Oleh: Kyan | 21/07/2016

Sunshine Become You

Kau matahari. Kau adalah matahari yang terangnya tiada henti menyinari anak-anak bumi. Pancaran sinarmu dipantulkan bulan sebagai cahaya bagi kegelapan malam saat si gelandang malam menanti sang fajar. Meskipun bumi tak pernah mengucapkan tanda kasih, tetapi sayang matahari tak lekang oleh panas dan hujan. Karena ialah sang surya yang perkasa dan gemilangnya bercahaya karena dirinya dan menyinari hati yang tak goyah dengan sepenuh-penuhnya.

Sunshine become you

Ya kamu seperti matahari yang selalu kutunggu tiap pagi. Kamu adalah matahari yang berkata begini seperti kata-kataku yang ditujukan padamu. “Seorang pernah berkata padaku bahwa tidak tahu kenapa bisa aku mencintai orang seperti dirimu. Terus terang saja aku tidak tahu. Kurasa aku termasuk salah satu orang yang tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang. Karena cinta terjadi begitu saja. Seperti kau tidak bisa memaksakan diri mencintai seseorang, sama seperti halnya kau tidak bisa memaksakan diri membenci orang yang kau cintai.

Tetapi kalau aku harus menjawab pertanyaan kenapa aku mencintai kamu. Karena kamu istimewa meskipun aku belum begitu mengenalmu. Aku tidak tahu bagaimana kamu sesungguhnya dan sejujurnya. Sebagaimana aku tidak tahu apa saja yang menyusun komposisi matahari, sementara setiap hari aku menerima sinarnya di kala siang dan menerima cahaya bulan kala malam dari pantulannya.

Namun setiap hari aku terus berupaya untuk dapat mencuri perhatianmu, hingga pada suatu ketika terbukalah rahasia kau di hadapanku. Kata orang tentang menyukai seseorang yang tak pernah benar-benar kau kenal, mereka bilang bagaimana bisa menyukai seseorang jika kau tidak tahu apa-apa tentang dia. Dikatakan itu bukan hal baik untuk hubungan serius. Katanya lebih baik menyukai seorang yang kau kenal baik.

Untuk ia dapat berkata, “jikalau di dunia ini tidak ada orang yang kau percayai, percayalah padaku sepenuh hatimu,” kau harus mengenalnya secara jujur dan terbuka hatinya untukmu. Kejujuran menjadi sebuah kunci untuk pemikat daya perhatian hingga terbuka hatinya, maka tercurilah selembar hatinya oleh pesona, hingga ingin menyerahkan lembar demi lembar membran hatinya untuk ditulis bersama oleh hidup dengan sepenuh cinta.

Demikianlah demi memenuhi diriku akan cinta kutonton film “Sunshine Become You” garapan Rocky Soraya. Cinta yang mungkin tak kemana, tapi kucari-cari di luar sana. Berkata begini sebab matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak dan kecipak kesyahduan malam. Berharap ada yang berkata, kau adalah matahari yang menyambut pagi, kau laksana bulan bagai jubah malam, dan pada masanya ada yang berkata bahwa kamu adalah matahariku, kau selalu saja diam dan tak bertanya kemana saja kau selama ini. Kenapa saat melewati malam kau sembunyi di balik awan.

Kemana kau pergi saat hari sedang berganti musim bersemi, kau asyik sendiri menonton sebuah film yang diadaptasi dari judul sama karya Ilana Tan dengan penulis skenario Riheam Juniarti. Katanya ingin aku pun bermain-main dengan cinta, dengan menjawab tiga pertanyaan yang katanya masuk akal dan tidak melanggar hukum. Tetapi mungkin karena rasa cinta yang telah kubunuh sejak SMA. Entah karena dogma atau tradisi yang mematikan rasa, atau apalah hidup seakan tak berpihak padaku dalam soal cinta.

Namun betapa halal dan haram dalam cara, mengabur bila satu tujuannya. Keduanya sebenarnya satu, tidak dapat dipisah-pisahkan seperti bulan dengan gambar yang kita reka-reka menurut imajinasi yang disampaikan indramata menuju pusat saraf di otak kita. Kebaikan dan kejahatan adalah sebentuk dari trikaya, yakni kaya (perbuatan), wak (kata-kata), dan sitta (cinta). Karena gelap bukan berarti tidak ada cahaya, sifat jahat bukan berarti tak berdayaguna. Ia tanpa diketahui memberi manusia anugerah yang berupa rasa ajaib penuh rahasia.

Dan kini, matahari kian menuju puncak dan menuruni senja, sementara hidup tanpa rona dan mahkota di kepala. Sesaat kupandangi ia dengan bertanya kepada diri sendiri, mengapa manusia mesti menghancurkan segala karya yang telah dicipta, oleh segala aturan yang mengkerangkeng dirinya.

Kuingin segera membelai mesra ranting-ranting lembut yang bergetar dalam cahaya. Tapi di manakah ia. Mungkinkah matahari meminta bumi untuk tidur sejenak, setelah lelah dan lemah dalam upaya dan doa yang tak pernah henti dipanjatkan pada pemilik semesta hati dan matahari. Tetapi entahlah. Hidup yang berantakan ataukah hidup yang tak direncanakan. Begitu pula cinta tak pernah direncanakan hanya dapat merasakan seketika, seperti kasyf dalam pengalaman ruhani bagi sang sufi, atau bagai komponis yang tiba-tiba ekstase saat memainkan sebuah lagu: Sunshine Become You.[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori