapi tak lekang. Meski zaman terus berubah.

Sebuah film yang bercerita tentang orang tua yang diabaikan anak-anaknya. “Anak-anak yang tak mencintai orang tuanya, yang tak memberi tempat berlindung orang tuanya, yang tak menghormati orang tuanya.” Begitu yang disampaikan peran utama sebagai ayah di epilog film ini. Tapi ada satu kiasan menarik, ketika hubungan keluarga antara yang tradisional dan modern: ibarat “menanam pohon” atau “menaiki tangga”.

Sebuah pohon yang dulu kecil, atau dulu sebuah keluarga kecil yang kini menjadi pohon besar, dulu ditanami dengan sungguh-sungguh ijab-kabul, disiangi kasih sayang, diberi pupuk pengorbanan dan kerelaan. Sehingga kini berolah jadi kayu, berubah jadi tangga, untuk sukses anak-anaknya, dan untuk sukses anak-anak dari anak-anaknya. Anak-anak yang perlu kecukupan uang, orang tua sering berkali-kali banting tulang, banting setir demi mimpi dan harap dan bahagia atau senyum di wajah anak-anaknya.

Memang sewajarnya itulah aturan hidup. Uang dan harta kekayaan yang dengan jerih payah dikumpulkan orang tua, pada akhirnya habis untuk anak-anaknya. Jika investasi pengertian umum adalah pada tabungan, deposito, reksadana, saham, properti, tapi ada seorang ayah yang tujuan hidupnya hanya ingin kebahagiaan anak-anaknya. Karena ia merasa kekuatannya adalah senyum di wajah anak-anaknya. Ia sebagai cahaya bagi hidupnya. Karena demi kebahagiaan anak-anaknya, sampai tak sempat menyisihkan tabungan untuk masa pensiun dirinya. Ia hanya bergiat dengan kerja dan kerja yang sampai hari pertama di masa pensiun dirinya, di pagi hari buta layaknya hari-hari sebelumnya, sudah meminta sang istri untuk dipakaikan dasi.

Bahkan ada seorang teman berkata, “Saatnya kau memulai bisnis sendiri” saat menjelang pensiun sang ayah. Tapi dijawabnya, “Aku sudah terbiasa punya atasan” karena bekerja baginya adalah totalitas. Ia yang romantis, sering berkata-kata pada sang istri, “Kenapa aku pergi, kenapa aku berlama-lama pergi?” dan dijawabnya pada istri, “supaya ketika aku pulang aku dapat melihat senyummu yang menawan.”

Sang istri berkilah saat mengantarnya sampai halaman rumah, “cepatlah pulang nanti, suamiku!” Lalu dijawab sang suami, “bila kau menghendaki, di pagi ini aku tak akan pergi”. –hemh.. Di kala pulang menyambut sang istri, “kau ini bagaikan penyihir,” seru sang suami. “Sebelum kuketuk pintu, kau sudah lebih dulu membukanya.

Lalu dijawab oleh sang istri, “Langkahmu sudah terdengar di hatiku, suamiku. Hatiku berdetak setelah kau hadir di hidupku. Hidup yang lama mati karena menanti. “Lihat, cintamu menyihirku. Baru satu menit saja melihatmu, hatiku berdetak lagi.” Mereka berdua mengayuh biduk rumah tangga membesarkan keempat anaknya.

Seorang lelaki bersama istri menanam pohon keluarga. Berharap di masa tuanya nanti dapat bernaung di bawah rimbunnya—kebaikan-kebaikan yang ditebarkan anak-anak dan cucu-cucunya. Harapannya yang terakhir di masa pensiun, sang ayah dapat berdedikasi lebih inten untuk bahagia sempurna anak-anaknya, dan cucu-cucunya. Berharap sesudah pensiun dapat tinggal di salah satu anaknya, karena selama ini tempat tinggalnya hanya sewa.

Namun, saat mengatakan harap itu pada anak-anaknya, mereka merasa keberatan dengan keinginan “aneh” orang tuanya. Mereka beralasan bahwa hidup yang serba sulit ini akan ada tambahan biaya jikalau bertambah satu anggota yang tinggal di rumahnya. Tapi anak-anaknya berembuk, dan akhirnya membikin “persekongkolan”. Sang ibu tinggal di anaknya yang pertama, dan sang ayah tinggal di anaknya yang kedua.

Mereka berharap dengan memisahkannya, supaya keduanya tak betah dan akhirnya tak lagi ingin tinggal di rumah anak-anaknya. Karena anak-anaknya tahu selama 40 tahun suami-istri yang jadi ayah-ibunya itu, tidak akan tahan kalau dipisahkan. “Setelah 40 tahun disatukan, sekarang kita dipisahkan?” marah sang ayah pada anak-anaknya. Tapi seru sang istri menenangkan suaminya, “kita harus pandai menjaga perasaan dan keputusan anak-anak kita”.

Lalu keduanya pun mengikuti maunya anak-anak. Memperhatikan secara lebih dekat kesibukan anak-anaknya di sebuah era yang tak begitu dikenal ayah-ibunya sewaktu muda. Era yang disebut “modern”, melihat mereka serba tergesa-gesa, sampai ada cucu yang tak kenal neneknya, ada anak yang terlalu diberi kebebasan menentukan jalan hidupnya. “Kenapa hidup kita begini..,” keluh sang ayah merenungkan keputusan anak-anaknya.

Baghban..

Tapi kebaikan yang kita tanam, selalu ada yang tumbuh berbeda, meski kita menganggapnya mungkin sambil lalu menebarkannya; bukan yang pokok kita tumbuhkan dengan sengaja, dengan membesarkan anak-anak kandungnya sendiri dengan sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya, setulus-tulusnya.

Ialah anak lain—diperankan Salman Khan, ia yang dipungut dari jalanan, lalu dibawanya pulang. Si anak pungut dibesarkan dan dicukupkan pendidikannya. Anak pungut ini merasa sangat berarti ketika dapat bersekolah, sampai ketika memilih pasangan pun harus benar-benar sesuai restu orang tua pungutnya. Saking anak setia pada ayah-ibu pungutnya, ia rela tak jadi menikah kalau kekasihnya tidak disukai mereka. Dan kata-kata meneduhkan kekasihnya, “kita menikah atau tidak, aku selamanya milikmu”. –Masa sih begitu.

Dulu si anak pungut di masa kanaknya merasa bagaikan batu. Batu yang diam, batu yang ditendang, batu yang tak dihiraukan di jalanan. Tapi datanglah seseorang yang bagaikan dewa, ia dianggapnya Tuhan yang telah mengulurkan tangan. Ia yang membersihkan debu di bajunya yang dekil, mengusap kepalanya yang tak pernah merasakan usapan dan kecupan tanda kasih dan sayang selama hidupnya. “Dunia harus menciptakan orang seperti ayahku,” harunya dalam sambutan dari pihak anak.

Saat launching buku “Baghban”, bukan anak darah dagingnya yang diberi kesempatan untuk memberi sambutan saat peluncuran buku yang ditulis ayahnya. Buku yang berisi sekadar curhatan seorang lelaki yang dipisahkan dari istrinya, sekadar keluh sang ayah yang tak dipedulikan anak-anaknya, ketika bertempat tinggal sebentar di salah satu anak kandungnya, tapi ada penerbit yang melirik dan bersedia menerbitkannya.

Meski diakuinya ia bukan penulis yang belajar samudera makna sastrawi, ia menulis hanya tentang hidupnya sendiri. Hidup yang mengajarkan pada konflik di masa lalu, saat ini, dan masa depan,” katanya pada sambutan utama. Ia hanya menulis tentang putusnya hubungan antara dua generasi. Tentang bagaimana seorang anak yang duduk menatap dunia sekelilingnya. “Dan betapa jauh jarak antara kita sekarang…” Ia menulis tentang mulut yang kering setelah menyanyi lama sekali menidurkan anak-anaknya. Namun mulut itu kini sudah bungkam. Bagaimana bahu kini terkulai dan tangan gemetar. Tangan yang dulu memegang tangan mereka, dan mengajari mereka untuk berjalan.

Mungkin karena zaman sudah beruah. Generasi baru memang sangat pintar dan praktis. Tapi hidup mestinya seperti menanam pohon, bukan seperti menaiki tangga. Menjadi orang tua bukan seperti menaiki tangga. Tapi orang tua adalah jiwa seseorang yang ibarat pohon yang tetap hijau dan berkembang. Anak-anak akan bahagia ketika sang ayah menghabiskan seluruh uangnya yang dengan susah payah dikumpulkannya, tapi tetap dan selalu tersenyum. Tapi anak-anak sering merasa bahagia, ketika penglihatan orang tuanya sudah rabun..

Jika sang ayah dapat membantu anaknya saat menentukan langkah pertama hidupnya, kenapa tidak bagi sang anak dalam memberi dukungan saat ayahnya mengambil beberapa langkah terakhir (wasiat) dalam hidupnya. Karena untuk siapa orang tua mengabdikan hidupnya selain untuk anak-anaknya. Tapi memang anak seringkali memberikan air mata dan kesepian pada orang tuanya.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori