Oleh: Kyan | 21/12/2015

Musso, Soekarno, Kartosoewirjo

Haris Priyatna, Seteru 1 GuruTiga yang berseteru, tiga yang seguru kepada HOS Tjokroaminoto—ialah sufi pergerakan pendulum bangsa, seorang raja tanpa mahkota, disangkutkan sebagai Prabu Heru Tjokro dalam ramalan Jayabaya, cucu seorang Bupati Ponorogo, Tjokronegoro yang jadi komandan perang Pangeran Dipenogoro, dan tentu sudah tahu semua ialah pemimpin besar Sarekat Islam: organisasi inkubasi Indonesia ‘kecil’ sebelum jadi Indonesia seperti sekarang ini.

Tapi biarpun antara Musso, Soekarno, dan Kartosoewirjo berseteru, perseteruan mereka memberi pelajaran moral bagi yang hidup hari ini, terutama bagi politisi yang belum kunjung lulus ke jenjang seorang negarawan, seperti dikatakan Yudi Latif, “anak-anak alumni ‘kemah’ Tjokroaminoto bertikai karena perbedaan visi; tapi sekarang para politisi bertikai karena konflik kepentingan pragmatis. Konflik visi melahirkan kemerdekaan, konflik kepentingan melahirkan pengurasan.”

Tapi bagaimana cerita itu sebenarnya, atau cerita bagaimana yang perlu kita angkat ke muka, atau bagaimana agar sejarah dapat mudah kita fahami. Memenuhi kebutuhan ini, buku yang ditulis Haris Priyatna, “Seteru Satu Guru” diharapkan sebagai kunci pembuka untuk penziarahan sejarah bangsa. Sebuah novel dengan riset sejarah, atau membaca sejarah dengan pendekatan novel. Buku ini boleh dikatakan sebagai pengayaan atau pembanding atas film Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang sudah diputar, sebagai pelengkap sebelum atau sesudah menontonnya.

Buku ini bercerita di pusaran kharisma Tjokroaminoto yang bertumpu pada tiga tokoh: Musso, Soekarno, dan Kartosoewirjo yang jalan hidup mereka menjadi tiga gumpalan kasar ideologi besar atas nama kemerdekaan bangsanya. Bagaimana Soekarno (yang nasionalis), dan Musso (yang komunis), dan Kartosoewirjo (yang islamis), adalah tiga murid yang dulu saling bantu tapi akhirnya saling baku tembak, saling meniadakan setelah lama lulus dari pondok Tjokroaminoto. Secara pribadi mereka saling menghormati dan bersahabat, terutama semasa mereka ngekos bareng di rumah Tjokroaminoto.

Pendahulunya sebagai penghuni kos pertama, ia yang sudah bekerja sebagai juru tulis di stasiun kereta, yang keranjingan buku “Het Communistisch Manifest”, ialah Samaoen dari Jombang. Dialah yang kemudian hari mendirikan PKI: Partai Komunis Indonesia, atau setelah bertemu Sneevlet di rumah Tjokroaminoto, lalu keduanya bekerja sama. Penghuni kos selanjutnya adalah Musso yang berbadan kekar dan jago silat semasa ngekos di rumah Tjokroaminoto bersekolah HBS: Hogere Burger School, sekolah lanjutan setara SMP plus SMA tetapi hanya lima tahun.

Demikian juga Soekarno yang jago akting setamat dari ELS: Europeesche Lagere School di Mojokerto, kemudian melanjut ke HBS, sebagai adik angkatan Musso. Tapi Kartosoewirjo yang anak Mantri Candu dan suka fitness ini mengambil NIAS: Nederlands Indische Artsen School, sekolah kedokteran Jawa dengan masa pendidikan sepuluh tahun, sama seperti STOVIA di Jakarta. Mereka penghuni kos di rumah yang sama, yang tentu saling memberi pengaruh, yang selanjutnya mereka jadi tiga pendulum ideologi (komunis, nasionalis, dan islamis) yang dilanjut pengikutnya hari-hari ini. Hari ini ada pengikut seutuhnya, ada pengikut yang setengah-setengah; setengah nasionalis-setengah komunis-setengah islamis, ada pula penurut paling ekstrim kiri dan kanan: dari Komunis Gaya Baru (KGB) sampai jadi bagian dari Islamic State-nya Daesh Syiria.

Biarpun mereka seguru-seilmu, pernah sama-sama mampir di Sarekat Islam, bahkan mungkin pernah baca buku yang sama dari perpustakaannya Tjokroaminoto, tapi karena mereka berbeda latar belakang sosial dan jalan pikirannya, maka jalan yang mereka tempuh berbeda sebagai keyakinan dan ambisinya. Tapi dari semua itu, bagaimana kita memaknainya.

Kita sebagai anak-anak bangsa, sebagai poetra dan poetri abad 21, bagaimana membaca sejarah manusia dahulu, menyimak mereka berseteru yang sudah hampir setengah abad berlalu, yang rasa-rasanya belum juga kita beranjak dari pikiran-pikiran di masa-masa itu tentang bagaimana bangsa ini merdeka seutuhnya. Sejarah ditulis untuk kepentingan yang hidup sesudahnya agar kita bertanya: apakah demikian kehendak sejarah yang terulang, atau kita tak pandai mengambil kesimpulan yang benar, sehingga sejarah bangsa ini belum beranjak dari sebagai negara berkembang. Indonesia dikatakan masih sebuah negara yang dianggap belum maju menurut pandangan segala keilmuan, atau dari segala sudut estetika kepuasan, atau sebagaimana cita-cita proklamasi dan UUD 1945.

Membaca Indonesia hari ini, apakah juga masih relevan dengan pendekatan pertentangan kelas sebagaimana dogma komunis? Lalu apakah pertentangan kelas adalah fakta atau fiktif sebagai cara berpikir (worldview) yang berbeda antara di sana dan di sini, antara agama ini dan agama itu? Sesungguhnya nasionalisme yang bagaimana kehendak negara-bangsa, atau yang sesuai Islam, atau menurut “kesempurnaan Islam sebagai dien”? Benarkah agenda keagamaan semestinya kita berjuang, atau agama hanyalah dermaga saja tempat bertolaknya kita melangkah untuk kemanusiaan universal?

Tapi jalan yang ditempuh Musso, Soekarno, dan Kartosoewirjo berbeda, dan sejarah telah menghakiminya bahwa inilah pahlawan dan itulah pembangkang, inilah sesungguhnya perseteruan yang berbeda cara pandang saja tentang bagaimana kita merdeka. Mereka hanya bermimpi dan juga berambisi, ingin merealisasikan mimpi dan ambisi demi bangsanya yang bebas dari penjajahan kolonial.

Biarpun Musso yang grasah-grusuh ingin seperti “semangat Moskow” dengan melaksanakan program Komintern Komunisme Internasional, sementara Soekarno ingin melandaskan pada itikad nasionalisme dengan merangkul segala etnis dan agama buat meneruskan kebesaran Majapahit, tapi Kartosoewirjo ingin tetap melaksanakan agenda keagamaan menurutnya, yang sesuai dengan “semangat Sarekat Islam” dimana ia pernah jadi Sekretaris Umum mendampingi Tjokroaminoto.

Mereka berseteru kenapa? Saya kira pada mulanya adalah perjanjian Renville yang sangat merugikan Indonesia. Perjanjian ini diinisiasi Amerika, yang rupanya inilah tancapan kuku pertama pengaruhnya bagi Indonesia, yang menyisakan hari ini bual-bualan dan penghias bibir para politikus sekarang tentang Freeport, seakan tak rela Freeport hengkang dari tanah Papua. Perjanjian yang sejak semula ditentang habis-habisan oleh Tan Malaka, yang katanya “Masa mau berunding dengan maling di rumah sendiri?”; dan Renville sebagai kapal milik Amerika untuk tempat pertemuan antara Indonesia dan Belanda yang diprogramkan Kabinet Amir Syarifuddin, lalu Belanda berpesan padanya, “tolong ‘amankan’ dulu Tan Malaka!”

Tan Malaka yang sekian lama buronan Belanda dan Inggris, sampai ia harus bersembunyi dari negeri ke negeri mengitari sepertiga bulatan bumi, akhirnya mati di tangan bangsa sendiri. Setelah ia mempersatukan kekuatan tentara bersama rakyat dalam Persatuan Perjuangan (PI), sebagai prinsipnya untuk secara militer melawan Belanda, yang tak ingin berdiplomasi dengan maling di rumah sendiri, akhirnya rubuh diterjang peluru laskar FDR: Front Demokrasi Rakyat yang dibentuk Amir Syarifuddin. FDR hasil leburan dari Partai Komunis, Partai Buruh, Partai Sosialis, dan Pesindo yang telah ikut serta dalam arek-arek Suroboyo Sepuluh November saat mengusir tentara NICA.

Perjanjian Renville yang menyiutkan wilayah Republik jadi hanya sebagian kecil Jawa, lebih menciut lagi dari kesepakatan sebelumnya dalam Perjanjian Linggarjati, sehingga ibukota Republik harus dipindahkan ke Yogyakarta, Jakarta dan Bandung harus dikosongkan, rakyat harus long march berpindah ke wilayah Republik, yang dalam wilayah semenel itu menyebabkan ruang gerak menjadi sempit, hingga di Surakarta sering terjadi friksi di antara pasukan: Siliwangi dengan Senopati, Senopati dengan Pesindo, mereka saling culik-menculik, hingga Hatta harus me-reorganisasi dan merasionalisasi (re-ra) tentara. Tentara yang muasalnya adalah laskar-laskar pejuang kemerdekaan, yang karena keputusan Hatta ini kaum haluan kiri mencurigai bahwa tujuan sebenarnya program ini guna menyingkirkan pasukan yang terinfiltrasi komunis seperti Pesindo.

Sementara Kartosoewirjo bersama Masyumi yang dalam KNIP terus mempertanyakan keabsahan perjanjian dengan Belanda, ia yang beristrikan orang Garut, sebagai yang punya basis Masyumi di Priangan, punya pengalaman “resmi” di organisasi sebesar Sarekat Islam, pernah jadi redaktur surat kabar Fadjar Asia, punya anak-anak didik di Institut Suffah, punya sayap militer Hizbullah dan Sabilillah dan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), begitu Perjanjian Renville disepakati Republik, lalu ia mengadakan konferensi Cisayong.

Dari konferensi ini menghasilkan keputusan bahwa seluruh laskar yang berafiliasi pada Masyumi dilebur menjadi Tentara Islam Indonesia (TII) yang akan terus berjihad melawan Belanda, dan Jawa Barat ditetapkan sebagai Daarul Islam (DI). Mereka tak akan meninggalkan garis demarkasi guna memenuhi isi perjanjian Renville, dan mereka tak ingin meninggalkan kampung halamannya, meskipun harus berjuang sendiri untuk mempertahankannya, sampai akhirnya juga harus melawan bangsa sendiri, melawan orang-orang Republik.

Lalu Musso yang telah kembali dari Uni Soviet, dua tahun setelah kepulangan Alimin, mereka sebelumnya yang telah gagal mengkonsolidasi pemberontakan PKI 1926 terhadap Belanda, pemberontakan yang gagal karena tak mematuhi perintah Tan Malaka selaku ketua Komite Eksekutif Komunis Internasional Biro Timur Jauh yang meliputi Hindia Belanda, Filipina, Birma, Siam, Malaka, dan Indochina, Tan menitip pesan kepada Alimin saat di Manila agar ditolak itu hasil konferensi Prambanan yang menyepakati akan segera mengadakan aksi.

Tak dinyana aksi yang grasah-grusuh, saat kehadiran Musso dan Alimin di hadapan Stalin, ditambah suasana sedang memanas karena Stalin sedang berseberangan jalan dengan Trotsky, rivalitas di partainya, Stalin pun menghardik mereka, “Dasar kamu orang gila! Cepat pulang dan batalkan pemberontakan itu.” Tapi pemberontakan telah meletus, sampai Musso dan Alimin harus kembali ke Moskow.

Tapi kepulangan kedua mereka rupanya membawa rencana yang sama. Apalagi sesudah adanya kesepakatan Praha oleh Soeripno sebagai perwakilan Indonesia yang membuka hubungan dengan Uni Soviet. Meski itu katanya tanpa sepengetahuan Menlu Haji Agus Salim, karena memang perjanjian itu dibuat sebelum perjanjian Renville.

Musso, yang oleh orang tuanya bermaksud Musso adalah Musa, atau Moses, seorang nabi pembawa wahyu Taurat, tapi ini juga membawa “wahyu” Stalin untuk Hindia. Musso yang diplesetkan Mu-lut So-viet bukan hanya jago silat, ia kelahiran Kediri yang asal-muasalnya kota Sunan, kota yang diruwat Sunan Kudus. Sebagai murid Tjokroaminoto, otomatis peserta aktif di Sarekat Islam, berkenalan dengan Sneevlet dari ISDV pun di rumah Tjokroaminoto, mendapatkan peluang di saat lemahnya pemerintahan Republik akibat perjanjian Linggarjati dan Renville.

Soekarno-Hatta meredup pamornya di mata para kaum pergerakan, khususnya bagi anggota KNIP yang memeluber jumlah anggotanya yang konon untuk menambah suara dukungan pada persetujuan diplomasi dengan Belanda. Kubu Masyumi yang diwakili Kartosoewirjo berada di atas angin karena memperoleh banyak dukungan untuk bisa memakzulkan pemerintah; hingga Hatta berpidato di sidang KNIP, “Kalau dekrit tidak diterima, carilah presiden dan wakil presiden lain” ancam Hatta di akhir pidatonya.

Dan begitu Perjanjian Renville disepakati, di mata kaum pergerakan haluan kanan maupun kiri dianggap sebagai kekalahan kedua Republik. Maka Musso sebagai kakak kelasnya Soekarno, (baik kakak kelas di sekolah HBS maupun dalam pengalaman pergerakan) hendak mengambil alih kekuasaan. Pemberontakan PKI yang dipimpin Musso bersama para “barisan sakit hati” seperti mantan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, mantan Jenderal Wikana, dan Soemarsono yang dipecat Hatta dari Pendidikan Politik Tentara, mereka bergerak merebut Madiun di Jawa Timur, dan selanjutnya selaku adik kosnya Soekarno, yaitu Kartosoewirjo di Jawa Barat menjadikan bumi Priangan sebagai basis pergerakan DI/TII. Keduanya memberikan mosi tak percaya pada pemerintahan Soekarno-Hatta dengan mengangkat senjata.

Soekarno, atau Karno atau Karna, yang sebelum sakit namanya Kusno, ayahnya seorang mantri guru bernama Soekemi dan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, kedua orang tuanya berharap ia menjadi seperti Karna dalam tokoh pewayangan, sebagai ksatria dalam epos Mahabharata, berharap ia menjadi seorang pemimpin dan pembela negara. Tapi Soekarno berencana menulis surat wasiat yang hendak menjadikan Tan Malaka, Tan rivalnya Musso (Tan pendukung Trotsky, sedangkan Musso anak buah Stalin) sebagai pengganti dirinya.

Tapi Musso yang nama lengkapnya Munawar Musso, dan pernah menyamar dengan nama: Manavar, seperti Alimin dengan nama samaran Animin, atau Samaoen alias K. Samin saat mereka di Moskow, dan tentu yang paling banyak punya nama samaran adalah Tan Malaka semula maksud hanya ingin menggertak saja, tapi Soekarno dan atas inisiatif Jenderal Nasution mengirim pasukan guna menumpas pergerakan PKI.

Pergerakan, atau pengambil-alihan kekuasaan, atau katakanlah pemberontakan FDR-PKI mengambil basis di Madiun yang meliputi Magetan, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, dan Wonogiri, sampai mereka di mana saja menemukan orang Masyumi dan PNI, tanpa banyak cingcong langsung mereka dor, lalu lehernya ditebas dengan kelewang. Konon orang-orang yang terbunuh bergeletakan di sepanjang jalan. Tak ada yang berani mengangkatnya hingga berhari-hari. Sampai akhirnya Musso tertembak, dan Amir Syarifuddin ditangkap.

Demikian pula DI/TII dipimpin Imam Besar Mardijan, nama pertama yang dipanggil Soekarno saat bertemu pertama di Surabaya, ia yang kemudian di-DO dari sekolahnya karena kedapatan membawa buku-buku terlarang, ia banyak membaca tulisan pamannya, Mas Marco, sesudah mengadakan konferensi Cisayong, begitu Yogyakarta diserang dalam Agresi Militer Belanda II, lalu Soekarno dan Hatta ditawan, dan Jenderal Soedirman bergerilya di hutan ke hutan, sementara Kartosoewirjo mengumumkan perang sabil melawan Belanda. Disangkanya terdapat kekosongan pemerintahan—mungkin karena tak mengetahui atau tak mengakui keabsahan adanya PDRI oleh Syafruddin Prawiranegara, ia bersama pengikutnya mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).

Dari hutan Garut-Bandung-Tasikmalaya ia terus berjuang dan bertahan, sampai mereka terus dikepung dalam operasi “Pagar Betis” atau “Operasi Bharatayudha”, mengambil nama dari perang saudara antara Pandawa dan Kurawa, sedangkan ini dua seperjuangan antara Bung Karno dan Bung Karto demi membela prinsipnya masing-masing. Sampai karena kehabisan bekal terpaksa ia merampok beras dari penduduk setempat, bahkan membunuh orang-orang yang dianggap mata-mata Republik, sampai konon mereka merencanakan aksi pembunuhan Presiden Soekarno.

Selama tiga belas tahun mereka bertahan di hutan Priangan, sampai satu persatu pengikutnya pun menyerah, seperti Haji Zaenal Abidin, Danu Mohammad Hasan, Adah Djaelani, dan kemudian Dede Muhammad Darda, alias Dodo, putranya Kartosoewirjo, dan selanjutnya Kartosoewirjo akhirnya menyerah dengan tubuh tinggal tulang karena penyakitan selama di hutan karena kekurangan gizi.

Dari foto yang beredar, atau dari buku yang ditulis Fadly Zon tentang saat-saat terakhir eksekusi mati Kartosoewirjo di Pulau Ubi, tubuh yang dulu kekar karena suka angkat beban, bahkan kini makamnya tak dapat kita temukan.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori