Oleh: Kyan | 07/02/2016

Raffles, Jawa, dan Singapura

Ahh saudara yang tak becus cas-cis-cus omong Inggris, atau yang tersilau oleh kemilau negeri serumpun Singapura dan Malaysia, lalu menyalahkan sejarah kita, “kenapa Indonesia dulu tidak dijajah Inggris saja?”

Tim Hannigan, __Raffles, dan Invasi Inggris ke JawaTim Hannigan, penulis buku “Raffles and the British Invasion of Java” (Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa), buku yang meraih John Brooks Award 2013 di Inggris, ia yang pernah mengajar bahasa Inggris di sekolah elit di Jakarta, yang dari para muridnya mendengar tuturan yang juga mungkin diamini oleh kita, “pasti akan lebih baik seandainya dulu Indonesia dijajah Inggris ketimbang Belanda.” Padahal Indonesia pernah dikuasai Inggris selama lima tahun (1811-1816), yang lamanya sama seperti satu periode masa kepresidenan sekarang. Tetapi selama lima tahun saja, dijelaskan oleh Tim Hannigan tentang kehancuran krusial tatanan Jawa yang mistikal, apalagi kalau lebih dari itu, apalagi generasi bangsa hari ini mengimpikan di hati kecilnya.

Indonesia, atau negeri yang saat itu belum bernama, hanya wilayah yang terbagi-bagi kerajaan yang diporak-porandakan Belanda selama 350 tahun, pernah diselingi kekuasaan Prancis dan Inggris. Prancis di masa Marsekal HW Daendels, Marsekal yang diplesetkan jadi “Mas Galak”, karena kegalakannya keterlaluan. Ia membunuh ribuan orang dalam proyek Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan—jadi ingatlah yang bekerja di Kantor Pos, atau kita yang menikmati jalan lebar dan panjang sepanjang Jawa dari Barat sampai ke Timur, bahwa jalan dan kantor pos sejak semula adalah pos-pos perlintasan barang-barang hasil pertanian dan perkebunan, juga dokumen-dokumen rahasia kolonial, maka untuk melancarkannya, guna mempersingkatnya, memendekkan jaraknya, melipat ruangnya, maka dibuatlah proyek besar: Jalan Daendels-Jalan Raya Pos. Sehingga apa yang kita nikmati sekarang adalah hasil cucurah darah leluhur kita yang dipaksa dan mati digodam kurang gizi.

Dan karena Prancis menyerang Belanda, dan Raja Oranje Belanda meminta suaka pada Inggris, otomatis wilayah Hindia Belanda harus berada dalam kekuasaan Inggris, atau Inggris harus merebutnya dari Prancis. Maka kehadiran buku yang ditulis Tim Hannigan ini sangat penting, untuk kita membaca secara detil bagaimana saat Inggris tiba di Batavia, saat peperangan Inggris melawan Belanda, dan lebih fokus lagi bagaimana cerita kehidupan Raffles yang mengomando invasi pasukan Inggris ke Djocjocarta (Yogyakarta) dan Palembang, dan juga Sooracarta (Surakarta), dan Banjarmasin sehingga kita menanggung akibatnya.

Mulanya Raffles seorang Sipil. Pada September 1805 ia dipercaya sebagai juru tulis saat datang pertama ke Penang (sekarang: Malaysia). Ia baru berusia 24 tahun dan baru saja menikah dengan janda berusia 34 tahun bernama Olivia Mariamne yang tugunya kini berdiri di Kebun Raya Bogor. Melihat jejak masa kecilnya, Raffles dilahirkan di geladak kapal Hibberts Co. sebuah kapal budak, sebagai anak pertama dari enam bersaudara, dan karena koneksi pamannya ia mendapatkan kerja, yang sekolahnya terhenti karena bekerja, dan kini namanya harum sebagai bapak pendiri Singapura, yang namanya kini megah sebagai nama hotel di Singapura.

Tetapi saat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Raffles telah “begitu berani” melakukan sesuatu yang Belanda pun tak berani melakukannya, yaitu menyerang istana pribumi yang disakralkan, istana yang dilindungi Ratu Laut Selatan. “Tidak percaya, lihat bagaimana kehancuran dan nasib orang-orang Inggris yang menduduki Jawa, khususnya Raffles dan para pembantunya yang tak menghormati Ratu Laut Selatan!” Mungkin begitu maksud Tim Hannigan menulis tentang Raffles di Jawa, baik saat kedudukannya sebagai Gubernur Jenderal, maupun saat diturunkan jabatannya jadi Residen di Bengkulu, yang mana sebagi Gubernur Jenderal setelah Raffles digantikan John Fendall.

Tim Hannigan seakan-akan melalui buku ini ingin membuktikan bahwa justru karena Inggris-lah yang telah menghancurkan semuanya. Ia yang menghancurkan tatanan Nusantara, Jawa dan Pelembang khususnya, menghancurkan tatanan dalam waktu sekejap, tapi dampaknya sangat besar sampai seabad kemudian di Nusantara.

Memang, dari pelajaran biologi kita mengetahui bunga Rafflesia Arnoldi, nama yang disematkan pada Raffles, ia yang merintis pengumpulan segala jenis tetumbuhan di Nusantara, yang pada 1817 berdirilah Kebun Raya Bogor berkat ketekunan Reinwardt, seorang ahli botani dari Jerman. Kebun ini berada di belakang istana Buitenzorg, tempat dulu kedudukan Raffles menjalankan tata administraturnya.

Ia juga dikenal sebagai yang memperkenalkan berbagai candi di Jawa, terutama Borobudur yang mulai diperhatikan dunia lewat buku monumentalnya “The History of Java”. Bahkan menurut Tim Hannigan, Raffles menyusun buku The History of Java, karena ingin memandang dirinya sebagai seorang liberal, bahwa kedudukan Inggris di Jawa akan sangat bermanfaat bagi kemajuan Jawa dan sekitarnya. Ia sangat ingin menyangkal pandangan Belanda yang menganggap orang Jawa pada dasarnya “sangat pemalas dan tidak sensitif”. Ia berkata, “bila penduduk pribumi akhirnya terkadang bodoh, maka itu bukan disebabkan rendahnya kualitas ras tersebut, melainkan akibat pemerintahan buruk raja lalim pribumi dan VOC secara berabad-abad…Kebesaran leluhur mereka terdengar seperti dongeng dalam mulut orang Jawa yang telah mengalami kemerosotan,” tulisnya. Ia punya penjelasan sendiri yang sederhana atas penyebab ketidaktahuan dan kemerosotan itu: Islam..

Itulah menurut Tim Hannigan bahwa keburukan dan yang paling menghancurkan Nusantara saat kolonialisme Inggris dibandingkan Belanda, di samping memang ada sebagian yang paling ramah dan mengagumkan bagi Indonesia adalah berkat Raffles dan konco-konconya. Ia yang dibantu Rollo Gillespie, seorang Irlandia bertubuh kecil sebagai gubernur militernya, yang kemudian digantikan oleh jenderan Miles Nightingall karena sering adumulut dengan Raffles.

Menjalankan roda pemerintahannya, Raffles dibantu Otho Travers sebagai ajudannya sekaligus walikota Batavia, lalu Robison sebagai Residen Palembang dan yang diutus pertama menemui kesultanan Sooracarta (Surakarta) dan Djocjocarta (Yogyakarta), John Crawfurd sebagai Residen Yogyakarta dan yang menyarankan agar memberikan wilayah otonom dalam kerajaan Yogyakarta kepada Pakualam—seperti Mangkunegara dalam kerajaan Surakarta, juga ia yang menulis “History of the Indian Archipelago”. Lalu terdapat Alexander Hare sebagai Residen Banjarmasin yang punya disorientasi seksual seperti tokoh Kurtz dalam novel-novel karya Joseph Conrad, dan tentu istrinya, seorang yang suka pesta, lebih tua dan janda saat dinikahi Raffles, juga yang paling utama adalah John Leyden: seorang penyair nan cendekiawan dari Skotlandia, sebagai guru Raffles sejak pertemuan pertama mereka di Penang.

Dalam mengumpulkan tetumbuhan yang berkembang jadi Kebun Raya Bogor itu, Raffles dibantu Thomas Horsfield, seorang dokter kebangsaan Amerika yang sangat menyukai dunia tumbuhan. Lalu pengumpulan artefak kuno sehingga lahirlah The History of Java, ia dibantu seorang Belanda, Hermanus Christian Cornelius yang sudah melakukan survei awal Prambanan pada 1807. Dibantu Kolonel Colin Mackenzie yang sukacita menemukan reruntuhan Prambanan dan Loro Jonggrang, ada William Marsden yang juga menulis buku “The History of Sumatra” yang terus berkorespondensi dengan Raffles guna membantu penyempurnaan bahan penulisan bukunya, dan terakhir karena bantuan Pangeran dari Sumenep Madura, dan para sejarawan di kesultanan Yogyakarta dan Surakarta, yang membantu Raffles buat menerjemahkan tulisan naskah jarahan dan salinan prasasti kuno di Jawa, sehingga lahirlah karya monumental Raffles yang oleh Tim Hannigan, sebenarnya itu karya plagiat.

Raffles kemudian dipecat sebagai Gubernur Jenderal, dari Inggris kembali ke Bengkulu memegang jabaran Residen, pada penghujung 1819, kala Inggris bersaing dengan Belanda, dia berhasil membeli sebuah pulau dari Sultan Johor, yang wilayah kekuasaannya kala itu terletak di sepanjang pesisir Barat semenanjung Malaya. Sebuah pulau yang mulanya penuh belantara yang dihuni suku-suku Melayu, pulau itu mula-mula bernama Singha Pura, kota singa dalam bahasa Sansekerta, lalu kemudian kerap disebut Singapura, yang merupakan salah satu dari tiga Straits Settlements, bersama dengan Penang dan Malaka, sebagai titik wilayah yang dikuasai Inggris.

Straits Settlements adalah perjanjian antara Belanda dan Inggris untuk membagi semenanjung Malaya dan sekitarnya menjadi zona Belanda di selatan dan zona Inggris di utara. Di tahun-tahun selanjutnya Singapura tumbuh sebagai kota dagang dan pelabuhan, dan dengan pesat mengungguli Malaka yang sebelumnya di bawah kuasa Portugis lalu Belanda, dan selama berabad-abad sebelumnya merupakan pintu perdagangan utama antara Barat dan Timur.

Dalam kurun 50 tahun di bawah Inggris, Singapura tumbuh menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar dari Kerajaan Inggris Raya. Singapura ditata dengan sempurna sebagai kota yang megah, dilengkapi pelabuhan yang terus-menerus berkembang serta terkenal lantaran memiliki jalur wisata yang indah sepanjang tepian laut, dilengkapi gedung-gedung yang tak kalah megahnya dengan yang ada di pusat London.

Sebagian besar perwira, pejabat, dan pengusaha Singapura tentu didatangkan langsung dari India, sebagaimana sebagian serdadu dulu yang menyerang Batavia dan Yogyakarta adalah orang India, yang biasa disebut “Cipaye”. Tapi di samping itu, harus ada komprador untuk membantu atau penyeimbang, yaitu perantara kaum kolonial dan parakolonial yang biasanya orang-orang Cina; ia yang setia bersekutu tetapi juga berpamrih. Mereka bekerja sebagai bayangan, tanpa gerakan dan tindakan yang mencolok mata, tahu-tahu usaha mereka berkembang pesat. Mereka adalah teman setia Inggris yang menumbuh-suburkan Singapura, hingga akhirnya sekarang menguasai segala lini di Singapura.

Tapi kenapa dari Inggris Raya ke Cina? Dalam catatan “Dari Penjara ke Penjara”-nya Tan Malaka, ia yang beberapa kali singgah dan melihat perkembangan Singapura pernah risau ketika orang-orang Melayu kian tersisihkan di Singapura yang adalah tanah Melayu. Tanah-tanah yang sebelumnya ditempati orang Melayu pelan-pelan beralih dikuasai Cina. Memang karena sejak semula Cina sudah jadi anak emas penguasa, terutama saat pendudukan Inggris. Memang semula kapal-kapal uap Cina dari yang termasyhur sejak kapal ekspedisi Laksamana Cheng-Ho, mereka berlayar membawa ratusan bahkan ribuan Cina. Mereka singgah di Pelabuhan untuk dijadikan kuli kontrak oleh kantor-kantor agen milik pengusaha-pengusaha Cina.

Lalu kenapa mereka mendapat hati dari pribumi? Kita tahu ada yang kita sebut Baba. Ialah komunitas yang dirintis sejak abad ke-15, yaitu ketika Putri Hong Li Po, anak perempuan Kaisar Cina datang ke Malaka yang disertai 500 pelayan untuk menikah dengan sang Sultan, tentu setelah berpindah agama dan memeluk Islam. Itulah “mahar” yang selanjutnya membuat orang-orang Cina daratan mulai berdatangan dalam jumlah besar, terutama dari Teochiew dan Fukien. Mereka bebas berkeliaran mendirikan komunitas sendiri dan kaya, sampai mereka pun tak segan-segan dan jor-joran menyumbangkan dana untuk kemajuan kota. Mereka menciptakan dinasti perdagangan setempat yang kuat, semisal keluarga Yoe, Kwok, Tong, dan Tan.

Inggris yang telah menduduki Jawa, yang menjadikan Cina sebagai komprador, akhirnya mereka tak bisa sepenuhnya mampu mengendalikan kehidupan mereka. Beragam komunitas Cina yang ada di Singapura akhirnya sebagai penguasa, baik dari sisi ekonomi lalu berlanjut ke politik, dan juga pendidikan, setelah Singapura ditinggalkan Inggris sepenuhnya. Kini Singapura beralih kuasa sepenuhnya ke Cina, dan penduduk Jawa masih nelangsa melihat negerinya “kalah” pamor dari Singapura.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori