Oleh: Kyan | 02/01/2016

Max Havelaar

Berkata-kata dan mengasah pena yang tidak lagi percuma adalah Max Havelaar. Ketika hari ini beribu-ribu opini disebarkan, kicauan-kicauan dituliskan, dan status-status diperbaharui, diramaikan di jagat sosial media, tapi tak jelas benar dan relevan menjadi pertimbangan pada setiap keputusan kebijakan publik dalam tata masyarakat kita.

Betul beberapa bulan ke belakang ada gerakan “koin prita” dan kasus-kasus sebangsanya untuk menggiring opini publik, guna mencari dukungan sosial yang dimulai dari sosial maya, bersama media mainstream lainnya, bersama-sama untuk membikin petisi dan tak lagi sekedar berpuisi. Tapi kalau telinga anggota dewan kita tuli dan mata pemerintah kita buta, lalu kemana saluran-saluran itu bermuara.

Multatuli__Max Havelaar

“Saijah dan Adinda” Max Havelaar

Orang berdemonstrasi hanya jadi tontonan, dan jika pun ada perhatian hanya solusi tambal sulam. Semangat kita masih semangat feodal. Tapi juga tak asal kita bicara dan cuma pandai mereka-reka serta jauh dari realitas yang nyata. Tapi kita berkaca pada Max Havelaar yang ditulis Multatuli (nama pena dari Eduard Douwes Dekker) yang sejak terbit pertama tahun 1860 telah mengusik nurani bangsa Eropa, membuat terpukul para pejuang humanis yang telah dididik dalam institut kolonial, yang katanya, “semestinya kolonialisme haruslah menjadi kebanggaan kaum humanis”.

Yang semestinya para lulusan institut kolonial—sekolah persiapan bagi para pegawai tinggi yang akan dipekerjakan di berbagai negeri jajahan, sekarang IPDN untuk Indonesia—mereka telah mempelajari apa yang disebut sebagai Indologi, ilmu yang mempelajari Hindia Belanda khususnya. Tapi kenapa orang-orang Belanda di Hindia tak sepenuhnya dekat dengan pribumi. Malah membiarkan pejabat-pejabat pribumi, sebagai penghubung antara dirinya dengan rakyat pribumi, yang melakukan tidak seperti tuan Cornel di Cadas Pangeran.

Tapi Eduard Douwes Dekker yang pernah selama 18 tahun jadi pejabat Hindia Belanda, mencoba melakukan protes resmi kepada pejabat di atasnya, bahkan langsung kepada Gubernur Jenderal di Batavia tentang korupsi dan juga nepotisme yang terjadi di wilayah tata administrasinya, yang konon dilakukan Bupati Lebak, Raden Adipati Karta Natanegara, yang telah menyalahgunakan kekuasaan dengan menguras tenaga rakyatnya, dan yang menjadi korban adalah kisah populer Saijah dan Adinda, kisah yang mengharu siapapun yang membacanya, cinta yang sederhana tapi tak tersatukan akibat kekejaman pejabat pribumi dan kolonial.

Kata-kata dalam laporan resmi Max Havelaar kepada Residen Slijmering. “Saya mencurigai Demang Para Kujang (menanti laki-laki bupati)…” Ia hendak melaporkan bahwa Demang telah merampas kerbau yang salah satunya milik ayah Saijah dan Adinda. Tapi protesnya dimampatkan oleh Residen Slijmering, lalu kemudian malah mau dipindahkan ke Ngawi, dimana Bupati Ngawi masih kerabat Bupati Banten.

Ia lalu berbalik arah memutuskan pengunduran diri, juga mempercayai apa yang tak diakui– bahwa sebuah tulisan yang tergores tak akan pernah sia-sia di kemudian hari. Tapi karena buah pena Eduard Douwes Dekker yang menurut Horstmar Nahuys dalam pendahuluan pertama terbit Max Havelaar 1868, ketika bukunya menuai sukses besar, sayang sekali penulisnya telah melepaskan hak kepemilikan bukunya. Bukunya tanpa dilisensi sebagai aset dirinya dan keluarga.

Karena mungkin tujuan Eduard Douwes Dekker ingin supaya bukunya diterjemahkan ke dalam semua bahasa di Eropa, hanya untuk mewartakan apa yang telah dilihat dan dialami langsung di tanah kolonial kepada bangsa Eropa. Ia hanya menulis tentang nuraninya yang bersuara dan mudah-mudahan dapat mewakili bangsanya yang telah sekian lama menguasai tanah Hindia Belanda, supaya bangsanya menyadari dan mengakui kesalahan dengan kerendahan hati apa yang telah dilakukannya selama ini.

Kesuksesan Max Havelaar, kata Pramoedya Ananta Toer yang dikutip New York Times, Max Havelaar adalah “kisah yang membunuh kolonialisme”. Max Havelaar menjadi saksi tentang segolongan tirani dan pengabdi feodalisme dibalik kata-kata hirarki, untuk dipersembahkan pada bangsa Eropa khususnya Belanda, lebih khususnya lagi kepada Yang Mulia Raja Belanda, William III, beserta raja Jawa, Adipati, Pangeran… dan kaum cendekia hingga abad ini.

“Kepada Kaisar,” tulisnya di bab akhir bukunya. “Kaisar dari Kerajaan Insulinde yang menakjubkan, yang melingkari khatulistiwa bak untaian zamrud, saya bertanya kepada Anda.. Apakah memang kehendak kekaisaran Anda sehingga orang-orang seperti Havelaar harus diciprati lumpur oleh orang-orang seperti Slijmering (Slijmering adalah Residen saat Max Havelaar sebagai Asisten Residen Lebak, dan bukannya Slijmering melaporkan kepada yang di atasnya lagi, ia malah menutupinya, dan lalu Slijmering diberi gelar Kesatria Ordo Singa Belanda) dan Droogstopple (seorang makelar kopi, dan seorang oportunis seperti kebanyakan orang Belanda); dan lebih dari 30 juta rakyat Anda nun jauh di sana harus diperlakukan dengan buruk dan mengalami pemerasan atas nama Anda?”

“Aku mengemukakan pertanyaan yang sama kepada Eropa, dan juga bangsa Jawa.. Aku akan menerjemahkan bukuku ke dalam beberapa bahasa yang masih bisa kupelajari.. termasuk bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak… Bila seandainya ini tidak berhasil, seandainya pertanyaan yang telah kukemukakan kepada Belanda sia-sia, aku akan mengasah kelewang, parang, dan pedang, dengan mengumandangkan lagu-lagu perang dalam benak para martir yang telah kujanjikan akan kutolong.

Bahwa aku, bekas Asisten Residen Lebak Banten. Ya aku tuan Sjaalman, sebagaimana dipanggil Droogstoppel, seorang makelar yang kaya sementara aku sangat miskin, aku Multatuli yang telah banyak menderita tapi telah mengasa pena. Aku tidak bermaksud untuk menulis dengan baik. Aku menulis agar didengar. Sama seperti orang yang berteriak, “Berhenti pencuri!” tidak memedulikan gaya bicara spontan-nya kepada publik dan tidak memedulikan kritik mengenai cara-ku berteriak “berhenti pencuri!”

Bahwa buku ini campur aduk; tidak beraturan, gayanya buruk, penulisnya tidak berpengelaman, tidak berbakat, tidak punya metode. Semua itu benar!… Tapi orang Jawa diperlakukan dengan buruk,” tegasnya. (hal. 462, terbitan Qanita, Mizan Pustaka). Secara alur cerita bukunya memang tidak biasa. Awalnya cerita dari sudut tuan Droogstoppel sebagai yang telah membantu penerbitan buku ini, lalu lebih banyak lagi komposisi yang disusun Stern, sebagai orang yang bekerja pada tuan Droogstoppel, ia seorang pemuda terpelajar berkebangsaan Jerman dan penganut Lutherian.

Tak lekang kita terus berkaca pada Max Havelaar. Meski saya pun sedikit terusik setelah membacanya tuntas. Saya yang hidup di abad 21 membaca karya satu setengah abad berlalu, yang terlepas dari semua kelebihan bahwa buku ini menjadi sorotan para pemangku kepentingan di Belanda masa itu, (yang mungkin sebagian anggota parlemennya juga tuli dan buta orang pemerintahannya seperti Indonesia kita).

Adalah benar Max Havelaar telah membawa angin baru, jadi katarsis pengubah kebijakan perpolitikan mereka untuk sebuah bangsa di Nusantara; dari Cultuurstelsel (kerja paksa) selama dasawarsa menjadi arah baru Politik Etis, yang mengantarkan pada kebangkitan nasional, dan meraih kita kemerdekaan. Meski tak jelas benar “merdeka 100 persen”—meminjam bahasa Tan Malaka. Tapi saya mengira ada mental inlander dalam penulisan buku ini: bahwa bangsa pribumi harus diadabkan, meski benar ada segolongan kaum kita yang harus disadarkan.

Buku ini seakan berkata bahwa “kami sedang membawa misi perdamaian semata demi kepentingan penduduk itu sendiri, demi pembudayaan atau pemberadaban suatu negeri,” yang kesemuanya bermuara pada keinginan untuk mewartakan keluhuran peradaban Barat. Kaum pribumi harus didorong untuk berevolusi ke arah yang berkesesuaian dengan takdirnya, sejalan dengan pikiran bangsa dan lingkungannya.

Tapi pada sisi lain inilah bekas seorang pejabat yang rindu tanah yang pernah dikunjunginya selang belasan tahun, seperti yang ditulis Catherine Van Moppes dalam novelnya, Emilie, Jawa 1904 bahwa “bagi kami yang pernah lama tinggal di Timur Jauh, yang begitu terobsesi, kemudian kami jatuh cinta dan tergila-gila pada negeri elok itu, negeri yang menakjubkan, yang melingkari khatulistiwa bak untaian zamrud, manakala bercinta dengan wanitanya, rasanya seakan-akan kami tengah bercinta dengan benua itu sendiri, dengan masyarakatnya, dengan peradabannya.

Kami seolah luluh, menyatu dengan mereka. Dan buku ini dipersembahkan juga untuk mereka.”[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori