Oleh: Kyan | 07/05/2016

Nusantara: Sejarah Indonesia-Amerika

Kita tidak pernah tahu apakah semata kepentingan intelektual, ketika Bernard HM. Vlekke, sejarawan Amerika menulis sejarah Indonesia: Nusantara. Seperti dijelaskan dalam pengantar bukunya, penulisannya dimulai 1941 ketika perhatian publik, kepentingan strategis dan ekonomis Amerika mulai mengarah pada Asia Tenggara setelah melepaskan “Monroe Doctrine”-nya, beberapa saat sebelum pangkalan udara Pearl Harbor dibombardir Jepang.

Sebagai intelektual, ia punya tanggung jawab moral yang mungkin berkata begini pada pemerintahnya, “Kalau tuan mau menjalin kemitraan atau melebarkan sayap pertahanan atau bahkan “mengeruk” dan menjarah kekayaan negeri-negeri Asia Tenggara, khususnya Indonesia, janganlah tanpa bekal seperti dulu Belanda atau perusahaan dagang Belanda yang ketika menginjakkan kaki di Nusantara tanpa tahu sedikitpun watak dan adat kaum bumiputera, apalagi sejarah masa lalunya.

Janganlah seperti kapten Coen yang menganggap raja-raja Jawa adalah “orang bodoh tolol yang malang” dan rakyatnya bukan saja buta huruf, tapi juga kanibal dan dengan sesama suku gemar berperang…”

Tapi bagaimanapun kepentingan penulisan buku ini, seperti juga yang dilakukan David Levering Lewis saat menulis “The Greatness of Al-Andalus” ketika tentara Amerika mendaratkan pasukannya di Irak, tugas seorang intelektual hanya menjelaskan atau memberi masukan saja agar pemerintahnya tak mengulang beberapa kesalahan.

Kalau informasinya atau pengetahuan ilmiahnya dimanfaatkan dengan baik, terbukti sudah Amerika menancapkan kuku-kuku pengaruhnya di Indonesia, berhasil mengeruk kekayaan alam bangsa pribumi, mengambil satu contoh adalah Freeport di Papua. Karena dengan pengetahuan cukup daerah tujuan, karena mengenali dan memahami karakter pribumi, maka target mengeksploitasi tanah jajahan akan mudah dan tanpa banyak rintangan dari ulah “tukang bikin ribut”.

Sial saja Belanda telat menghadirkan Snouck Hurgronje sebagai penasihatnya agar dapat memahami secara baik orang-orang taklukan dan bagaimana memadamkan pemberontakan santri Aceh, yang sultannya dianggap berkhianat telah menjalin kesepakatan dengan Amerika. Setelah Padishah Turki menyatakan pada Belanda enggan terlibat dalam urusan Belanda dan Amerika memang sedang ada maunya buat kepentingannya. Ia mencoba mengambil hati rakyat Aceh, setelah kemenangan perang Aceh atas Belanda yang jadi perbincangan hangat di Makkah, pusat umat Islam sedunia.

Bahkan ada sisi-sisi lain yang benar ketika muncul ke permukaan bahwa “merdekanya Indonesia dibantu Amerika”. Amerika banyak berperan dari perjanjian ke perjanjian, membantu diplomasi Indonesia-Belanda, bahkan penggulingan Soekarno yang dianggap “keras kepala” juga disokong CIA katanya. Orde Baru yang membuka kran lebar-lebar kapitalisme Amerika.

Bernard HM Vlekke, __Nusantara, Sejarah Indonesia.jpgSejak kapan Amerika melirik Nusantara? Mulanya Perjanjian Paris 1784 yang klausulnya menghilangkan monopoli Kompeni sebagai konsekuensi kekalahan dalam perang Prancis-Inggris-Amerika yang melibatkan Belanda. Maka terbukalah pelayaran dan perdagangan untuk negeri-negeri Eropa yang di antaranya Amerika di kepulauan Nusantara. Menurut Vlekke, itulah pertama kali hubungan langsung di antara negeri-negeri pasifik dan reorientasi Asia Tenggara ke arah Amerika.

Saat itu, Parlemen Belanda memangkas terus independensi Dagang Belanda agar lebih tunduk pada pemerintah pusat—yang mungkin karena meningkatnya jumlah hutang VOC, di saat negeri-negeri pasifik baru memulai petualangan langsung dengan Nusantara. Dasar Belanda wataknya pelit, tak melihat justru kehadiran mereka sebenarnya akan menjadi ledakan ekonomi, membuat permintaan tinggi komoditi, sementara VOC sekian lama membatasi dalam penanaman komoditi.

Salah kebijakan dan kalahnya perang menciptakan neraka sendiri. Datanglah Daendels dan disusul Raffles ke tanah Jawa membuka kran sedikit demi sedikit pengaruh Revolusi Inggris dan Revolusi Prancis yang kian menciutkan bahkan melenyapkan kekuasaan raja-raja di Nusantara. Meskipun Nusantara sebelumnya terkenal ekspedisi lautnya, tapi masih kalah jauh dibandingkan angkatan laut Kompeni Belanda, yang oleh Vlekke itu tidak dilihat oleh raja-raja Jawa khususnya guna meningkatkan angkatan lautnya, karena Mataram sendiri sebagai “negara pedalaman” yang berbasis pertanian. Bahkan raja Mataram mengejek raja sejawatnya di Nusantara, Banten yang hidup dari perdagangan.

Meskipun demikian, kerja intelektual Vlekke patut kita apresiasi, sangat bermanfaat untuk menjelaskan diri kita sendiri. Ya, tidak perlu aneh guna mengetahu diri sendiri, agar tahu kemampuan serta kekurangannya, kita suka lebih percaya pada penjelasan dari “orang lain”. Entah alasannya karena ilmiah, pendekatannya komprehensif berdasarkan metode dan data-data yang valid, bukan berasumsi sendiri pada mitos-mitos seperti dijelaskan Vlekke, ketika pujangga istana Jawa menuliskan sejarah sosialnya suka mencampur-adukkan antara mitos dan logos demi menyenangkan hati raja.

Bahkan Vlekke menganggap kebesaran Majapahit tak sebesar kenyataannya. Empu Prapanca yang menulis Pararaton dianggap terlalu melebih-lebihkan. Jangankan Sumatera, Kalimantan, dan Maluku, katanya. Sunda saja yang dekat untuk cuma agar mengakui status superior raja besar Majapahit, menimbulkan Perang Bubat yang menjadi awal kemunduran Majapahit karena tak lama Gajah Mada akhirnya undur diri sebagai maha-patih fenomenal yang wajahnya direka-reka oleh Yamin.

Diterima atau tidak penjelasan Vlekke, nyatanya Yamin dan Bung Karno membangga-banggakannya dan saat merumuskan wilayah Republik Indonesia ingin seperti peninggalan kekuasaan Majapahit di masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Apakah demikian kehendak Belanda? Ingin agar kaum cendekia bumiputera lebih melirik Nusantara pra-Islam dan supaya pelan-pelan padam Nusantara-Islam.

Tapi dari penjelasan Vlekke, terumuskan bahwa munculnya kesadaran nasional menuju kemerdekaan ialah berawal dari alam-sosial Nusantara-Islam. Sebelum revolusi fisik, revolusi pemikiran diawali Sarekat Islam yang semula Sarekat Dagang Islam dan Budi Utomo. Inilah bentuk perlawanan baik kooperatif maupun non-kooperatif, sebagai reaksi gencarnya pengaruh asing terutama Cina yang jadi anak emas Belanda. Cina yang dimobilisasi dari Banten untuk mengisi Batavia, dan keterlibatan mereka dalam sistem kultur atau tanam paksa, lalu imperial Cina mengakui kewargaan mereka meski tak lahir di leluhurnya, membuat Kompeni mengambil hati Cina dengan memberi kebebasan legal dalam hal ekonomi, perjalanan, dan pemukiman sampai ke wilayah pelosok dalam menjalankan ritel ekonomi.

Demikianlah sebagian catatan dari analisa Vlekke, yang sejalan dengan M. Ricklefs yang menulis “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008” bahwa cerita Indonesia adalah kisah islamisasi yang mulanya secara damai dan tanpa misi, tapi hanya mengalami internalisasi (sinkretik). Namun di hari-hari kemudian seiring meningkatnya jamaah haji, atau buat menyaingi misi Katolik Portugis dan Calvinis Belanda, yang sekarang coba diangkat argumennya oleh HTI, bahwa islamisasi Nusantara adalah dengan misi dakwah. Katanya keberadaan wali songo di Jawa adalah bukti struktural dakwah dari politik Islam Turki Utsmani.

Indonesia, bagaimanapun ceritanya adalah “harga hati” yang siapapun hendak “menggulingkannya” karena ia tak tahu siapa dirinya, dan tak sadar akan sejarah dirinya.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori