Oleh: Kyan | 18/12/2015

Temuan Nyamuk Vektor Baru

Sebuah Tim Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora) Kementerian Kesehatan baru-baru ini menemukan tiga spesies baru sebagai vektor (pembawa) penyakit yang bersumber dari hewan (zoonosis).

<em>Anopheles quadriannulatus</em>

Pertama, nyamuk “An Barbirostris” yang positif mengandung parasit malaria, kedua, tikus jenis “Rattus Tanezumi” yang berpotensi menyebarkan bakteri leptospirosis, dan ketiga, kelelawar pemakan buah “Rhinolopus Acuminatus” yang berpotensi menyebarkan virus “Japanese Encephailitis”.

Sebagaimana dikutip Media Indonesia, menurut laporan Vivi Lisdawati, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga, “Nyamuk itu ditemukan di arena nonhutan dekat pemukiman pada habitat sawah dan kolam,” ujarnya dalam wawancara Cornelius Eko Susanto di Jakarta. Termasuk tikus dan kelelawar spesies baru itu ditemukan di seluruh ekosistem dan habitat.

“Nyamuk An Barbirostris,” lanjut Vivi, “beraktivitas pada sore hari hingga subuh (pukul 18.00-04.00 WIB). Nyamuk spesies baru ini rata-rata setiap enam jam dapat menggigit satu orang. Selain itu, terdapat hal menarik dari penelitian oleh Rikhus Vektora adalah penemuan nyamuk “Aedes Aurensius” di Papua yang sebelumnya ia biasa berada di wilayah Melanesia. Nyamuk ini adalah vektor penyakit yang belum diketahui.”

Tetapi tidak sedikit pula jenis penyakit yang belum diketahui sumbernya, termasuk dari jenis hewan apa. Maka Rikhus Vektora dilakukan yaitu untuk memeroleh peta sebaran vektor dan reservoir (pusat penyakit), sekaligus memeroleh data cara penanggulangan tular vektor, (DBD dan malaria terutama) serta reservoir (leptospirosis dan pes). Selain untuk melengkapi data nasional terkait taksonomi (pengelompokan) dan bionomik (hubungan timbal balik vektor dan lingkungannya) dari berbagai nyamuk, tikus, dan kelelawar.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes, M Subuh menjelaskan bahwa latar belakang dilakukannya kegiatan Rikhus Vektora di antaranya karena cukup tingginya ancaman penyakit yang bersumber dari binatang (zoonosis). Hal itu masih terjadi baik penyakit lama, seperti pes dan ebola, atau penyakit yang baru, seperti flu burung.

Kegiatan Rikhus Vektora akan dilakukan selama tiga tahun, yaitu pada 2015 yang sudah dilakukan di empat provinsi: di Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua. Pada 2016 akan dilaksanakan di 15 provinsi, dan pada 2017 rencananya di 34 provinsi. Temuan dua spesies nyamuk disebut di atas merupakan salah satu temuan menarik dari kegiatan Rikhus Vektora 2015 di empat provinsi.

Dalam pengendalian dan penyegahan penyakit yang bersumber dari hewan, Kemenkes bekerja sama dengan dinas terkait daerah dalam mengambil langkah-langkah strategis dan teknis. Peran daerah dalam menyosialisasikan penyakit zoonosis ini sangat penting karena tidak sedikit masyarakat yang masih awam terhadap penyakit yang bersumer dari hewan. Termasuk masyarakat terkait diharapkan membantu penanggulangan hama di pemukiman yang dapat menyebarkan penyakit.

[Reportoar: Vyan Sovyan Saladin; adalah karyawan yang bekerja di perusahaan pengendalian hama, AAG Pest Control; PT. Atrindo Asia Global]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori