Oleh: Kyan | 13/12/2015

PTE: Ada Apa Dengan Pendekar

“Dunia persilatan ibarat lorong gua yang panjang. Tempat ancaman kematian yang selalu datang dari balik kegelapan. Sesudah pertarungan demi pertarungan yang selalu berakhir dengan kematian, itukah cara seorang pendekar. Membunuh atau dibunuh..”

Begitu kesenduan prolog film laga teranyar “Pendekar Tongkat Emas” (PTE) yang sedang menunggu fenomenal. Bagaimana tidak, hampir seluruh kru dalam film AADC yang pioner dan fenomenal itu, kecuali Dian Sastro yang berganti Eva Celia, bahkan soundtrack-nya dapat lebih kesohor karena Anggun C. Sasmi sebagai artis internasional mengisi theme song “Fly My Eagle” gubahan musik oleh Gita dan Erwin Gutawa Orchestra.

Pendekar Tongkat Emas

Tapi film sebagai lini masa situasi sosial, ditentukan juga oleh berbagai-bagai keadaan. Tak cuma karena garapan sineas papan atas Indonesia: Riri Reza, Mira Lesmana, dan tentu Ifa Isfansyah sebagai sutradaranya. Dengan artis kawakan sekelas Christine Hakim, melibatkan seniman Seno Gumira Ajidarma, dan masih Jujur Prananto, sang penulis skenario AADC, seorang cerpenis sukses, yang menggarap sisi penceritaan film PTE. Ditambah eksotisme stepa pulau Sumba, tak kurang apa PTE dapat kembali pioner membangkitkan lagi film-film laga yang dulu berjaya 20-30 tahunan sebelumnya.

Seiring redupnya film-film laga yang telah ambil bagian dalam memelihara khazanah beladiri Nusantara, yaitu ilmu silat sekarang seakan mati suri belum berganti. Film sebagai medium pendidikan, mengalami ketimpangan antara olah-raga dan olah-rasa dalam membekali anak-anak kita, yang terus saja dicekoki hororisme. Ketika situasi lingkungannya pun sebenarnya sudah horor, ditambah lagi penumbuhan ketakutan (bukan keberanian) lewat film-film horor. Bukan eling nan waspada untuk menjaga anak-anak kita, sebagaimana diajarkan di saat pendekar menangkis lawannya dalam aksi film laga.

Ya, tempat ancaman terjadi di sekeliling anak-anak kita. Tempat ancaman kematian yang selalu datang dari balik kegelapan pikiran-pikiran kita. Sesudah pertarungan demi pertarungan sektarian dan golongan yang selalu berakhir dengan kematian rasa kebangsaan kita, itukah cara seorang pendekar pemangku kebenaran. Apakah benar mengkapling taman sorga adalah hak kita, bukan hak liyan yang tak sefaham dengan kita. Kita terhina lalu balik menghina, kita dicaci lalu balik mencaci, lalu kita membunuh atau dibunuh.

Ilmu silat mungkin tentang masa lalu. Karena sekarang dan masa depan dianggapnya lebih penting ilmu-ilmu eksakta, ilmu akuntansi untuk taktik korupsi, ilmu ekonomi untuk strategi mencuri. Ilmu silat memang tentang masa lalu, tapi tipu muslihat tetap relevan agar kita selalu eling nan waspada. Relevansi kekinian film PTE yang meskipun sebuah film silat, tapi sesungguhnya sedang menyatakan situasi hari ini. Hari ini dimana arus bebas yang “bablas”, di sosial media lumer oleh pendapat-pendapat, ingin menang-menangan dalam soal-soal, kukuh dengan pendakuan ilmu yang paling sahih, lalu siapkah kita di situasi seperti ini untuk menahan diri, untuk diam, untuk tidak jadi pemenang.

pendekar-tongkat-emas-poster-3“Karena sesungguhnya tidak ada pemenang dalam ilmu apapun,” kata Cempaka, guru pewaris Tongkat Emas pada muridnya. “Ketika kemenangan selalu menjatuhkan korban. Apalah arti kesempurnaan ilmu jika tidak diabdikan bagi kemanusiaan.” Ya, bagi seorang pendekar yang menguasai ilmu, atau untuk saudagar yang punya harta loba, atau untuk baginda yang bertahta: ilmu, harta, dan tahta bukanlah tanda kesempurnaan manusia. Melainkan ketiganya untuk membela yang lemah dan tak berdaya.

Tapi pertarungan Adam perlambang manusia, dan Syetan perlambang egoisme pribadinya, tidak seperti pertarungan pendekar yang berakhir dengan kematian lawan. Adalah kematian dirinya yang lain, sebagai pilihan untuk menebus kesalahan masa lalunya, karena kehilangannya yang dalam atas suatu hal.

Saatnya menemukan jalan kembali pulang. Tapi dalam perjalanan ada yang hilang, ada yang terbuang, ada pula yang kita temukan. “Kita heningkan cipta.. sunyikan batin kita dari suara-suara sumbang,” dengan lirih Guru Cempaka mewariskan ilmu pamungkasnya pada Dara, anak musuhnya yang telah ia didik dan besarkan. Begitupun Dara di masa selanjutnya, mengulang apa yang telah dialami Guru Cempaka: mendidik dan membesarkan anak musuhnya, Biru dan Gerhana yang juga rekan seperguruannya.

Mari saja kita heningkan cipta sunyikan rasa dari suara-suara sumbang. Dengarlah rintihan di kala fajar emas membakar. Kita tonton PTE untuk leyeh-leyeh dari sibuk pekerjaan.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori