Oleh: Kyan | 22/02/2016

Pada Mulanya..

Saya mengenal Umberto Eco hanya melalui buku satu-satunya, “The Name of The Rose” yang ketika membuka halaman pertama dan baris pertamanya saya membaca kalimat: “Pada mulanya adalah sabda”. Ini kalimat yang sering saya tiru dan saya gunakan setiap mengurai suatu masalah yang hendak saya tuliskan.

Umberto - The Name Rose

Umberto Eco – The Name of The Rose

Tapi cukup dua kata awalnya saja “pada mulanya..” yang saya sambung dengan kalimat berikutnya yang saya anggap sebagai tigger dan menurut pengamatan saya bahwa itulah sebab awal suatu masalah terjadi. Ketika menjabarkan sebuah masalah, selalu ingin mencari perkara sebab-sebab dan akibatnya, sampai yang dianggap causa prima dalam pertimbangan rasionalnya.

Misalnya saat hendak menelisik tentang kenapa banyak sekali orang masuk Gafatar, jadi anggota IS, atau ikut front pembela, mungkin kalimat pertama saya menulis: “pada mulanya kita tidak bahagia”. “Pada mulanya kita berharap surga dan takut akan neraka.”

Lalu kalimat berikutnya: “karena kita tidak betah di rumah kedirian kita, lalu kita pergi ke pasar ramai sebagaimana orang-orang, yang barangkali di sana dapat kita menemukan obat penawar atas ketakbahagiaannya yang sedang dicari di dunia. Yang menyuruhnya pergi bisa karena bawaan alamiah pribadi, atau dari paksaan tetangga, atau suruhan penghuni rumah kita sendiri. Entah sejak dari rumah sudah membawa informasi berdasarkan iklan di mimbar dan televisi, atau dari mulut lewat mulut, atau dari tetirah keheningan sejati.

Begitu sampai di pasar, sudah tentu banyak sekali di masing-masing lapak yang menjajakan barang yang katanya membawa harapan-harapan baru, keluaran model terbaru, dari blok-blok semacam fruedian, marxisme, hegelian, mekanika quantum. Atau dari koridor materialisme, kapitalisme, sosialisme, bahkan komunisme, dan islamisme. Semua menawarkan inilah sesuatu yang sejati, paling sejati, bukan aspal atau jadi-jadian nabi palsu. Percayalah dengan meminum pil ini bisa cespleng masuk surga, dan ini obat penawar menghindari neraka.

Dengan SPG dan SPB mumpuni, yang mampu mengkomunikasi dan mensugesti, dengan agitator sampai provokator, serta iming-iming perempuan, pernikahan, selangkangan, tentu ada sebagian yang tak jadi membeli, ada yang masih dan sempat ragu-ragu, dan tentu banyak sekali orang langsung membeli. Sangat bergantung pada koherensi dan koneksivitas masing-masing pribadi. Mereka berlalu-lalang, tawar-menawar, “like” dan “share” saling memberi informasi.

Tapi ada juga dari semua itu, ada orang yang pergi ke pasar cuma mau jalan-jalan saja, cuma mbambung saja dari blok ke blok, dari koridor ke koridor buat mencicipi sedikit olahannya. Ia tak benar-benar ingin membeli, karena menurutnya rasanya bau tengik, atau harus punya uang dong. Seperti begini tawarannya: ada uang anda kenyang, di sini tersedia macam variasi olahan pangan dari setiap budaya dan tradisi.

Tapi setelah kenyang, lalu apa. Mencari uang sekeras-kerasnya, selelah-lelahnya toh setiap hari dan setiap makan cuma sepiring nasi. Tak pernah ingin menambah satu piring lagi kalau perut sudah melebihi sepertiga ruang untuk makan, sepertiga ruang untuk minum, dan sepertiga ruang untuk nafas. Namun tetap ada setelah kenyang ada yang lagi-lagi membeli dengan beragam variasi menjejali perutnya sendiri karena tak mamu berbagi.

Lalu dari lapak freudian, kau setelah makan kenyang apalagi lauknya daging domba dapat memacu hormon testosteron. Setelah perut dipenuhi, akan turun ke bawah, pada selangkangan yang harus kau puasi. Satu perempuan, dua, tiga atau empat sebagai pembuktian seorang yang perkasa dan banyak rezeki. Katanya masa lelaki saleh dan kaya istrinya cuma satu. KB itu produk yahudi.

Dan nasib bagi yang tak punya modal, ia harus mengumpulkan uang untuk bisa pergi ke pasar dan menawar mengikut keumuman lingkungannya. Terpikat orang-orang yang sekembali dari pasar banyak bercerita, “Oalah Mas, di sana aku merasakan ketenangan hakiki. Cobalah ke sana dan mintalah jodoh terbaik biar hidupmu tak kesepian begini. Ongkos nanti juga diganti.”

Lalu tiba-tiba saja lewat si mbambung tadi sambil nyeletuk “hedonisme religiusitas pribadi”. Seketika kemudian tanpa diundang preman pasar datang dan beraksi, “kafir loe, musyrik you, bid’ah kamu”.[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori