Oleh: Kyan | 15/03/2016

Lolita

Pledoi pembelaan menjadi sebuah buku monumental. Tentu kalau kisah ini benar dalam dunia peradilan, yang membawa si terhukum, seorang tua yang cabul dan sempat menuliskan pengakuannya, menjadi memoar terkenal atas perjalanan hidupnya yang penuh cabul. Tapi benar tidaknya kisah ini, sebuah cerita seringkali tak dapat dikategori fiktif atau fakta. Karena bisa saja seseorang menulis kisah fiktif, tapi sebenarnya fakta, atau benar sedang menyuguhkan fakta, tapi berdasarkan bukti-bukti fiktif atau mengada-ada.

Vladimir Nabokov, __LolitaTapi Lolita, inilah pengakuan yang mengguncang. Seorang Nabokov, sastrawan kelahiran Rusia mengisahkan pada kita, meracik cerita yang menampilkan karakter seorang terpelajar, bahkan profesor—di mana yang namanya kaum cendekia diharapkan mampu mengendalikan imajinasi liarnya. Tapi barangkali semestinya demikianlah kaum cendekia harus mampu bicara secara jujur apa yang ada di kepala dan hatinya.

Kisah Lolita tak asing sebenarnya. Belum lama sempat heboh karena media mengungkap Syeh Puji yang menikahi gadis di bawah umur menurut undang-undang. Bahkan sudah biasa di kampung-kampung masih terdapat pernikahan lelaki gaek dengan perempuannya yang masih bau kencur. Karena katanya perempuan suka cepat terlihat tua dan manapaose, berbanding terbalik dengan laki-laki yang selalu “on” meski raganya sama-sama digerogoti usia.

Dan saya belum terlalu tua dan tak merasa tertarik dengan perempuan berusia terpatuh jauh di bawah usia saya. Kalau saya menikah dengan perbedaan usia sepuluh sampai limabelas tahun masih wajarlah buat saya..haha. Kita atau saya berpikir, kenapa dapat terjadi hubungan lelaki dan perempuan yang terpaut jauh usianya, karena mungkin seperti tadi alasannya: perempuan suka cepat tua dan lekas sedikit peluang kehamilannya.

Tapi inilah novel yang berbicara tentang kejiwaan seseorang. Tentang potensi kelainan yang bisa saja hadir di kepala tiap orang, mengalami disorientasi seksual. Baiknya memahami cerita ini tiada lain untuk meningkatkan wawasan dan kewaspadaan kita sebagai orang tua untuk mampu menunaikan tugas dengan baik sebagai orang tua atau yang dituakan, yaitu menciptakan dan membesarkan generasi yang lebih baik, dengan menyediakan dunia yang lebih aman bagi tumbuh kembang anak-anak masa depan.

Saking populernya novel ini, pernah diangkat ke layar lebar dua kali, oleh sutradara Stanley Kubrick pada 1962 dan 1997 oleh sutradara Adrian Lyne. Saya tak hendak mencari-cari dulu filmnya. Setamat membaca novelnya ingin tersublimasi dulu bagaimana imajinasi saya pada alur cerita novel yang terbit pertama 1955 di Prancis. Karena ingat pada lelucon sebagai iklan sebuah buku di Amerika: “Bacalah buku ini sebelum dirusak oleh Hollywood.” Maka saya perlu membangun imajinasi sendiri dulu, sebelum akhirnya terjelaskan atau teraudio-visual menurut imajinasi si sutradaranya.

Secara singkat novel ini bercerita, seorang Humbert Humbert (HH) yang sangat menyadari kecendikiaannya, yang binal dan cabul di alam bawah sadarnya, karena benar ialah bawaan alamiahnya dimana setiap orang tidak memandang tua atau muda semua berhasrat pada pemuasan kelamin. Kau lelaki tak mau mengaku? Perempuan yang malu-malu mengaku? Soal seks memang privasi. Tapi hasrat seks ibarat kebutuhan makan yang ketika mau harus segera dipenuhi untuk segera dilupakan, karena hidup bukan cuma urusan pemenuhan selangkangan.

Secara sosial kenapa muncul seorang karakter Humbert Humbert pada siapapun kita. Pengakuan Humbert Humbert yang baru menginjak remaja melihat foto-foto tertentu di kamar hotel milik ayahnya. Ia merasa tiba-tiba ada yang bereaksi pada bagian tubuhnya. Lalu ia mengenal Annabel dan saling jatuh cinta serta sering bermain cinta selagi ada kesempatan. Mereka suka gelap-gelapan dan pernah juga ketahuan.

Namun Annabel meninggal karena tifus. Ini membawa keguncangan bagi jiwa Humbert Humbert muda. Karena keguncangan itu, menjalani masa muda di sepanjang periode gaya Eropa, persetubuhan adalah biasa dengan yang sama-sama dewasa. Tapi baginya lebih memesona adalah dengan “peri asmara mungil” alias yang masih kecil di kisaran usia 10-12 tahunan, dimana payudaranya baru bertumbuh (10,7 tahun) dan mulai tumbuh bulu-bulu kemaluan (11,2 tahun).

Pengakuan setelah Annabel, setelah pengalaman pertama bersama Annabel, sampai 80 gadis kecil pernah ia tiduri, yang katanya paling senang dengan si kecil Monique. Sebagai manusia di saat sadarnya muncul juga permenungan. Ia sering bertanya pada dirinya bahwa apa yang akan terjadi pada peri-peri asmaranya kelak, ketika dirinya telah merusak takdirnya dengan gairahnya?”

Pertualangannya sebagai pedofil pun berakhir, dengan menikahi Valeria yang berumur 20-an. Ia memutuskan menikahinya karena dia suka dan kenapa dia suka, karena ada kemiripan dengan seorang gadis kecil (gadis imut). Namun seperti banyak dialami tubuh perempuan setelah menikah, tak berselang (1935-1939) Valeria jadi perempuan gemuk yang katanya lebih mirip kodok. Dirinya berhasrat hanya ketika sedang gundah gulana atau amat terujung. Dalam kebosanan diperparah istrinya malah lebih memilih lelaki lain dan terpaksa ia ceraikan.

Memulai kehidupan baru, ia pindah ke Amerika meneruskan bisnis pamannya, dan mulailah awal pertemuan dengan Lolita. Saat ia mencari tempat tinggal, bertemulah tempat kosan di rumah Nyonyoa Haze yang janda, dengan puterinya bernama Dolores Haze, Dolly, atau Lolita.

Menempati kos di rumah seorang janda dan gadis kecilnya membuat kebiasaan lama kambuh kembali. Ia menyadari keganjilan dirinya, berkata buat dirinya “ini semua hanyalah masalah kebiasaan, bahwa tak ada yang salah sama sekali jika aku terangsang oleh gadis remaja”. Pembenaran dirinya, para lelaki Lepcha berumur 80 tahun biasa bersanggama dengan gadis berumur 8 tahun, atau penyair Dante pun jatuh cinta setengah mati kepada Beatrice Portinari yang berumur 9 tahun..”

Gayung bersambut, rupanya Dolores Haze alias Lolita juga suka padanya, yang mungkin sebenarnya ia rindu sosok seorang ayah. Kehadiran lelaki dewasa di rumahnya membuat si gadis kecil merasa tiba-tiba ada yang terisi di ruang batinnya yang sebelumnya hambar. Tapi dasar lelaki mental cabul, dan si gadis kecil ingin juga mengalami sensasi pertama, antara cinta dan hasrat seks berbaur, meski harus berebut antara ibu dan anaknya.

Tapi situasi memungkinkan adalah HH menikahi ibunya. Di saat Lolita sedang mengikuti kepanduan, nahas ibu Lolita mengalami kecelakaan tak berselang lama setelah pernikahan. Secara hukum pernikahan Lolita telah jadi anaknya HH. Namun karena sejak sebelumnya sudah terpaut hasrat di antara keduanya, maksud menjemput Lolita ke tempat perkemahan untuk dimasukkan pada sekolah berasrama puteri, Lolita malah dibawanya “kabur” mengelilingi Amerika sambil menikmati cinta terlarang antara anak dan ayah tirinya.

Demikian kisah Lolita menjadi sebuah buku monumental dan kontroversial dimana Amerika pertama kali tak bersedia menerbitkannya karena kecabulannya. Sebuah pengakuan ataukah imajinasi penulisnya tentang kerumitan pribadi manusia, juga tentang perjuangan untuk mendapatkan cinta yang dipuja, lelaki gaek Humbert Humbert pada gadis kecil Lolita.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori