Oleh: Kyan | 08/03/2016

Mimpi-mimpi Einstein

Alkisah serupa sekawanan burung bulbul adalah waktu yang melesat, terbang mengangkasa, lalu satu di antara mereka ada yang hinggap di dahan sebuah pohon. Kemudian ada orang yang coba menangkapnya, menjamahnya, mengurai apa kandungannya, lalu hasil temuannya—setelah membelah dada waktu, mengurai jeroan waktu, melakukan kuantifikasi yang ditemukan dalam waktu dan mengubahnya jadi batu, jadilah sebuah teori mekanika kuantum, relativitas Einstein, seseorang itu adalah Albert Einstein.

Alan Lightman, __Einsteins DreamTapi apakah benar-benar ia menangkapnya? Bila waktu diragukan, waktu adalah kepastian. Bagi orang religius waktu sebagai bukti adanya Tuhan. Semua yang mutlak adalah bagian Yang Mahamutlak. Di mana ada kemutlakan, di situlah waktu berada. Karena itulah, para filsuf menempatkan waktu sebagai pusat keyakinan mereka. Maka Einstein pernah berkata pada Besso, sahabatnya, “Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati Tuhan”.

Ya, bagi sebagian orang waktu ibarat penguasa tanpa batas, waktu adalah kemutlakan, waktu adalah kejernihan untuk melihat salah dan benar, bahkan waktu adalah uang. Tapi bagi Einstein waktu ibarat mainan dadu yang ia lempar dan lambungkan, yang kembali lagi pada dirinya, seperti bumi berputar melingkari miliknya sendiri. Seperti dadu sebagai tubuh yang diperintah, bukan dipatuhi. Seperti burung yang mengepak jauh melintasi lembah dan samudera, menuju pulau tak bernama, akhirnya ia kembali jua.

Demikian waktu ibarat lingkaran yang mengitari dirinya sendiri, mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, selama-lamanya bagai setiap jabat tangan yang berulang, setiap ciuman yang urung dilakukan, atau setiap kata dan oborolan yang berulang persis pedagang akan saling tawar-menawar lagi, seperti kaum politikus yang mengkhianati janji kampanye tapi dipercaya lagi, seperti pelaku korupsi sesudah dipenjara masih rakyat tak segan memaafkannya lagi.

Memang demikian segala terjadi saat ini sudah terjadi jutaan kali sebelumnya, dan yang nanti berulang di depan. Tapi apakah ia kebetulan? Seperti cerita Klausen yang bila terlambat pulang maka ia tidak akan sempat membelikan salep bagi istrinya yang sudah beberapa minggu mengeluhkan kakinya yang sakit, dan lantaran itu istri Klausen mungkin memutuskan untuk tak jadi berlibur ke Danau Jenewa. Jika ia tidak pergi ke Danau Jenewa pada 23 Juni 1905, ia tidak akan berjumpa dengan Catherine d’Epinay yang sedang berjalan-jalan di dermaga pantai, sehinga ia tidak bisa mengenalkannya pada anak lelakinya, Richard Klausen. Lalu, Richard dan Catherine tidak jadi menikah pada 17 Desember 1908, dan Friedrich Klausen tidak akan lahir dan tidak akan menjadi ayah bagi Hans Klausen, dan tanpa Hans Klausen, Eropa bersatu di tahun 1979 tidak akan pernah terwujud.

Tapi benarkah burung tangkapan Einstein diurai secara benar? Di perjalanan waktu membawa keteraturan yang terus meningkat. Keteraturan adalah hukum alam, kecendrungan alam semesta, arah kosmis. Jika waktu adalah anak panah, maka sasarannya adalah keteraturan. Masa depan adalah pola, penataan, kesatuan, sementara masa silam adalah acak, kebingungan, perpecahan, dan penghilangan.

Tapi apakah masa silam? Mungkinkah masa silam yang demikian kuat itu tak lebih dari sekadar ilusi? Mungkinkah hanya sekadar kaleidoskop, satu pola bayangan yang silih berganti, dengan gangguan yang tertiup secara tiba-tiba, satu tawa, satu pikiran? Di dunia masa silam yang bisa berubah, masa depan tidak akan dapat dibedakan dari masa kini. Kepingan peristiwa akan seperti satu petikan adegan dari ribuan novel. Sejarah menjadi kabur, seperti pucuk pohon yang diselimuti kabut malam.

Dan apakah masa depan? Di dalam dunia tanpa masa depan, setiap perpisahan adalah kematian. Di dunia tanpa masa depan, setiap kesedihan adalah final. Di dunia tanpa masa depan, setiap gelak tawa adalah yang terakhir. Di dunia tanpa masa depan, setelah kekinian adalah kehampaan. Di dunia tanpa masa depan, tiap saat adalah saat terakhir, orang-orang bergantung pada masa kini bagai bergayut pada tepi jurang, dan sebaliknya sebagian orang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan.

Namun ketika waktu benar-benar berlalu, kita merasa sedikit sekali yang berubah. Apa yang terjadi dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari adalah ibarat perjalanan yang sama, seperti waktu bergerak lamban sekali. Karena lamban, maka banyak orang merasakan penderitaan—karena kalau sesuatu berlangsung cepat, penderitaan tak dapat terasa. Waktu seperti merenggang dan melebar seperti jaringan saraf yang dari jauh tampak bersambung, tetapi dari dekat terlepas satu-satu, dengan celah-celah berukuran mikroskopik tiap helainya.

Kehidupan ibarat satu peristiwa dalam satu musim di musim gugur atau hanya satu butiran salju. Kehidupan adalah bayangan yang bergerak secepat pintu ditutup. Kehidupan adalah gerakan singkat lengan dan kaki. Hidup kita sejak kelahiran, sekolah, merasakan kisah cinta, perkawinan, bekerja, sampai menjalani masa tua ibarat semuanya dijalani dalam satu perjalanan matahari, dalam satu penggal cahaya. Ketika usia lanjut tiba, kita menyadari bahwa kita tidak mengenal siapa-siapa. Teman-teman silih berganti seiring pergantian sudut matahari. Rumah-rumah, kota-kota, pekerjaan-pekerjaan, kekasih-kekasih, semuanya telah direncanakan untuk bisa masuk dalam kerangka kehidupan yang hanya satu hari.

Maka kenapa orang serba tergesa? Karena ya tadi bahwa dunia waktu berlalu terasa lambat bagi orang-orang yang tidak bergerak. Dulu ketika kecepatan tidak pernah diperhatikan, sampai ditemukannya mesin pembakaran internal dalam era transportasi cepat, dan setelah penemuan mesin uap disebarluaskan, menjadi tak seorang pun yang berjalan pelan lagi. Kecepatan terbawa hingga malam hari saat semestinya istirahat, pada malam orang-orang bermimpi tentang kecepatan, kemudaan, dan kesempatan, dan kecepatan menjadi obsesi

Begitulah relativitas waktu ibarat bulbul yang terbang kala dilihat oleh yang sedang berjalan, berlari, atau diam, ketiganya menyatakan kebenarannya sendiri. Setiap orang berjalan sendiri dan saat ini. Setiap orang melekat pada satu waktu, kehidupan masa silam tidak pernah bisa berbagi dengan masa kini. Waktu bagai sesuatu yang tidak kontinyu, tidak objektif. Bagi anak-anak, waktu bergerak terlalu lambat. Maka ia selalu terburu-buru dari kejadian ke kejadian lain, sehingga tak sabar menunggu lebih lama lagi. Sementara bagi kaum tua waktu berlalu demikian cepat. Mereka berhasrat menahan satu menahan satu menit saja, untuk minum teh saat sarapan pagi, atau untuk menatap pemandangan senja saat matahari mau tenggelam. Mereka mati-matian menginginkan waktu berhenti, tetapi ia terlalu renta dan lamban untuk menangkap dan melompat di luar jangkauan.

Demikianlah ketidakpastian adalah nasib manusia. Bila masa depan adalah kepastian, maka tak ada salah atau benar, tak seorang pun terbebani tanggung jawab. Salah dan benar mensyaratkan adanya kebebasan dalam memilih, tetapi kalau setiap tindakan telah dipilihkan, maka kemerdekaan untuk memilih tak mungkin lagi ada. Bayangkan saja kalau ada seorang bocah yang melihat dirinya menjadi tukang kembang di masa depan, mungkin ia memutuskan untuk tidak masuk universitas. Karena bagaimana orang bersedia kuliah bila tak ada jaminan mendapat kerja di kemudian hari.

Namun sebagian ada yang coba mengubah masa depan. Maka mereka belajar hidup tanpa ingatan. Ingin ia merasakannya dengan riang gembira. Ingin cukup menikmati saja dalam berbagai peristiwa, bukan dalam ramalan, bertindak tanpa harus ada penjelasan, tanpa harus melihat pada masa silam. Bila masa silam berakibat tak menentu pada masa kini, tak usahlah terlalu merenungi lalu. Dan bila masa kini hanya berakibat kecil saja bagi masa depan, tak perlulah terlalu membebani tindakan saat ini. Biarkan saja kesungguhan hati bekerja di segala asa.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori