Oleh: Kyan | 09/12/2015

Tuhan Asli dan Tuhan Palsu

PK, Peekai..Adegan permulaannya telanjang, dan lalu menelanjangi agama-agama yang selama ini kita percaya. Tapi tidak. Judulnya saja mentereng mau omong tentang Tuhan. Ini hanya mau merekomendasikan saja ada film hindi lucu tapi serius, yang dibintangi Haji Aamir Khan yang kesohor lewat “3 Idiot”, dan Anushka Sharma yang main bareng Shah Rukh Khan dalam Rabne Bana Di Jodi dan Jab Tak Hai Jann.

Menonton film ini saya menemukan inspirasi dan bahan, menuliskan sesuatu supaya saya tetap jadi “manusia”. Di tengah-tengah robotisasi sebab kesibukan kerja sehari-hari, menulis sangat penting untuk katarsis, mengambil jeda dan jarak dalam arus zaman yang terlampau cepat bergerak.

Masalahnya, selama ini kita percaya, dan akan selalu percaya bahwa: Tuhan adalah Ahad. Ahad yang sering dimaknakan Esa atau Satu, meski ada pendapat yang menolak ketika padanan Ahad dalam Bahasa Arab diterjemahkan Satu. Satu itu bilangan dan bilangan adalah bahasa manusia. Sementara Allah suci dari sifat-sifat manusia. “Mukhalafatul lilhawa ditsi”.

Tapi lain yang dikatakan PK—tokoh nama dan judul film yang direkomendasikan ini. Kesimpulan dia setelah mempelajari watak manusia, setelah memasuki agama-agama yang dianut manusia di bumi, ia mengambil kesimpulan: Sebenarnya Tuhan itu Dua. Pertama, ada Tuhan asli, yang menciptakan manusia dan semesta raya ini, dan kedua, ada “tuhan palsu” yang diciptakan oleh tokoh-tokoh agama.

Kalau, selama ini doa kita belum atau tidak terkabulkan—jawaban lain dari jawaban-jawaban yang sudah ada, lain dari yang diajarkan tokoh-tokoh agama, lain dari pedoman kitab suci agama-agama—itu boleh jadi saat kita berdoa sedang ada gangguan jaringan komunikasi. Seperti gangguan sambungan telepon yang karena sinyalnya lemot atau salah nomornya, atau seperti surat yang sudah salah kirim atau alamatnya palsu.

Kita memohon, maksudnya kepada Tuhan asli, tapi kadung “jatuh cinta” pada tokoh-tokoh yang dianggap valid dalam mengajarkan kebenaran, yang sudah memberi petunjuk sebuah “alamat Tuhan”, padahal sebenarnya itulah masalahnya: Doa-doa kita tak kunjung terkabulkan, ya karena salah alamat atau alamatnya palsu, atau malah ditujukan kepada tuhan palsu.

Kata PK, si Pee-Kai—bahasa hindi: pemabuk, gila—orang pembuat tuhan palsu itu sedang menciptakan bisnis ketakutan. Mencari uang dengan mengkapitalisasi agama. Caranya mengancam-ancam dengan neraka, dengan modal sekecil-kecilnya, dengan kencleng dan donasi, cukup memberi petuah-petuah surga untuk supaya meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari jamaahnya, dari pengikutnya. Menjual materi ceramahnya, buku-bukunya, dan aksesoris tambahan lainnya.

Lanjutnya, apakah Tuhan sudah begitu pelit, ketika kita memohon sesuatu harus dengan tatakrama tertentu, dengan syariat tertentu, harus masuk agama tertentu terlebih dahulu, harus melalui pembatisan dan pembersihan lebih dulu? Untuk dapat dikabulkan kenapa harus melalui rintangan panjang seperti bangun malam supaya bisa berdoa di sepertiga malam atau ibadah pagi hari atau pergi ke tanah suci? Misalnya kalau anak meminta mainan kepada ayahnya—manusia adalah “anak-anak” Tuhan—tegakah si ayah sebelum memenuhi keinginan sang anak dengan menyuruhnya lebih dahulu supaya berlari seribu kilometer?

Ini memang pertanyaan “orang baru” yang datang ke dunia manusia. PK yang datang dari entah planet mana. Ia mempelajari sikap dan perilaku manusia yang ketika berbicara dengan manusia lainnya, mulanya untuk saling menyampaikan pikiran, tapi karena manusia sangat suka keindahan “polesan, lipstik, bungkus, aksesoris” sebagai bentuk daya kreasinya, dan bahasa adalah ciptaan dari kreatifitas budayanya, tapi itu telah menghambat dan memperumit saluran komunikasi di antara mereka.

Manusia telah terpaku pada bahasa, bukan pada pikiran yang jadi isi bahasanya. Misalnya, kain putih dalam tradisi Hindu sebagai tanda berkabung-kesedihan, tapi di Eropa Kristen sebagai lambang kebahagiaan-pernikahan, sementara tradisi Islam menganggapnya simbol kesucian. Air persembahan Hindu adalah air kelapa, tapi masuk Gereja harus mempersembahkan anggur, tapi anggur adalah terlarang dalam Islam. Dalam Hindu dilarang menyembelih sapi, tapi Islam menganggapnya itu bentuk ibadah kepada Tuhan. Memakan babi dilarang dalam ajaran Islam, tapi sah-sah saja bagi non-Islam.

Maka iman atau agama sebagai “bentuk komunikasi” juga antara manusia PK, Peekaidengan Tuhan, manusia ingin curhat atas keterbatasan dan ketakmampuan dirinya menjalani hidup sehari-hari, ia bermohonlah pada barangkali ada sesuatu yang tak terlampaui. Pada yang tak terjangkau sebagai gejala instinktif religiusitas manusia—maka disini Marxis bilang agama adalah candu atas ketakbecusan manusia menghadapi persoalan hidupnya. Karena manusia merasa lemah, maka mengharap ada kekuatan “di luar” sana yang maha-dahsyat untuk memberi solusi bagi hidupnya.

Tuhan yang diperkenalkan penyampai risalah-Nya, bahwa Tuhan berbeda dengan manusia, berbeda dengan makhluk, “mukhalafatu lilhawa ditsi”. Tapi pelan-pelan muncul satu sifat kesombongan manusia yang sudah menarik-Nya, menyempitkan-Nya seakan-akan sudah paling tahu “Maksud Tuhan” dan hendak jadi pembela Tuhan.

Manusia yang maha-kecil, dia yang maha-lemah, hidup di senoktah tanah bumi yang dipijak ini, yang akan raib seketika diamuk gunung merapi atau gelombang tsunami, sementara bumi hanyalah satu dari planet tata surya kita, lalu tata surya hanyalah bagian sangat kecil dari bima galaksi, dan bima galaksi hanyalah satu dari sekian milyar galaksi dalam tata astronomi, sudah sok ingin jadi pembela Tuhan yang menciptakan dirinya dan alam semesta yang maha-besar ini. Logikanya sang pembela harus lebih kuat dari si terbela.

Kalau memang pijakannya mendasarkan pada kandungan kitab suci, film “PK” mengambil scene adegan surat yang diterima Jaggu, tokoh wanita dalam film, yang hendak menikah dengan Sarfaraz, juga membaca surat yang sama. Tapi keduanya mengambil persepsi berbeda setelah membacanya. Jaggu menganggap Sarfaraz sudah tak mencintainya, sementara menurut Sarfaraz, justru Jaggu yang tak mampu mengambil keputusan berani, hanya karena asumsi-asumsi yang diwariskan dari orang tua dan tokoh-tokoh agama panutan keluarganya.

Dengan satu surat yang sama, dengan jumlah huruf, kata, kalimat, dan paragraf yang sama, dapat memungkinkan tafsirannya berbeda-beda bahkan bisa saling bertentangan. Begitu pula kitab suci agama-agama yang dengan tekun dipelajari, tapi kenapa telah menimbulkan tragedi dunia dengan mengatasnamakan “pelaksanaan kata-kata” petuah kitab sucinya. Ketika agama ditarik atau dijatuhkan ke ranah politik yang menyangkut urusan dan kepentingan, menempeli asma-Nya dengan sifat-sifat kemanusiaan, manusia ingin seperti tuhan—Tuhan Maha Kuasa, manusia ingin jadi penguasa.

Memang ada sisi positif dan negatifnya. Sah-sah saja tokoh agama menjadi anggota partai politik. Tapi ketika mengatasnamakan Tuhan untuk maksud dan kepentingan tertentu, manusia menyangkanya itu demi untuk menegakkan adil padahal itu boleh jadi menebarkan dzalim. Manusia menganggapnya sayang padahal itu sebuah kebengisan. Manusia membelanya dengan kasih padahal sebenarnya itu membuat satu kaum tersisih. Lalu dimana kita letakkan prinsip-prinsip keadilan yang jadi intisari maunya Tuhan dan agama.

Kebenaran rasionalisme, dan kebenaran penyingkapan (kasyf) untuk merobohkan dinding sekat-sekat pembatas yang telah ditumbuhkan dari evolusi sejarah agama-agama. Evolusi watak religiusitas manusia yang diawali dari religiusitas intuitif-instinktif, lalu mengarah pada eksplorasi religiusitas rasional-intelektual, lalu jadilah religiusitas agama wahyu, lalu di zaman kini, saatnya kita menempuh proses penyaringan, pengendapan, sublimasi, penyaringan dan penguraian atas seluruh tahapan sejarah religiusitas, untuk kembali pada agama sejati yang dibawa para rasul dan nabi, yang dalam rentang panjang telah mengalami budaya, tradisi, dan distorsi.

Film “PK” menjadi jembatan untuk mengurai permasalahan zaman kini, bahwa perlulah dicari “kapak” Ibrahim untuk membunuh tuhan-tuhanan atau tuhan palsu. Ini penting bagi kaum bijak beragama dalam menyusun formula “rukun keagamaan” dunia yang carut-marut karena mengatasnamakan agama. PK membawa semangat Ibrahim dalam cerita Alquran yang mencari Tuhan pada bulan, pada bintang, matahari, dan akhirnya meniadakan diri.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori