Oleh: Kyan | 15/02/2016

Dilwale

Dilwale

Adegan awal, ada seorang pencuri, atau katakanlah seorang kakak yang rela mencuri, demi keperluan adiknya. Ia rela menanggung kebutuhan adiknya dengan rela melakukan apa saja. Sebagai kakak ia mengambil tanggung jawab sebagai kepala keluarga setelah ditinggal kedua orang tuanya. Ini adegan mungkin biasa. Dalam kehidupan sehari-hari hubungan kakak-adik memang harus saling melindungi, tapi tak sampai harus mencuri.

Tapi di India, sesaudara dalam tradisi India, ada yang disebut Raksha Bandhan—tentu tahu namanya gelang “bandhan”. Ialah sebuah upacara perayaan cinta antar saudara, perayaan yang diperuntukkan bagi kakak-beradik untuk saling menegaskan cinta mereka, sebagai hubungan bersaudara, atau hubungan kerabat, terutama antara laki-laki dan perempuan. Nah, Dilwale (2015) khususnya, dan film-film hindi lainnya, sering mengangkat soal begitu lekatnya hubungan kakak dan adik.

Raksha bandhan, nama dari upacara diambil dari bahasa Sansekerta, yang berarti ikatan atau simpul perlindungan. Kata raksha artinya perlindungan, dan bandhan berarti mengikat. Ini merupakan tradisi kuno peradaban lembah Indus yang dimulai sekitar 6 ribu tahun lalu. Dilaksanakan biasa pada hari bulan purnama (Shravan Poornima) pada bulan Shravan dari kalender lunisolar Hindu.

Meski dalam Dilwale (2015) tidak ada adegan festival demikian, tapi terasa kental tema ceritanya mengangkat betapa dalamnya hubungan kakak-adik, sebagai kisah plus dari cerita utamanya yang bagaikan Rome-Juliet versi India. Dilwale (2015) boleh kita sebut sebagai duplikasi kisah klasik Shakespeare tentang kisah cinta dari dua keluarga yang bermusuhan. Film yang belum lama rilis dan dibintangi Shah Rukhan Khan (SRK) bersama Kajol Devgan ini tergolong bercerita biasa, dan mungkin juga absurd, tapi ada catatan khusus tentangnya.

Film hindi memang tak hendak jadi realisme, atau menggambarkan sebagaimana adanya. Tapi justru karena absurd maka memancing imajinasi untuk kita memulai dari yang sederhana. Justru karena sederhana, sebuah produksi yang melibatkan ratusan atau ribuan orang dapat menghasilkan keuntungan jutaan sampai milyar, padahal temanya begitu-begitu saja. Ya soal cinta dengan racikan dan bumbu-bumbu manisnya.

Berawal dari ide yang mungkin dianggap kecil, sepele, sederhana, tak diperhitungkan, tapi dengan ketekunan untuk menemukan “pembeda”, yakinlah nanti akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Misalnya kita ingin menulis tentang cinta. Cerita cinta dari dulu sama saja sejak Yusuf-Zulaekha, Romeo-Juliet, sampai Cinta Fitri. Tapi dengan tekun menulis, menuliskan apa saja terkait kisah cinta sendiri, yang terus masih jomblo sampai saat ini, kalaupun ya belum berhasil sekarang, itu bukanlah sesuatu yang sia-sia pada akhirnya.

Sebuah film laga ya begitu-begitu saja, ya film India akan selalu saja bertema keluarga. Meski dibumbui adegan laga, ada adegan tembak-menembak, ada adegan yang seakan berlebihan, ada cinta yang tak selesai, ada juga cinta yang selebihnya harus selesai sebagai anutan moral bagi yang sudah membeli tiket dan meluangkan waktu buat menontonnya.

Tapi sebenarnya lebih kuat mana karakter cerita Dilwale (2015) dengan Dilwale sebelumnya—judul lengkapnya: Dilwale Dulhaniya Le Jayenge (1995) sebagai film terlaris di Mumbai pada masanya yang dua-duanya diperankan mereka berdua. Sebelum kesuksesan Dilwale (1995), SRK dan Kajol pernah juga membintangi film Baazigar, Karan Arjun, baru Dilwale Dulhania Le Jayenge, lalu Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Kushi Kabhi Gham, My Name is Khan, dan baru reuni kembali, dipertemukan oleh Rohit Shetty dalam Dilwale yang baru diputar.

Catatan khusus, saya tak mengira cantiknya Kajol sangat berbeda pada film ini. Terlepas karena efek kamera, atau karena, atau padahal sudah menikah dan punya anak, Kajol memang punya aura tersendiri pada setiap filmnya. Apalagi dipasangkan dengan Shah Rukh Khan, “keduanya memiliki hubungan unik yang justru membuat mereka terlihat bagus di layar,” terang Abbas Mustan, sutradara pertama yang mempertemukan mereka berdua dalam film Baazigar.

Meskipun sisi cerita kedua film ini terasa absurd, seperti tokoh pemuda (SRK) dari London, dari mana ia bisa tahu kampungnya si wanita (Kajol) di pedesaan India, atau betapa mudahnya si Veer (Varun Dhawan) memaafkan Shindu yang selama ini telah mencuri aksesori mobil dari tempat kerja mereka. Atau kenapa sangat lama terbongkar soal ketidakbenaran dalam tragedi saling menembak antara ayahnya Meera dengan ayahnya Kaali saat mereka bertemu pertama kali, yang selama ini sebagai musuh bebuyutannya, tapi akan memulai hubungan baru untuk peresmian cinta anak mereka, antara Meera dengan Kaali atau Raj Bhai..

Tapi terakhir penting buat dicatat oleh sebagai lelaki. Ketika ada perempuan yang mengiyakan untuk bertemu, yang memberi waktu lima menit sekalipun, itu janganlah disia-siakan. Pergunakan kesempatan dan buat hati perempuan tercuri dengan kejutan demi kejutan yang kau berikan. Sekian.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori