Oleh: Kyan | 08/05/2016

Sinkretisme

Sinkretisme

Bukan barang sehari-duahari Nusantara menghadapi konstalasi internasional. Lalu mengapa sekarang kita resah menghadapi ada anak-anak muda kita yang kepincut gerakan-gerakan trans-nasional menyebut misalnya hizbuz tahrir, wahabi, syiah, sampai daesh di pintu kanan, lalu sebelah kiri ada komunisme, liberalisme sampai kapitalisme, atau katakanlah pelan-pelan orang mentakzimi amerikanisme, cinaisme, iranisme, saudisme, serta segala macam kepentingan geo-politikal dan ekonomi dan sebagainya dari hubungannya dengan Indonesia.

Sejarawan dan intelektual warisan kolonial terasa sekali sudah mengerdilkan dan mengkuperkan bahwa katanya bangsa kita “gak gaul” dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tak sedikit yang mengamini bahwa bangsa Nusantara seperti hidup di antah-barantah, sendirian, seperti yang digambarkan dalam kisah-kisah para pujangga istana, yang katanya tak mungkin sedetil-benar itu raja-raja Jawa mampu menarik silsilahnya sampai ke Nabi Adam, dan Melayu-Minangkabau sampai ke raja Iskandar Agung (Alexander The Great).

Padahal Hamka memberi argumen bahwa sudah sejak abad ke-2 SM bangsa Arab hadir di Nusantara, dan Cina meramaikan perdagangan Nusantara sejak abad ke-1 SM menurut Burger dan Prajudi, mungkin setelah sepinya jalur darat sutera, sementara India mungkin sebelum atau sesudah itu menjalin hubungan dengan Nusantara.

Lalu dengan pergaulan seluas dan selama berabad itu, apakah kita tak punya daya amunisi untuk mampu menjinakkan semua yang datang dari luar supaya menjadi “khas” Nusantara-Indonesia? Bukankah orang mengetahui kita adalah bangsa yang dinamis sebagai ciri “negeri kepulauan”, sebagai bangsa kontinental, bangsa yang cepat menerima, enggan menolak dari manapun semua yang baik dan buruk sekalipun?

Menurut tuturan sejarah bahwa moyang kita mulanya menganut kepercayaan animisme dan dinaimisme. Lalu datanglah orang-orang pengembara-brahmana memikat mereka yang dengan senang hati ajaran-ajaran dari sang Buddha diterima, sehingga mentahta Buddhisme sebagai agama resmi kerajaan yang teksturnya masih megah sampai sekarang: Borobudur. Buddha diyakini datang dari negeri anak benua, lalu pertanyaannya kenapa di negeri asalnya tidak terdapat bangunan semegah atau lebih megah dari Borobudur?

Dengan itu bangsa Nusantara tidak cuma pandai menerima, tapi mampu mengkreasi dengan lebih apik, mampu mengawinkan (sinkretik) antara agama dan seni sebagai buah karya adiluhung.

Lalu datang Hindu Shiwa memikat sebagian raja, atau memang karena ada kepentingan politik dan niat lain penguasa yang membuat rakyatnya pun pelan-pelan menerima ajaran baru rajanya. Kemudian dibangunlah Prambanan dan petilasan lain serta ditulislah pewayangan Mahabharata dan Ramayana, keduanya sebagai epik Hindu yang juga konon katanya dari negeri anak benua. Namun bandingkan antara cerita pewayangan Nusantara dengan versi negeri asalnya, adakah di negeri asalnya terdapat tokoh seorang Semar? Semar yang mendampingi Gareng, Petruk, dan Bagong bersama-sama bermanuver carangan adalah kisah pewayangan khas Nusantara sebagai kekreatifan “menambah-nambah” bid’ah hasanah.

Selanjutnya termobilisasi ajaran Islam karena pengaruh berbagai-bagai hal. Apakah dianutnya Islam oleh mayoritas Nusantara dengan cara peperangan? Tidak. Tidak apa dikatakan islamnya tidak islam orang Timur Tengah memandang orang Indonesia. Bukankah orang yang mengaku paling islam adalah bukti kesombongan sama halnya iblis di hadapan Adam? Pedomannya islam dan tidak islam cukuplah maqashid syariah sebagai tujuan dan sudah seberapa tinggi Islam dijadikan “jalan” kedamaian, dan bukan pemantik huru-hara perang dan pembunuhan.

Sedari abad-abad lalu dan terumuskan oleh para cendekiawan, bahwa orang Nusantara punya cara berpikir lain, yaitu “sinkretik” dalam memandang, menerima, dan mengadapsi sesuatu unsur luar, sehingga mampu menjembatani peralihan dari zaman ke zaman, dari kepercayaan satu berganti kepercayaan lain tanpa gesekan yang signifikan.

Lalu tidakkah ini sebaiknya menjadi sebuah ideologi pemikiran? Saya sebagai orang awam tak salahnya membual apa yang mesti dilakukan. Ziauddin Sardar menyatakan pintu ijtihad harus dibuka lebar-lebar, dan saya bukan sedang berijtihad tapi sedang membual..haha. Namun kata Taufik Pasiak bahwa syarat sebuah bangsa yang maju mengharuskan punya bangunan pemikiran sendiri, punya cara berpikir sendiri sebagai wawasan kebangsaannya yang ajek dan unik yang tentu berdasarkan kekhasan tradisinya sendiri.

Kalau kemarin Islam Nusantara dipropagandakan dalam muktamar NU, namun itu adalah tampilan. Islam Nusantara buat saya lebih merupakan wajah sebagai tubuh muslim Indonesia. Sedangkan dalam tubuh terdapat otak yang berpikir dan sinkretisme adalah cara berpikir orang-orang Nusantara dalam menerima hal-hal dari “luar” sejak abad-abad lamanya sebagai filtrasi atas kemerdekaan berpikir.

Sehingga apapun baik dahulu, sekarang, dan kemudian boleh datang menggerayangi tubuh dan kepala orang-orang Indonesia, namun gerakan trans-nasional semacam hizbuz tahtir-nya akan menjadi hizbuz tahrir khas Indonesia, wahabi-nya wahabi unik Indonesia, syiah-nya syiah mengkayakan tradisi Indonesia. Seperti komunisme-nya Tan Malaka untuk demi Republik Indonesia, kapitalisme pasar-nya plus Tuhan, pengumpulan modal untuk pemerataan, dan liberalnya tak apalah menengok sesekali JIL dan Ulil sebagai ocehan.

Kita tidak akan dan tidak perlu tunduk pada gagasan aslinya, pada negeri asalnya, tapi mampu kita siangi dan perbaharui sesuai dengan kepribadian bangsa. Karena tanah negeri ini berbeda dari tanah negeri lainnya, karena negeri ini berbeda dari semuanya. Tanahnya adalah tanah tumpah darah Indonesia, sedangkan pohonnya boleh apa saja.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori