Oleh: Kyan | 21/12/2015

Faith and The City: Sinis Pada Sinisme

Hanum Salsabiela & Rangga Almahendra,__Faith and The CityAku sinis pada buku ini—kukatakan spontan, tanpa dipikir ulang, saat membaca di beberapa halaman pembuka. Tapi tentu aku membeli dan membacanya sampai tuntas; bagaimana bisa sinis kalau belum membacanya sampai paragraf terakhir. Ada kewajiban membacanya, melanjut pembacaan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”.

Tapi sinis ini, seperti sinis pada Ayat-Ayat Cinta, Syahadat Cinta, Surga yang Tak Dirindukan, Air Mata Surga, dan cerita-cerita lain yang selalu saja menyangkut pada hal poligami. Selalu saja tema yang diangkat melulu itu di buku-buku populer kita. Seperti pada doyan poligami saja rata-rata pembaca—kalau memang buku-buku itu ditujukan buat pembaca ber-lingua franca Melayu-Indonesia. Poligami tapi maksud sebenarnya “selingkuh” dengan mengebiri Islam.

Tadinya aku berpikir, maksudnya aku menyukai, atau aku meinginkan, dapat kutemukan bahan bacaan tentang bagaimana orang-orang saat menemukan jodohnya—dalam arti pasangan hidup; passion; arus balik, atau apapun terkait menemukan “sang diri” sejati dalam dirinya. Tapi ya aku tahu. Orang bebas-bebas saja menulis hal apapun. Mungkin katamu, “buat saja sendiri cerita yang kau ingini”. Kata-kata sinis bernada gerammu padaku. Kalau tak suka ya tinggalkan saja, jangan membaca apalagi membeli. Sudikah kau menghabiskan uang buat yang tak perlu menurutmu.

Memang sih kuakui tema ini laris di pasaran, akan selalu jadi sorotan, dan tak selesai-selesai dibicarakan, khususnya di zaman mengemukanya peran perempuan dalam urusan publik. Soal yang “panas” begini sering jadi sorotan Orientalis memandang Islam. Maka mereka para penulis sangat perlu membuat dan diperbanyak penjelasan melalui kisah-kisah yang hidup, baik fakta ataupun fiktif tentang soal yang satu ini. Tapi alih-alih pembelaan, sering bernada reaksioner.

Termasuk karya: “Faith and The City” yang ditulis berduet antara Hanum Salsabiela Rais dengan Rangga Almahendra (HR) ini. Terlepas kisah poligami di buku ini hanyalah cabang konflik saja, dari cerita besar yang hendak disempaikan. Buku ini adalah lanjutan dari “Bulan Terbelah di Langit Amerika”, atau sebelumnya “99 Cahaya di Langit Eropa” yang bukunya kubeli diskon dan ternyata buku bajakan. Tapi asli loch kubeli “Bulan Terbelah di Langit Amerika” dan “Faith and The City”. Semua adalah buku-buku tentang jejak peradaban Islam yang memang aku meminatinya.

Menggelitik penasaran juga lanjutannya setelah “Faith and The City” yang telah diberi judul: “The Converso”. Sedikit ditebak kisah itu pasti akan berbicara tentang orang-orang di peralihan jalan dan zaman. Baik itu cerita Morisco di Spanyol setelah kejatuhan Granada; benteng terakhir Peradaban Muslim di Semenanjung Iberia 1492; penanda atau awal mula apa yang disebut “modern” kini, atau tentang perjalanan mereka-mereka sekaum kita; Muslim di Amerika; Islam di Eropa baik di masa dulu dan sekarang yang menahan cabaran islamofhobia.

Di buku ini sudah disinggung cerita lama, proyek Azima Hussein dan Rangga soal Abdel Qomaruzzaman dengan kekasihnya yang menumpangi balon udara dari Granada. Beberapa waktu setelah Granada dibawah kekuasaan Isabella-Ferdinand yang mengalahkan pasukan Boabdil atau Muhammad XI. Tentang bagaimana nasib mereka; Abdel yang loncat, karena balon udara-nya dipanah seorang pasukan Spanyol, dan kekasihnya menyangka Abdel sudah wafat padahal masih hidup. Apakah itu kisah dalam The Converso?

Soal sinisku, sebenarnya mungkin aku ambivalen. Padahal aku menikmati bacaan ini. Aku menikmati semua bacaan di kala senggang. Termasuk Ayat-Ayat Cinta, Syahadat Cinta, Surga yang Tak Dirindukan, Air Mata Surga… yang buku-bukunya sudah diangkat ke layar lebar; dua buku HR sebelumnya sudah difilmkan.

Maka dialog-dialog dalam Faith and The City terimajinasi sendiri pada karakter peran Abimana Aryasatya yang memerankan Rangga dan Ache Septriasa berperan sebagai Hanum. Pasangan yang membuat kaum jomblo merasa iri. Iri yang berujung sinis, karena karya mereka dianggapnya; yang sebagai kekurangannya—terlalu mengumbar kemesraan suami-istri yang jadi konsumsi publik.

Menelisik kekurangan, tapi ya janganlah membandingkan dengan racikan kata-kata Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer yang nyaris tanpa cacat pada dialog-dialog dalam novel-novel karya mereka—kekuatan novel ada pada dialog. Mungkin orang berkata, “kau meledek saja. Menghina karya orang yang telah jerih payah menulisnya. Mereka telah mempersembahkan karya terbaiknya. Seperti kau mampu saja membikin karya seperti mereka. Mereka menulis terkait yang dekat dengan dirinya.

Mungkin poligami hanyalah tempelan. Karena cinta segitiga—yang selalu jadi tema film-film hindi—selalu menarik diangkat. Tapi HR yang keduanya sebagai Direktur-Direktris ADI-TV di Yogya, sangat sinis pada apa yang jadi realita sebuah kota, terutama kota-kota di Eropa dan Amerika, dengan New York sebagai sumber refleksinya. Mereka yang keduanya bekerja di dunia televisi, pasti tak jauh dari pikiran “rating” dan “share” sebuah tayangan.

Seperti diakuinya, Hanum yang di masa remajanya mengidolakan Anderson Cooper, sempat punya impian ingin bekerja di CNN, tapi seorang dokter gigi yang “kejebak” jadi jurnalis. Kuakui memang HR berbeda dalam menyuguhkan kisah poligaminya Iqbal Fareed, Zuraida, dan Rhonda Reeds. Poligami mereka dibuat sebagai jawaban atas sebuah keadaan (induktif). Bukan deduktif yang selalu jadi mindset ustadz-ustadz, kyai-kyai penganut-pelaksana poligami.

Dan cerita lain saat Hanum menerima tawaran tokoh idolanya, Andy Cooper. Ia bekerja di GNTV menangani program Insight Muslims, yang selanjutnya diubah jadi program reality show bertajuk “My Friend is A Good Muslim” yang berupaya dibantah Alex Reeds dengan kampanye “My Friend is A Bad Muslim”. Dianggapnya bagi Cooper, entah itu konten islami atau bukan, asalkan menaikan rating dan share, sehingga iklan pun berdatangan. Apapun asalkan jadi mesin uang dan harus tanpa tega; tanpa perlu mendengar sesuatu dari kedalaman seseorang.

Tapi kan mereka mengalaminya, pernah hidup di sebuah kota, pernah berkutat pada tayangan televisi. Rating dan share sudah semacam rukun iman bagi dunia broadcaster pertelevisian. Yang menjual itu bagaimana, dan apapun caranya agar supaya narasumber menangis, marah, tertawa, dan meluapkan emosi di depan kamera. Dan sebuah kota (New York) yang “terlalu” memanjakan ambisi, ambisi yang bermutasi atau diperhalus dengan kata “impian”. Kalau tak bermimpi matilah kau.

Tapi Rangga, sang suami Hanum, mengingatkan aku pada kisah Rangga dalam AADC. Termasuk ada kemiripan pada babak akhir novel ini: kisah Rangga dan Hanum saat di bandara, seperti halnya Rangga dan Cinta juga di bandara. Tapi perbedaannya Rangga dan Hanum jadi tersatukan kembali, tapi Rangga dan Cinta jadi terpisahkan. Yang pertama di bandara JFK dan yang kedua di bandara Soeta. Tapi keduanya sama-sama terkait kepergian dan kepulangan New York, Amerika.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori