Oleh: Kyan | 21/01/2016

Hidup Sederhana

Desi Anwar, __Hidup SederhanaSetiap kali aku mampir ke toko buku, buku ini selalu menggodaku. Sering kucicil baca di toko buku, sampai berulang kali tapi tak mau kalau kubeli—karena harganya yang mahal. Bagaimana tidak mahal karena berisi foto-foto jepretan penulisnya yang berwarna saat-saat melanglang buana ke berapa penjuru negara. Tapi akhirnya aku “kalah” juga: dibeli buku ini dan harus kubaca secara utuh. Sekarang saatnya melanturkan pikiranku dari setamat membacanya sejak bab “leyeh-leyeh” sampai “carpe diem” (menggenggam hari ini).

“Hidup Sederhana” dan diterbitkan juga edisi Inggrisnya “A Simple Life”. Buku yang ditulis Desi Anwar, seorang wartawan yang pernah mewawancarai tokoh-tokoh kawakan semisal tokoh Tibet YM Dalai Lama, pemain bola Zinedine Zidane, penulis sejarah Karen Armstrong, ahli pemasar Philip Kotler, bintang film Richard Gere, pimpinan IMF Christine Lagarde, pimpinan WTO Pascal Lamy, dan sederet tokoh penting lainnya dari mancanegara dan negara kita yang tentu memerlukan kemampuan bahasa Inggris dengan Toefl sekian.

Dan dibahas dalam buku ini ketika dirinya saat masuk SMP di London, ia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Ia sangat kesulitan mengikuti pelajaran, bagaimana ia memahami apa yang disampaikan guru, dan tibalah ujian tengah semester. Tapi meskipun nilai ujiannya di bawah rata-rata, tapi sang guru tidak memberikan angka saja. Di samping pembubuhan angka terdapat kolom komentar berisi pujian bahwa ia dianggap telah bekerja keras di mata pelajaran tersebut. Ia merasa tak masalah dengan nilai ujian yang kecil, tapi ia sebagai siswa sudah sangat dihargai oleh gurunya.

Maka secara keseluruhan aku tertarik pada buku ini. Kenapa tertarik pada buku ini, buatku karena yang dibahas adalah hal-hal “ringan” dan sehari-hari. Meski sebenarnya hal-hal sangat serius seperti membaca bab “Meyakini Keyakinan” atau “Siapakah Dirimu?” dan pokoknya tulisan-tulisan yang ditempatkan pada bab-bab akhir. Di senggang aku membaca buku-buku sejarah dan yang lainnya, yang cenderung tebal lembarannya, aku perlu istirahat. Kupikir-pikir kenapa aku harus serius dan membaca buku serius, toh aku tak jadi apa-apa dan bukan siapa-siapa. Siapa yang mendengarku, dan siapa juga yang menuntut itu.

Tapi waktuku kadang ingin sibuk dengan menyelami pikiran-pikiran dan membaca perasaan-perasaan. Aku suka dengan target-target ingin membaca buku ini dan buku yang penulisnya kesohor itu, meski memang sangat memberatkan hidupku. Sudah harus keluar uang yang memang buku-buku harganya mahal, kenapa pula harus susah-susah yang jawabannya sebagaimana tadi: aku bukan siapa-siapa dan tak jadi apa-apa, siapa yang mendengarku, dan siapa yang menuntut itu.

Hanya waktuku ingin sibuk dengan mendengarkan perasaan-perasaan yang berkecamuk di batinku, ingin segera aku menuliskan sesuatu yang membutuhkan inspirasi tertentu pada secuil kertas, atau langsung menekan-nekan tuts-tuts papan ketik komputerku. Biarpun tulisanku tak dibaca orang, tapi aku sudah menyelamatkan jalan pikiranku dan nuansa perasaanku, sehingga nanti kemudian hari aku dapat membacanya kembali sambil bergumam “Oallah inilah aku yang dulu”. Yaa itung-itung ini latihan membaca “kitab putih” atau “kitab hitam” sebagai catatan amalan pemberian Rakib dan Atid suatu saat nanti.

Meski sebenarnya ingin aku bermalas-malasan saja. Aku ingin tak melakukan apapun yang meringankan apalagi yang memberatkan. Diajarkan oleh Quantum Ikhlas untuk berdiam diri minimal selama duapuluh menit sambil mendengarkan musik digitalprayers, tapi kadang-kadang berisik. Ingin aku diam dalam kesunyatan atau sesekali ingin bebas sepenuhnya misalnya aku tidur sesuka waktu. Tapi sering aku tak bisa juga, sering merasa menggunakan waktu yang sia-sia, dan akhirnya begitu telentang tidur sering secepat itu aku tertidur. Kupikir saking lelahnya pikiran dan penatnya perasaan, yang sebenarnya aku tak berpikir apa-apa dan tentu karena sudah merasakan sesuatu yang menohok batinku: aku seakan tak menerima nasib hidupku.

Padahal aku tak berpikir sesuatu yang “besar”, hanya karena manusia atau katakanlah aku sendiri yang suka membuat segala sesuatu menjadi rumit. Seolah-olah itulah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa aku ini hidup, lalu aku mencemaskan yang sudah lewat, menyesaki pikiran tentang yang akan datang, apa kata orang, apa yang dipikirkan dan tidak dipikirkan oleh orang lain tentang berbagai hal yang terjadi dan tidak terjadi di lingkungan sekitarku. Kenapa aku tidak membuatnya sederhana saja dengan menghentikan lanturan pikiranku yang terus-menerus bergerak seperti gasing yang takut berhenti, yang katanya kalau berhenti berarti mati.

Kenapa aku tidak mengisi hidupku, misalnya dengan mengusahakan apa saja yang menyenangkan bantiku terlebih dulu dan tidak terlalu memikirkan ke mana pilihan itu akan membawaku. Sebab bahkan tanpa menghasilkan sesuatu pun, kenikmatan dalam melakukan sesuatu itu sudah cukup memberikan kesenangan. Aku perlu melepaskan batasan-batasan yang mengungkungku dari apa yang sudah aku ketahui, atau yang aku harapkan dan rencanakan bagi masa depan. Aku perlu melepaskan ketakutan-ketakutan terhadap berbagai kemungkinan yang tak terduga, sambil menikmati saja momen-momen berharga yang disuguhkan hidup kepadaku, apapun itu.

Kalau itu dapat kulakukan, aku akan mendapati hidup ini bagaikan petualangan yang tiada habisnya, penuh dengan kejutan dan memberiku kebebasan luar biasa untuk melakukan apa yang kunikmati sambil memaksimalkan potensi-potensiku dalam menggapai tujuan hidupku. Aku menjalani saja hidup sepenuhnya dari detik ke detik, tanpa mencemaskan masa depan, menyesali masa lalu, atau terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan metafisika yang jawaban pastinya tak akan pernah aku dapatkan.

Lebih baik aku menikmati hidup secara penuh, yaitu dengan menjalaninya. Bukan dengan terlalu memikirkannya. Karena begitu aku melepaskan kemungkinan terjadinya kekecewaan dalam hidup, maka hidup pun tak lagi bisa mengecewakanku. Malah menyodorkan berbagai peluang yang tiada habisnya. Aku menyadari bahwa di hidup ini terdadat pasang surutnya. Jarang sekali segala sesuatu menjadi seperti yang aku inginkan atau tetap sama. Tapi itulah yang membuat hidupku menjadi menarik dan layak dijalani.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori