Oleh: Kyan | 11/06/2016

Ada Apa Dengan Cinta 2

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali disatukan dalam kisah Cinta dan Rangga. Cinta yang masih juga belum dewasa, dan Rangga yang tetap saja murung, tapi ketidakdewasaan dan kemurungan bisa menjadi milik siapa saja, sesuai kadar dan intensitas yang berbeda, karena itu mengantarkan suka pada AADC 2.

QuotesAADC2

Begitulah AADC dari yang pertama sampai yang kedua adalah kisah yang aku tafsirkan sebagai percintaan antara Timur dan Barat: Rangga bagaikan Barat dan Cinta punya orang Timur. Barat yang murung dan Timur yang pandai berkerumun. Namun ada yang lebih murung dari hidup Rangga. Itu bisa jadi aku, kamu, atau siapa saja. Rangga baru putus dua tahun belakangan, sementara ada yang jomblo seumur hidupnya. Karena Rangga tak menemukan yang seperti Cinta, sedangkan saya tak ingin memacari perempuan yang tidak ingin saya nikahi tentunya.

Mungkin harus lebih dulu ada cinta? Ahh.. aku tak ingin perempuan seperti Cinta. Dia masih belum dewasa. Bagaimana bisa dewasa setiap ada masalah selalu meminta bantuan. Dulu pada Alya sekarang pada Karmen. Cinta tidak pernah benar-benar mandiri menyelesaikan masalahnya sendiri. Selalu saja karena alasan demi dan menjaga perasaan para sahibnya seperti yang disiniskan Rangga padanya, “kayak gak punya kepribadian saja.. apa namanya kalau bukan mengorbankan kepentingan pribadi demi sesuatu yang kurang prinsipil.”

Pun Cinta mau bertemu kembali dengan Rangga di AADC 2, karena ia merasa harus mengikuti saran teman-temannya untuk sekedar menimpali omongan Rangga, “Memang ini tidak adil”. Lalu Cinta menukasnya, “Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu.. Jahat”. Ya karena kawan genk-nya yang selalu mendukung, Cinta tetap survive terlebih saat ditinggal pergi Rangga yang tanpa penjelasan.

Begitupun nasib lebih baik Rangga, ia bisa bercerita pada Cinta bahwa kuliahnya berantakan, sementara aku bercerita pada siapa tentang hidupku yang berantakan. Meskipun ujungnya tangan lembut Cinta mendarat di pipi Rangga, alias muka Rangga kena tampar, sedangkan aku selalu ditampar oleh siapa saja yang bertemu denganku, yang mengatakan padaku “Lengkapilah hidupmu dengan cinta, carilah cinta sampai ke dasar samudera. Kau harus turun gunung biar kau tak selalu ngungun”.

Tapi kok saya malah mengumbar kemurungan sendiri. Bukannya bercerita tentang apa yang diperoleh dari menonton AADC 2.

Yaa mungkin aku berharap, seperti yang dikatakan Cinta pada Rangga tentang “apa yang aku omongkan ke kamu itu tidak benar.. Itu bohong Rangga.” Tapi buatku siapa dan di mana perempuan. Tak ada kenangan tersisa untuk siapa pun saja. Mungkin, pernah berharap dulu ada penjelasan saat seseorang yang menolakku bahwa penolakan itu sebenarnya bohong. Berbohong demi kebaikanku sendiri dan tentu untuk tidak menyusahkan dia.

Tapi ini dijawab oleh Cinta, “tapi itu menurut siapa? Baik menurut siapa?” Masa menurut Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Karena Cinta bagaikan Timur dan Rangga adalah Barat, STA menyuruh melawat ke Barat, Cinta pun pergi ke New York. Rangga gagal bertahan di Jakarta, Cinta menyusulnya yang tidak cuma sampai bandara Soeta, tapi sampai di New York. Lalu dengan wajah memelas Cinta berharap untuk bisa balikan lagi dengan Rangga.

Cinta sebagai Timur dan Rangga sebagai Barat, apakah pantas bila salah satu harus memohon dan merengek saat keduanya belum berdiri sama tinggi, keduanya belum seimbang dalam bicara apa masalah sebenarnya. Hubungan mereka sampai dikeluhkan oleh The genk-nya bahwa antara Rangga dan Cinta bak serial televisi yang ceritanya tak selesai-selesai.

Barat yang serba material, Rangga yang kesepian, membuat Rangga harus memohon pada Timur, pada Cinta dengan berkata, “jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.” Barat setelah Salib dan Andalusia ingin kembali seia-sekata dalam apa yang disebut Cinta. Tapi Cinta sering merasa tak yakin, masih guyah, dan tak berani mengambil resiko sendirian.

Mungkin Timur merasa tak ingin dikuras kembali air matanya bila tak seimbang antara orientalisme dan oksidentalisme, antara impor dan ekspor. Saat Cinta berkata, “Duh indah sekali, Rangga” saat keduanya menyaksikan fanorama pagi di Yogyakarta. Itulah Cinta bagaikan karakter Timur yang lekat dengan trah kekeluargaan dan suka mengagung-agungkan leluhurnya tanpa ditimbang secara rasional dan proporsional.

Namun Barat begitu cerdik nan pandai mengambil hati, setelah masa kolonialisme dan imperialisme, setelah menjarah kekayaan dan khazanah negeri jajahannya, Barat seakan-akan lebih tahu apa dan bagaimana itu Timur. Sedangkan Timur sendiri tak begitu tahu dan yakin pada dirinya.

Tapi kelebihan orang Timur, ia sangat pandai berkerumun, atau katakanlah berkumpul entah yang mengumpulkan mereka karena bencana atau rencana, atau proyek kerelaan senasib sepenanggungan. Karena itu, Cinta pun merasa “justru ini sangat prinsipil” untuk dapat berkumpul bersama teman-teman. Dalam satu nasib dan kesenangan, atau demi satu kepedulian, dan itu harus diakui Rangga. Cinta pun tersenyum atas pengakuan Barat tentang keelokan Timur ini, tentang awetnya perkawanan antara Cinta and the genk-nya.

Dengan itu, katanya berserikat dan berpendapat adalah dijamin Undang-undang meski ideologinya anarkisme dan program kerjanya membuat onar. Di sini orang mudah sekali membentuk satu perkumpulan atau paguyuban sekalipun keropos di kedalaman yang baru beberapa meter saja. Tapi sah-sah saja katanya toh demi kepentingan nirlaba sampai yang murni mencari laba dilindungi oleh negara. Dari semata kesenangan sampai pemborosan, dari yang berbau-bau spiritual sampai klub-klub pengajian, dari dialog antar-warga sampai dialog antar-agama, kenapa tidak bila tetap satu dalam bingkai Pancasila.

Setelah nonton AADC 2, dan melihat ketidakdewasaan Cinta, kuingat bahwa betapa penting filsafat eksistensialisme meski aku belum faham benar, kecuali cuma baca puisinya Chairil Anwar, atau berdasarkan novelnya seorang Pramis, bahwa hidup harus berani sendirian. Berbahagialah yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri. Karena kemenjadian seorang lelaki tak harus butuh perempuan. Seorang yang namanya lelaki tak harus di sampingnya melulu ada seorang perempuan. Ia dapat berdiri sendiri-sendiri namun lebih baik saling melengkapi.

Tapi sebagai perempuan, dan untuk menjadi perempuan, atau mungkin begitulah perempuan saat sudah tunangan, Cinta menganggap urusannya dengan Rangga diumpamakan sebagai arsip, sebagai prasasti, tapi saat dekat tak kuat menahan diri tak memberi satu ciuman perpisahan. Dianggapnya ciuman itu biasa dan jangan dianggap ada apa-apa. Bagi lelaki yang tak pernah dicium dan seketika menerima ciuman seorang perempuan harus mengartikan apa dari kepasrahan itu.

Coba hitung ada berapa kali adegan ciuman dalam AADC 2. Film untuk batas 13 tahun ke atas, aku melihat di sebelah ada penonton sekeluarga yang membawa anaknya di bawah umur tapi sudah pandai berbicara dan bertanya. Kudengar ia selalu bertanya dalam setiap adegan yang mungkin belum ia mengerti. Namun tak kudengar dan bagaimana perasaan si anak saat muncul adegan ciuman. Bagaimana ibu dan ayahnya menjelaskan padanya.

Karena untukku yang sudah melewati masa kecil, justru yang paling melekat di memori adalah adegan cium dan cabulnya dari film-film yang kutonton. Tapi bisakah dan mampukah sekarang aku menyusun jawaban untuk nanti kalau sudah menikah dan punya anak yang belum besar. Apakah cukup dengan berkata, “Ciuman itu hanya diberikan untuk orang yang paling disayang dan sudah halal.” Tapi mampukah nanti anakku, dan juga aku sendiri di zaman serba permisif ini, untuk dapat menahan dan tak sembarang mencium seseorang. Sudah berapa dan siapa perempuan yang pernah mencium. Atau tak pernah sama sekali dicium, hingga akhirnya hidupku selalu murung.

Aah, nonton AADC 2 yang selalu tertunda, sampai batas akhir posternya akan segera diturunkan. Tadinya mau menunggu saja bajakan, atau dengan ngunduh saja. Tapi sungguh itu tidak berkebudayaan. Saat mengetahui dari laman sosmednya Dian Sastro, bahwa film yang melambungkan namanya pada pekan ini akan ditarik dari peredaran bioskop, akupun mencari-cari info di layar mana yang masih diputar AADC 2.

Rupanya di Blok M Plaza dan Gandaria masih memutar. Itupun sehari cuma dua kali penayangan. Aku sih selalu menundanya. Tapi sebenarnya bukan selalu tak ada waktu dan kesempatan, tapi seperti kata iklan saat promosi awal: “Masa nonton sendirian”. Aku terus saja menunggu agar barangkali ada perempuan. Atau harus kucuri tunangan orang lain supaya aku tak menonton sendirian.

Ah kau murung, nonton film yang tokoh utamanya seorang yang murung, katanya. Juga tokoh utama perempuan yang tidak dewasa, apakah berharap juga perempuan yang tak dewasa, atau sebab kecantikannnya? Tapi sebenarnya apa yang diharapkan setelah lampu kembali terang memenuhi ruang, atau saat penonton sejoli yang duduk sebelah baru saja melepaskan pegangan dan saling berangkulan, tapi pesan apa yang dapat kubawa pulang.

Ya, karena untuk menuntaskah kisah keingintahuan. AADC pertama begitu fenomenal karena menggantungkan kisahnya pada imajinasi penontonnya. Tapi pada AADC 2 seperti dipaksa kisah Rangga dan Cinta mencapai klimaksnya. Kisah mereka tendensius dipaksa selesai yang tidak memungkinkan ada sekuel ketiga atau keempat seperti sinetron Tersanjung. Tapi buat apa toh dalam kenyataan hidup banyak yang tak selesai-selesai. Jangan hanya karena iklan yang bombastis, orang-orang pun datang mengantri di bioskop. Tapi sesudah bersedia waktu dan uang, sementara tak menyisakan ruang imajinasi sendiri saat mereka pulang.

Lalu apa yang kuperoleh dari ruang pengalaman selama hampir dua jam mengikuti konvensi harus duduk diam dalam gelap, sementara di kanan-kiri ada yang sangat menikmati gelap-gelapan, sementara aku pulang yang tetap saja membawa kemurungan.

Tapi benar. Ada yang dapat dibawa pulang. Yaitu selalu ada harapan meski seseorang sudah tunangan. Seperti dikatakan Karmen saat Cinta berkata, “aku tuh sudah tunangan.” Lalu dijawab oleh Karmen, “yang kutanya kan bukan itu, Cinta.” Mungkin demikian dalam kisah besar yang tak tuntas-tuntas, mengharuskan selesainya kisah-kisah kecil, masalah-masalah kecil.

Meskipun urusan-urusan kecil, tapi penting untuk dapat menuntaskan masalah besar di hidupku. Namun juga aku harus bersabar dan tak usah mendahului garis takdir. Karena mungkin saja bagi tuan yang disebut Takdir, nasib akan terasa sangat berbeda saat sudah menyelesaikan satu urusan kecil tapi penting ini. Yaitu apa. Ya ada apa dengan cinta.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori