Oleh: Kyan | 31/07/2016

Air Mata Surga

“Di hutan kehidupan ini tak ada ranting sesempurna dirimu. Aku takkan keluar dari hutan ini. Menunggu ranting itu ada di genggamanku. Entah kapan.” Begitu sebuah pesan dari Hamzah kepada Fisha. Tapi kok, saya lebih tertarik pada karakter Hamza. Ya kasihan banget dia ditolak cinta oleh Fisha. Ia orang teraniaya maka harus dibela. Karena panggung utama dalam Air Mata Surga bercerita antara Fisha dan Fikri, Hamzah hanya cerita sampiran seperti aku pada hidup seseorang.

Air Mata Surga.. Hamzah

Ya rasa-rasanya tak pernah aku jadi aktor utama. Tak pernah sebagai cerita utama antara aku dan dia, kecuali memang aku harus bikin ceritaku sendiri. Tapi mungkin ceritaku bukanlah tentang sejak pertemuan, tapi tentang pencarian sampai menemukan. Menemukan entah ranting basah atau kering, entah ranting yang dibuang atau masih menyatu dengan pohonnya, dan aku sedang berteduh di rindang keramahannya.

Tapi apakah menarik jika plot cerita 90 persen pencarian? Melulu cerita kesendirian dengan soundtrack lagu “Terlalu Lama Sendiri” dari Kunto Aji akan terasa garing dan basi. Siapa yang tertarik dengan gambaran seorang aku yang cengeng dan cemen. Tanpa pernah berusaha mengasah kapak yang berkarat dan tumpul, karena tak selalu digunakan untuk menebang ranting yang sebenarnya, yang bertebaran tapi aku tak berani mengambil satu keputusan. Tapi bukankah dengan bercerita dapat aku berbagi yang barangkali bermanfaat buatku sendiri?

Aku yang terus saja menyaksikan semburat matahari, sementara belukar dan daun-daun yang merimbun menghalangi ranting mengering dan basah karena hujan. Aku terus tersilau dan terpukau melihat buah besar dan hijaunya daun pada ranting-ranting yang bertemu di jalan-jalan. Ingin aku memetiknya kalau tak kuingat larangan. Tapi buah saja tak cukup, dan harus dengan rantingnya, dan daun-daunnya.

Ranting yang buahnya manis dan daun yang merona berwarna menambah aroma ingin segera aku mengecupnya. Mungkin saja rantingnya masih basah dan buahnya belum matang. Maka keputusannya apakah aku harus menunggunya sampai kering, ataukah aku terus berjalan menemukan ranting yang lain, buah yang lain di antara daun-daun yang menutupi, dan belukar yang menghalangi.

Tetapi kalau tak berani mengambil satu keputusan bisa-bisa pulang tak membawa apa-apa. Mengerikan sekali bukan. Tetapi bukankah aku sudah sedia kapak yang runcing untuk kembali memulai, beserta asahannya yang bila sewaktu-waktu di tengah hutan kapak tumpul karena selalu tak digunakan untuk menebang belukar yang menghalangi perjalanan bertemu ranting? Pokoknya aku tidak boleh berhenti menyinggahi dan menjelajahi hutan demi hutan sambil bernyanyi memangku semangat dan berani berjalan sendiri.

Menjadi seorang Hamzah, pun berkata setelah tak jadi lelaki pilihan, “Akupun punya kehidupan yang harus aku isi”. Tidak melulu mengejar cinta Fisha, begitupun aku dan kamu lupakan saja orang itu. Ia melengud ketika harus menghadiri pernikahan orang yang sejak lama ia terus kejar-kejar, namun di mahligai bersanding dengan lelaki lain.

Memang, sebalik dari cerita AADC2, dalam Air Mata Surga bercerita Fisha lebih memilih Fikri yang pengusaha muda. Sementara Hamzah yang suka seni dianggap oleh Fisha tak lebih sebagai teman. Dalam AADC2 seorang Cinta tetap memilih Rangga si pujangga, dibanding Trian yang pengusaha muda. Padahal kau bicara soal mapan mungkin bisa menimbang siapa yang jadi pilihan. Tapi menurut adiknya Fisha, Hamzah itu ibarat jin, di mana ada Fisha di situ ada Hamzah. Hamzah selalu mengulurkan bantuan terutama saat mencari narasumer buat tesis kelulusan S2 Fisha. Sementara Rangga bagi Cinta terasa sekali katanya makin menjauh, hingga tiba sudah tunangan lalu ia datang untuk mengakui kebodohannya sendiri.

Mungkin kita bertanya apa yang kurang dari Hamzah—diperankan oleh Morgan Oey—apa yang buruk atau pernahkah Hamzah bersikap tidak sopan. Tapi guna meraih cinta, tak cukup cuma baik bahkan kaya atau terus bertahan mengejarnya. Ada nasib dimana laki-laki yang baik akan mendapatkan perempuan baik memang sunatullah alam. Tiap-tiap sesuatu memiliki pasangannya, setiap orang punya jodohnya masing-masing. Meyakini saja ada rahasia dibalik pencarian seseorang yang menjadi pelajaran bagi semua orang. Ada hikmah dibalik peliknya hidup.

Dan ketika semua kisah telah dituliskan, semua tak cukup dengan sabar dan syukur, tapi harus ada iman. Karena dia beriman pada yang menentukan segalanya, maka ia tetap bertahan pada sabar dan syukur dalam setiap upaya pencariannya. Bukan maksud mengakui kekalahan, tapi umpama kenapa di suatu negeri selalu terjadi bencana padahal penduduknya beriman. Itulah cara Tuhan memberi tanda-tanda zaman. Mungkin saja ada satu penduduknya yang ingkar dan munafik atau marah, sementara tidak kita ingatkan dengan hikmah dan teladan dengan kelembutan supaya tak terus melubangi kapal yang membuat kapal oleng dan tenggelam.

Maka berbahagialah ia yang sudah menemukan ranting dan tetap semangatlah aku sampai bertemu ranting dengan buahnya yang elok dan daunnya yang indah sebagai hidangan jamuan pesta malam. Janganlah karena lapar lalu pergi ke pasar sekedar ingin buah manis dan segar. Mencicipi tanpa pernah memiliki sebagai hiasan di meja belajar. Dan terus dan teruslah memupuk semangat dengan kokohnya iman bahwa suatu ketika akan menemukan! Itu saja.[]

Iklan

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori