Oleh: Kyan | 26/12/2015

Kagum Kepada Orang Indonesia

Emha Ainun Nadjib, __Kagum Kepada IndonesiaBukan satire, tapi sungguh benar. Siapa lagi yang mengagumi dan percaya diri untuk mengaum sejarah bangsa ini. Bangsa ini bibit unggul, bangsa ini garda depan, bangsa ini tak butuh pengakuan kebesaran dari dunia luar, karena bangsa ini sudah besar, karena dunia besar karena Indonesia, dan Indonesia kapten kesebelasan dunia.

Kita marah dan curiga pada Mochtar Lubis yang mengata “bangsa ini hipokrit, enggan bertanggung jawab, yang penting ABS, percaya takhayul, tidak hemat, meski diakui kelebihannya: unggul dalam seni. Disusul Taufik Ismail menulis “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”, dan Rendra bersajak, bangsa kita bangsa yang malas.. mesti dibangun..mesti diup-grade.. Bagaimana bisa kita tak percaya dan mampu.

Maka untuk mengaumkan, untuk membangunkan memang perlu bangsa ini terus dikeloni, dibangunkan dari tidurnya, disadarkan orang-orangnya yang tak sadar, untuk bersama-sama mengelola tanah tumpah darahnya. Meski kita tahu sambil tidur pun menanam singkong pun jadi. Tapi mesti sesadar-sadarnya, sebangun-bangunnya kita mengolah, mencampur tanah, udara, air, dan api.

Kita tahu tanahnya bangsa ini adalah “penggalan sorga”. Seakan-akan surga itu bocor, dan cipratannya menjadi tanah dan air Indonesia. Negeri ini sudah berkali-kali porak-poranda oleh gunung meletus dan gempa, banjir bandang dan tsunami, rumah-rumah rubuh. Tetapi dalam sekejap bisa menterang kembali, sesudah mengungsi ke berbagai-bagai negeri akhirnya kembali. Tak kapok untuk menanam kembali, main petak umpet dengan gejala-gejala gunung merapi.

Rakyatnya bangsa ini begitu pandai menyiasati, menjajarkan kebaikan dan keburukan, mendamaikan kesedihan dengan kegembiraan, menyeimbangkan antara kesengsaraan dengan pesta pora, krisis dengan joget-joget, keprihatinan dengan kesombongan, kemelaratan dengan kemewahan, dan apa saja mampu dikomposisikan sedemikian rupa.

Pemimpinnya tak kurang stok. Watak pemimpinnya dengan gabungan berbagai karakter unggul: keagungan Sultan Agung, kependekaran Panembahan Senopati, kesaktian Mas Karebet, kedewasaan Raden Patah, kearifan Walisongo, bahkan juga kecerdikan Raden Wijaya, kedalaman batin Kertanegara, karisma Tirbhuana Tunggadewi, kebesaran Gajah Mada, kesepuhan Aki Tireng, dan karakter-karakter unggul pemimpin kita dari Atlantis Leumuria sampai Indonesia.

Bangsa ini bukan hanya bangsa bibit unggul, tapi lebih dari itu: dalam konteks evolusi pemikiran, kebudayaan, dan peradaban, avant garde nation, yang dengan sejarahnya selalu berada beberapa langkah di depan bangsa-bangsa lain di muka bumi. Pakar-pakar dunia selalu “kejebak” mempersepsikan kita, membayangkan Indonesia adalah kampung setengah hutan yang kumuh, banyak busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana-sini, orang berbunuhan, pokoknya Indonesia negeri penuh duka dan kegelapan. Tapi bagaimana itu terjadi.

Tak melihatkah mereka, para pemimpin kita kawula rakyat. Kas negara sudah melimpah dari pajak-pajak rakyatnya. Saking surplus, tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Indonesia. Tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di Indonesia. Impor sepeda motor apa saja dijamin laku, berapa juta pun yang kau datangkan ke negeri ini. Rakyat kita sudah kaya-raya.

Kalau kita bilang, “negara kita sedang krisis”, itu semacam tawadhu dan andap asor saja. “Silakan mampir ke gubuk saya” padahal rumah kita bak istana. Pemerintah kita terus berutang triliunan dolar, itulah strategi agar kita disangka miskin. Kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah.

Timnas olahraga kita rancang sedemikian rupa jangan sampai menangan atas negara-negara lain. Saking cerdasnya kita, hanya babu-babu yang dikirim ke luar negeri, yang bermental kanak-kanak kita jadikan anggota DPR/MPR, Malaysia kita cerdaskan, karena murid harus lebih baik dari gurunya. Cerdasnya guru cukuplah Tuhan yang Maha Tahu.

Malaysia tak mampu membangun gedung-gedung tinggi, kalau tak ada tenaga-tenaga pengaduk semen dari Indonesia. Para Sajang Korea sangat menyukai pemuda-pemuda Indonesia. Negara-negara Arab sangat takut kehilangan anak-anak Indonesia. Dan posisi itu tak bisa digantikan oleh pemuda-pemuda dari Filipina, Bangladesh, Pakistan atau manapun.

Bahkan Amerika, negara Mamang Sam itu selama beberapa tahun terakhir dibikin tak bisa tidur oleh kebesaran Indonesia. Begitu banyak keringat diperas, otak diputar, biaya dikeluarkan, strategi-strategi ditelurkan untuk segala sesuatu yang menyangkut Indonesia.

Inilah negara Indonesia. Negara yang selalu dilaporkan segara kolaps, tetapi tertawa dan senyum dan dadah-dadah di sana sini, bahkan koruptor perampas kas negara melambaikan tangan ke kamera tivi dengan senyumnya yang paling cerah dari hari ke hari.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori