Oleh: Kyan | 21/01/2016

Buku-buku, Abiem Ngesti, dan Film Hindi

Pernah pada suatu ketika aku berkata bahwa yang aku minati adalah buku-buku, abiem ngesti, dan film hindi. Ketiganya sehubungan dengan masa kecilku. Memang, kala mengingat berbagai kejadian pada masa kanak-kanak, dan apa-apa yang menjadi pikiran saat sekarang, hal yang terus teringat, yang terus diburu dan jadi kebiasaan saat ini, bahwa betapa masa kecil itu sangat besar peranannya dalam perkembangan selanjutnya saat dewasa.

planet-bumi

Tapi sebelum bercerita hal diri sendiri, apa nama kejiwaan ini. Sebelum melanturkan soal aku sendiri, gejala psikis apa yang menandai apa yang dikatakan narsisme. Apakah aku juga terkena gejala atau bahkan sudah stadium empat mengidap narsisme. Di saat teknologi mengemukakan diri kian canggih dan wajar yang memenuhi hasrat dari dalam untuk unjuk diri pada setiap orang, hendak menguliti apa dan siapa sebenarnya aku supaya tahu semua orang, seperti aku menulis catatan harian yang disebar, saat memposting status perasaan dan pikiran, apakah juga fundamen teologinya, “barang siapa mengenal dirinya, niscaya akan mengenal Tuhan-Nya”?

Tapi pertanda apa saat orang-orang selfie bukan hanya menampilkan foto diri yang serba materi dan nisbi, tapi orang begitu percaya pada dirinya, yakin dengan kepribadiannya, haqqul yakin dengan tafsir agama dan keyakinannya, inikah yang disebut posmodernisme dimana boleh hidup apa saja. Apakah ada atau tidak adanya media sosial orang akan tetap begini macam saat posmodernisme dikembangkan, saat eksistensialisme dianjurkan untuk tak keropos individu-individu sebuah kelompok dan golongan?

Dalam suasana seperti itulah, aku sering mengendap-endap, membenamkan diri pada segala hal yang menyenangkanku saja. Aku berpikir lebih baik melakukan saja yang aku senang bukan berpikir pelik yang tak idealis atau pragmatis sebagai pilihan berpikir. Bukan aku tak tahu berita dan informasi terbaru, tapi bagaimana isu-isu itu diblow-up media korporat, kadang aku bertanya apa pula perlunya berita demikian di-headline news dan perlukah semua dikomentari dan komentar itu diposting di media sosial. Sudah cukupkah waktu menyublimasi segala hal bila itu terkait dirimu.

Tapi apa salahnya orang begitu. Terlalu dini atau belum cukup bahan referensi hingga menulis status, toh bukan sedang menulis skripsi. Bukankah responsip itu lebih baik daripada menunggu sampai akhirnya berita itu menguap dan luput dari perhatian. Seperti orang bilang bahwa informasi begitu berlimpah, yang istimewa adalah perhatian. Adakah kamu peduli atas persoalan lingkungan?

Namun saat menemukan ketaksetujuan-ketaksetujuan atas yang kudengar dan kubaca dari berita-berita yang diwartakan, dari informasi-informasi yang ditautkan dari menit ke menit, dari status-status yang memenuhi ruang selalu terbarukan dari detik ke detik, membacanya kadang membuatku sesak nafas atau kadang tercerahkan juga, tapi selebihnya membuat pening kepala lantas aku bertanya “perlukah sebenarnya informasi ini diketahui dan disebarluaskan”.

Tapi sejauh mana subjektivisme dalam menilai segala hal. Mungkin, ketika yang dikembangkan adalah ruangnya, bukan orangnya, ruang itu meluas tapi jiwa yang sempit tak akan mampu menampungnya. Tapi bukankah ruang komunikasi dicipta ialah untuk memperluas kapasitas jiwa agar seluas langit dan bumi? Bukankah orang hidup berada dalam ruang, atau manusia yang menciptakan ruang?—seperti berkata manusia adalah bagian dari alam, atau manusia yang menaklukan alam? Mungkin, bahasanya bukan “menaklukan” tapi “mengenali” semesta tujuh lapis langit dan bumi ciptaan Tuhan dan manusia diberi kapasitas akal untuk “afala tatafakkarun” lalu media sosial bertanya “sedang memikirkan apa kamu?”.

Tapi apa namanya kegamangan ini. Apakah karena terlalu sering memandang horizontal, dari jam ke jam melulu dari layar ke layar, pagi sampai sore bekerja di depan layar, istirahat makan sambil balas-membalas percakapan sementara di sampingnya ada orang diacuhkan, begitu juga sampai malam, sampai sebelum tidur, masihkah di sela waktu sibukmu menengadah, memandang langit luas di saat malam gelap langit yang dipenuhi bintang-bintang, adakah rembulan yang eksotis dipandang saat kau berjalan pulang sambil menyelami sunyi yang mengiris-iris hati.

Tidak. Aku sedang memandang perempuan yang berjalan di depanku. Bukankah perempuan juga adalah makhluk paling eksotis bagi setiap laki-laki? Bukankah persoalan-persoalan nyata yang kuhadapi, atau infotainment artis yang masuk bui, sampai dagelan-dagelan politik juga penting aku ketahui?

Orang bilang harus tahu skala prioritas, dan jangan jadi orang terasing dari lingkup sosialnya. Aku adalah bagian dari sebuah komunitas tertentu, golongan anu, agamanya ini, begitu lahir dari rahim emakku langsung terperangkap ke dalam sekat-sekat pembatas geopolitik, geobudaya, dan agama yang membuat manusia terkapling-kapling sebagai identitas aku yang tak tahu apa-apa. Orang macam-macam berkata inilah kebenaran itulah kesesatan, inilah yang membawa surga dan itulah membuatmu terperosok nanti di kubang neraka. Dalam hal suka dan tidak suka harus diatur-atur oleh negara.

Tapi manusia dalam perjalanannya, dari kecil menuju dewasa tentu akan punya kesenangan dan perhatian tersendiri pada hasil reka-manusia lainnya, dari sezamanku atau dari era-era sebelumku. Pertanyaannya bukan seberapa jauh aku terlepas dari semua itu agar menjadi manusia-manusia baru, yang punya elan vital yang menderu, tapi bagaimana aku memandang semua adalah bagian dari manzilahnya menuju satu purnama cahaya, hingga aku berdecak penuh kagum dan berkata “sungguh agung rekayasa manusia” untuk sampai “bertemu” Tuhan di mayantara dunia sebelum surga.

Orang bilang kita harus menangkap sinyal “values”-nya dari segala hal yang orang sampaikan. Tak melulu dipandang nyinyir dan serba negatif orang yang ingin eksis menuju narsis. Tapi memang aku harus punya bahan sebagai amunisi, untuk membuat pagar-pagar pembatas perlindungan supaya aku kebal dari energi negatif yang merasuki, hingga aku terbebas dari polusi nafsu-nafsu hayawani, agar supaya aku tetap berkata pada setiap orang “senangkanlah hatimu, hiburlah dirimu” semau-maumu.

Namun sebelum itu aku harus bebas pula dan terlepas dari prasangka. Tanpa takut pada stigma meski orang beramai-pandai membikin stigma. Lalu stigma apa yang diberikan orang padaku, saat aku berkata bahwa yang aku minati adalah buku-buku, abiem ngesti, dan film hindi. Tiga subjek yang cukup menghiburku dan yang membuat sibuk sekarang sebagai peninggalan masa kecilku yang tanpa kupelihara namun selalu membuntutiku kemana aku melangkah dan di mana aku singgah, aku mencari-cari menuju tiga subjek itu.

Jadi kalau orang bertanya atau saat mengisi biodata atau saat diwawancara sering ditanya “sebutkan tiga hal yang mewakili sebagai dirimu!” Maka jawabanku mungkin ini yang baru terpikir dapat mewakili siapakah aku dan bagaimana pribadiku. Aku adalah pertama saat dipanggil namaku sebagai yang mewakili seluruh badanku, kedua segala hal berkaitan tema buku-buku, abiem ngesti, dan film hindi.

Yang pertama berkaitan dengan kedua, ada orang berkata bahwa diri sejati adalah sesuatu yang kita temukan, kita bentuk dan ciptakan ulang. Maka peninggalan masa kecil akan sangat menentukan di masa depan, maka sang anak harus banyak dibawa pada pengalaman, agar ikut merasa pada segala nuansa dan dapat bercerita nanti di masa depan. Demikian pula yang membawa hatiku senang, rasanya jiwaku tentram saat aku menemukan kegembiraan adalah setelah menemukan pelbagai hal sehubungan masa kecil itu.

Setelah aku memahami semua yang dapat kupahami, semua telah membawaku dan membantuku tumbuh dan menumbuh dewasa dengan segala kelebihan, kelemahan, dan keunikannya sebagai aku. Apa yang aku pelajari selama ini dalam menentukan pilihan-pilihan, saat memenuhi kesibukan-kesibukan, buat menghabiskan waktu berulang-ulang agar hati senang, dan semua kejadian-kejadian yang melingkupiku, hampir semua terkait dengan masa kecil itu yang perasaannya tak berbeda jauh dengan perasaan masa kecilku.

Ini penting kusampaikan karena diri sejati bukanlah individu yang sudah jadi dengan karakter yang sudah ditentukan sebelumnya, melainkan “individu yang bersikap” terhadap berbagai hal kecendrungan dan kemungkinan. Maka aku ingin menemukan dan meyakinkan diri siapakah aku dan bagaimanakah aku dalam hidup menjalani dewasa, yang kata orang untuk menemukan “passion” kamu itu di mana.

Bila pertanyaannya apakah kesenangan dan ketentraman itu masih artifisial belum yang kekal dan abadi seperti sang sufi kasyf manunggaling kawula gusti? Aku tidak tahu yang pasti senanglah aku sehubungan buku-buku, abiem ngesti, dan film hindi. Meskipun aku tidak tahu juga apakah sudah cukup mewakili apa yang disebut “aku” saat berkata yang kuminati adalah ketiga hal tadi. Tak ada lainnya sepertinya yang aku tahu dan agar semua orang tahu.

Dalam menjalani hari-hari aku ingin punya waktu membaca berlama-lama, ingin sempat menuliskan apa saja, terus mengoleksi buku-buku, suka dengan puisi-puisi, itu terkait dengan buku-buku. Aku suka sejarah karena aku kira semua orang wajib tahu sejarah diri dan lingkup sosialnya. Aku ingin mahir software mengolah gambar dan video semacam corel dan adobe premiere, habis waktu oleh mencari-cari, mengedit-edit, merekayasa foto dan video lebih didedikasikan buat berkenaan Abiem Ngesti. Membuat senanglah aku setelah ada yang terselesaikan dan sisanya menumpuk dalam perencanaan.

Dan kalau sedang punya kuota data internet, atau mencuri-curi dari kantor agar bisa mengunduh film-film, lebih banyaknya aku mengunduh film hindi dibanding film yang lainnya. Meskipun belum tersedia subtitle-nya bahasa Indonesia, tak jarang aku menonton film hindi tanpa subtitle, tanpa mengerti bahasanya, tapi cukup menikmati gestur tubuh sang aktor dan aktrisnya serta alur ceritanya yang melulu cerita cinta. Melulu cerita cinta tapi aku suka. Kalau sedang ada tarian kadang refleks ikut bergaya sebisanya. Tentu sambil ketawa-ketawa dan tak malu karena sendirian menontonnya.

Menyukai film hindi bukan karena karena ada si cantik Katrina Kaif, tapi sering berulang aku bercerita bahwa meminati film hindi karena dulu yang ditayangkan TVRI yang siangnya TPI adalah film hindi. Televisi adalah benda baru di jagat hiburan yang memproduksi gaya baru, kepribadian baru, konsumsi baru, adalah gaya, budaya, pribadi dari tanah hindi. Apa salah kemudian kalau lebih mencintai luar negeri dibanding negeri sendiri? Bukan salah bunda mengandung, tapi kebudayaan apa yang diusung.

Ragam manusia dan macam berpikir manusia yang dikotak-kotak mini ke dalam suku, bangsa, ras, dan agama, saatnya dihubungkan kembali, dipertalikan lagi bahwa dulu India, Cina, dan juga Arab pada Nusantara adalah sekumpulan gugusan peradaban angin muson, bukan peradaban hindustan yang impor ke Nusantara, tapi disanggah kemudian dalam penemuan Atlantis sehingga justru sebaliknya: orang Nusantara yang bermigrasi ke lembah sungai indus, lalu ke afrika barat, lalu ke yunani, selanjutnya masanya peradaban Islam, lalu aufklarung Eropa lalu menuju modern-postmodern selanjutnya memasuki zaman kini.

Sehubungan buku-buku juga karena masa kecilku. Pernah sejak sebelum SD aku tinggal di rumah nenekku, aku menjumpai dua kardus besar berisi buku-buku peninggalan pamanku yang sekolah guru. Kuingat beberapa judulnya terdapat buku-buku mengenai lima benua: Amerika, Eropa, Afrika, Asia, dan Antartika. Semua isi kardus aku keluarkan dan kutata kembali di rak lemari bersama buku-buku leces catatan sekolahku, buku-buku peninggalan sekolah kakakku, sekolah pamanku, sampai baju-baju istimewa, serta piring dan gelas istimewa sebagai penghuni sebelumnya—ia yang biasa dikeluarkan kalau rumah kedatangan tamu istimewa dan kalau ada acara hajatan, jadilah benda pusaka tersisihkan oleh tata letak buku-buku mainanku.

Sampai suatu ketika salah satu bibiku kesal dan katanya kenapa tidak dibakar saja buku-buku yang kertasnya sudah kusam itu. Berlalu kemudian muncul juga inisiatif kubakar saja kertas-kertas yang kupikir sudah tak penting dan tak akan terpakai lagi. Padahal sekarang mungkin akan bermanfaat sebagai saksi dan sejarah hidupku. Sekarang entah ratusan atau sudah mencapai seribu buku-buku yang kumiliki mengisi dua rak jangkung di rumahku. Ketika memandangnya perasaannya seperti aku saat dulu di rumah nenekku.

Meski aku bukanlah guru, bukan dosen, apalagi profesor yang sebagian kawan-kawan memanggilku, “prof” atau “dok” sebagai kependekan dari dokter Boyke yang katanya wajahku imutku mirip sekali dengan pakar seks itu..hahaaa. Aneh-aneh saja orang, dulu ada yang bilang saya mirip Onky Alexander, lalu mirip Teuku Ryan, tapi sekarang mirip dokter Boyke…ha narsis. Saya adalah saya. Aku adalah aku.

Begitu pula Abiem Ngesti sebagai jejak pertama aku mengenal pisyi—maksudnya televisi. Dengan antena pemencarnya harus dua ruas panjang bambu, baru tertangkap itu sinyal TVRI yang hanya aku dapat menontonnya di Minggu pagi atau sesekali malam mengikut kawan berjalan kaki dari Citamiang ke Cibantar biar tahu perkembangan perang Irak-Iran yang disiarkan “Dunia Dalam Berita”, sambil bersenandung Nasida Ria…”Dunia dalam berita…”

Dari pertama sampai selanjutnya dan seterusnya menyaksikan aksi panggung “Akulah pangeran dangdut…” sekarang sering tertawa sepuasnya saat melihat lagi lagaknya. Seperti ada yang terpuaskan dari jiwaku yang butuh hiburan, yang menghadirkan perasaan seperti perasaan masa kecilku saat menonton tayangan eksotis itu. Bagiku dialah legenda cilik Indonesia. Ia berkarya terbilang pendek kurang lebih lima tahun, tapi sebelas album ia keluarkan, dan bukan cuma mahir menyanyi dangdut, tapi slow-rock dan RAP pernah ia jelajahi, serta sejak kecil sudah pandai mencipta lagu.

Saya kira Allah lebih cepat memanggilnya, karena untuk pantas diteladaninya. Kalau usianya lebih panjang mungkin saja namanya artis seringkali diguncang skandal yang bisa saja melumuri kepantasannya seorang performance art, penampil seni—seni itu sesuatu yang suci, yang sakral sebagai ciptaan budi-akal manusia, penjelmaan dari yang Mahabudi. Ia pantas sebagai idola. Boleh-boleh saja artis-artis baru datang dan pergi yang mungkin lebih bertalenta? Atau tak cocok kata “idola” bolehlah kita pakai bahasa aku “sangat apresiatif” pada sosoknya yang bisa mengantarkanku pada nuansa ada ruang di jiwaku yang terisi.

Ialah sang superstar di hati penggemarnya. Meski kepergiannya sudah 21 tahun tapi penggemar setianya selalu setia menunggu adakah hal terbaru yang belum tahu tentang sosoknya. Adakah video klip yang dulu tak sempat ditontonnya, yang barangkali Akurama sebagai rumah produksinya bersedia me-relaunching dari arsipnya tentang sosok idola yang sudah pergi tapi masih diminati oleh penggemarnya. Karena sesudah mencari-cari tak juga menemukan hal-hal baru sebagai bahan perbincangan di antara kami sebagai kumpulan ANFC.

Demikianlah hasil tamasya pikiranku harus kuakhiri, membentur-benturkan perasaanku, yang semula kucari-cari saat mengisi biodata akun-akun media sosial yang bertebaran harus mengisi biodata singkat siapakah aku. Ada barangkali keteririsan sesuka dan seirama bagi yang sedia membaca tulisan ini sampai akhir, atau sevisi yang dapat mendampingiku nanti, atau di kala aku sendu ada orang mengingatkan dengan berkata “bukankah kamu suka itu?” Dan senanglah aku jadinya. Dan berterima kasihlah aku padanya.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori