Oleh: Kyan | 21/02/2016

Fitoor: Seni Berekspresi dan Mengeksplorasi

Bertumpu pada dua hal, yaitu bagaimana berekspresi dan bagaimana cara mengeksplorasi diri. Mediumnya baik melalui seni tulisan, lukisan, atau patung sebagai ragam bentuk komunikasi ekpresi, setelah kita mengeksplorasi kediri(ilahi)an kita.

Fitoor-2016.

Mau tulisan singkat atau panjang, atau lukisan abstrak atau pun vulgar, atau patung yang merupa bentuk orang atau mereliefkan sesuatu dan benda tertentu, termasuk status sosmedmu, dan gambar serta video yang kau unggah di akunmu, adalah jenis cara berekspresi, setelah kita mengalami sekaligus menyadari akan sesuatu. Meski tanpa suara kita mengucap “gua bangett itu”.

Adalah Fitoor yang saat ini filmnya masih tayang di bioskop Indonesia. Film yang diadapsi dari novel karya Charles Dickens berjudul “Great Expectations”, arahan sutradara Abhishek Kapoor dan ditulis bersama Suprati Sen, merupakan film yang berbicara seni mengeksplorasi dan berekspresi diri. Film ini bercerita Noor Nozami dan Firdaus Jaan Naqvi yang bermula dari sebuah desa di pinggir danau di Kashmir, keduanya tumbuh bertetangga. Noor kecil suka main ketapel sedangkan Firdaus kecil sukanya menunggang kuda. Tentu satu dari golongan miskin dan perempuannya dari keluarga kaya, disparitas yang selalu jadi seting sebuah cerita.

Setelah menonton tuntas film ini, sebagian yang ditawarkan adalah yang pertama, saya berpikir yakinlah bahwa kebaikan yang kau tanam akan tumbuh dengan sendirinya. Suatu saat nanti akan ada yang merasa berhutang budi, lalu berupaya untuk dapat melunasi atas kebaikan-kebaikan yang kita tanam. Meski semestinya kebaikan ya kebaikan sebagai jalan kebenaran, sebagai tirakat kegembiraan jiwa yang murni. Tanpa berharap nanti kebaikan-kebaikan akan meresonansi. Tak sama sekali terpikir untuk berharap sebagai “simpanan” di rekening hubungan sosial, atau sebagai “hutang” yang nanti harus dikembalikan.

Tapi kemurnian jiwa adalah berhutang budi—seperti pengertian “Islam” ialah kita yang sudah berhutang pada semesta ketiadaan, digambarkan dalam film ini, ada seorang penjahat yang terdesak lapar, lalu seorang anak kecil memberinya makan. Maka di hidup suksesnya si penjahat itu terus berupaya selalu untuk melunasi, membayar “pinjaman” plus bunganya yang berlipat. Meski terjadi mis-persepsi “pelunasan” itu dianggap terlalu berlebihan. Tapi itulah ekspresi si penjahat (diperankan Ajay Devgan) yang pernah dibantu Noor Nizami.

Lalu yang kedua, sesuatu yang membikin sedih, sakit, kecewa, marah adalah sama di belahan bumi mana saja. Tanpa memandang ras, suku, dan agama apa saja. Tapi kita bisa belajar dari Noor Nizami (diperankan Aditya Roy Kapur) yang seperti aku juga, Noor hanya melongo saja saat pertama melihat wajah jelita dan tak pernah berkata sejujurnya. Belajar dari Noor Nizami tentang bagaimana mengeksplorasi diri dan seni mengekspresikan sesuatu rasa. Menerima ya menerima atau sekalipun berkata tidak saat ditolak cinta. Tapi baiknya melakukan sebuah “pemberontakan” ketertolakan cinta itu, dengan cara dan sesuatu yang keseluruhannya sudah menata dan melembaga bernama seni (dan budaya), hingga sikap penerimaan itu terhormat, bermartabat, dan bahkan sebagai pembebasan finansial yang semula miskin.

Apa yang dilakukan Noor kecil saat terpikat hatinya pada gadis kecil tetangganya bernama Firdaus, meski di antara mereka berbeda strata sosialnya. Noor kecil ditertawakan Firdaus karena sepatunya bolong saking keluarganya miskin. Noor sukanya main ketapel, suka menggambar, dan merupa bentuk sesuatu. Sedangkan Firdaus sukanya menunggang kuda (dan juga cantik; lebih cantik lagi saat dewasanya; diperankan si cantik Katrina Kaif) yang merasa kehilangan saat kudanya dibawa pergi dari rumahnya. Noor kecil pun berupaya menghiburnya dengan merupa bentuk kuda mainan yang ia buat dari ranting pohon dan digantungkan di dekat jendela kamarnya Firdaus. Lalu apa itu tidak membuat Firdaus meraba hatinya?

fitoor-movie

Tapi nasib membuat Noor dan Firdaus berpisah sebelum keduanya tumbuh remaja. Firdaus pergi dari kampungnya untuk melanjutkan sekolah, atau karena kampungnya di Kashmir sudah tak aman karena rentan terjadi pengeboman. Sedangkan Noor yang ibunya meninggal sebagai korban tragedi bom Kashmir, Noor membikin “bandu” kepala yang tak sempat diberikan pada Firdaus. Seiring perkembangan usia Noor, kian dewasa menyimpan sebuah rasa pada Firdaus, tanpa diketahui pasti oleh Firdaus. Ia hanya melakukan apa saja yang dapat mengobati dan menggembirakan hatinya.

Begitu pula kau misalnya saat jatuh cinta pada pandangan pertama, atau pada akhirnya kau dikecewakan oleh seseorang, atau ketika sudah “semena-mena” diperlakukan oleh “lawan” sosial kita, atau karena usia kau sudah separuh hidup, lalu bagaimana cara mengekspresikan diri menerima semua itu. Apa yang bisa kita lakukan ketika seakan segalanya buntu saat usia terus menua sementara kreasi hidup kita begitu-begitu saja.

Apa yang dilakukan Noor hanya terus mengekspresikan apa yang jadi simbol terkait Firdaus, hingga membuat Noor dewasa sebagai pekerja seni dengan terus mengeksplorasi sejarah masa kecilnya sampai dewasa. Begitu pun kita dapat melakukan hal yang sama seperti Noor, yang tentu dengan kegembiraan dan bukan dianggapnya beban.

Sebagai pemuda seperti Noor, ia pun pergi ke kota guna menumbuhkan talentanya. Pada akhirnya di sebuah pesta, tak dinyana bertemulah ia kembali dengan Firdaus, tambatan hati masa kecilnya. Karya-karya Noor pun kian dikenal dan diperhitungkan serta meraih penghargaan dan laku dijual. Melihat keberhasilan itu, tapi Noor lupa pada sepatunya yang belum diganti. Saat pameran karya-karya dirinya, Firdaus menelepon Noor untuk mengingatkan pada sepatunya. (Adegan ini saya jadi berpikir menjadi lelaki itu harus menjaga penampilan buat terpikat perempuan. Bagi seniman atau yang sukanya seni sekalipun sering lupa pada penampilan diri, tapi ingatlah harus berpakaian yang layak dipandang oleh perempuan).

Tapi meskipun sudah terkenal dan sudah tak lagi miskin, mungkin Noor di mata Firdaus tetaplah belum apa-apa. Ungkapan rasa pada dirinya dianggap berlebihan. Sejak awal mereka telah saling mengikat janji sebagai sahabat semata. Tapi bagi Firdaus tak pernah rasa sahabat menjadi rasa cinta. Tapi Firdaus lupa bukankah cinta adalah bentuk lain dari persahabatan? Dan pernikahan adalah bentuk lain dari ikatan sosial?

Firdaus belajar pada ibunya (diperankan aktris senior Tabu) yang sampai tua masih menyimpan cinta sejatinya, meski kekasihnya dulu telah meninggalkannya, bahwa cinta sejati tak akan pernah dibagi. Ia pun menyadari bahwa cinta tak pernah datang terlambat. Tapi ia menunggu saat yang tepat.[]

fitoor-movie-headline


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori