Oleh: Kyan | 15/08/2016

Istri Tanpa Clurit

Bode Riswandi, __Istri Tanpa Clurit

Istri tanpa clurit, sang ibu pertiwi tanpa palu arit. Cukup menjadi hiburan saat membaca cerita istri tanpa clurit. Saya dibikin ketawa saat si calon bayi berkata pada emaknya, “Perempuan cepat keluarkan aku dari penjara busuk ini, sebelum kurobek pintumu ini dengan clurit… Lekas keluarkan aku dari sini. Di sini pengap. Busuk!”

Kalau Alquran dari yang Mahaide bercerita Yesus mampu bicara sejak dalam ayunan, sedangkan Bode Riswandi dengan ide surealisnya bercerita tentang si jabang bayi yang sudah bicara sejak dalam kandungan. Tak terbayang sejak dalam kandungan sudah membentak-bentak ibu dan ayahnya, bagaimana kalau sudah besar nanti.

Tapi memang suka aneh-aneh kalau istri sedang ngidam, dan kalau negara sudah tidak mampu menjembatani berbagai perbedaan, maka bergolak api pemberontakan. Dunia sekarang dipenuhi clurit, anak muda kesengsem pikiran Marxis. Clurit—simbolis ketajaman orang bicara seenaknya, atau bahasa polisi menyebutnya “ujaran kebencian”. Membenci dengan membalik benci. Sok menasehati seakan dirinya paling suci.

Pada ayahnya bilang, “Lama benar lelaki itu pergi. Ke mana ia?” Dijawab emaknya, “Panggillah dia Bapak wahai calon anakku!” sambil menahan rasa sakit oleh clurit yang digores-goreskan si calon bayi pada emaknya. Demikianlah anak yang sejak di kandungan sudah membawa cluit, karena istrinya ngidam clurit, dan pada suaminya minta disebut terus-menerus kata cluit seribu kali, sampai bibirnya tebal.

Demikian pula kita bebal karena Ibu pertiwi Indonesia pernah sebagai negara terbesar penganut komunisme di luar Uni sovyet sebagai tanah kelahirannya. Wajarlah orde baru mengilir-ilir bahwa komunisme adalah bahaya laten, yang heboh sekali Kivlan Zein atau digaungkan Taufik Ismail bahwa telah lahir kontra-revolusi, yakni KGB, Komunisme Gaya Baru. Negara seakan linglung menghadapi pergesekan-pergesekan.

Saya menikmati sekumpulan cerpennya Bodi Riswandi. Namun baru sebatas itu saya menyelami bahasa simbolis yang dituturkannya. Dikatakan sebuah cerpen yang berhasil adalah yang membuat kita bertanya-tanya apa pula maksudnya. Tapi mungkin karena penerbitnya Ultimus yang dianggap kekiri-kirian, saya menafsirkan pesannya baru sebatas demikian.

Kebenaran ada pada si pemilik ide. Tetapi pena telah diangkat dan buku telah dicetak, cerita dan tafsirannya sudah jadi milik pembaca. Keterpautan antara penulis dan pembaca mungkin karena pengalaman yang sama, gairah yang serupa, dan sebuah cerita tidak berasal dari ruang hampa.

Membaca sepuluh cerpennya, dari sisi cerita, seperti dikata Pak Suminto dalam pengantar, semua diikat oleh jungkir baliknya tatanan sosial yang telah lama kita kenal. Dunia yang serba tak ajek, absurd, dan pasang-surut disuguhkan sebagai prosais, padahal mulanya Bodi Riswandi lebih dikenal sebagai penyair. Cerita yang diangkat mulai dari urusan rumah tangga sampai urusan pemerintahan. Dari masalah pendidikan anak sampai soal pelacuran. Setiap cerita terasa menghanyutkan dan memancing pikiran lain-lain.

Dari pemilihan bahasa, seperti dikatakan Acep Zamzam Noor bahwa jejak-jejak puitik kepenyairan Bodi Riswandi masih terasa pada sepuluh prosa yang ditulisnya. Tetapi cerpen membang berbeda dari puisi. Kekuatan cerpen ada pada cerita, sedangkan kekuatan puisi ada pada sepilihan kata.

Cara pengungkapannya sangat horor. Pengambilan setingnya di sekitar pembunuhan, penyekapan, dan kematian. Hampir semua cerita melulu soal nyawa dan nasib orang pinggiran. Dari sisi gender, karena Bode Riswandi adalah lelaki, penokohan yang bercerita lebih banyak laki-laki, baik dengan sudut pandang pertama maupun ketiga. Yaitu seorang lelaki yang memperhatikan atau sedang mengenali hidup dan nasib perempuan, baik dari strata “rendah” ala pelacur maupun kelas sosial tinggi setingkat ibu menteri.

Kalau saya merangkum beberapa cerpennya, dalam cerpen “Hari Kedua Belas” bercerita saat seseorang sering tak kuasa melenyapkan orang yang kita cintai karena sudah menyakiti. Kata Ahmad Tohari bahwa keterbatasan manusia memang niscaya. Mungkin benar cinta itu siksa. Namun pada akhirnya kita akan tahu persis bagaimana “cara membunuh” orang yang kita cintai.

Cerita “Lukisan” menggambarkan sebuah dosa dibalik prestise. Atau orang tua ingin mencetak masa depan anaknya. Tapi pemberontakan seorang anak pada ibu bapaknya tentang pilihan hidupnya. Untuk mengingatkan kesalahan atau bahkan “dendam” pada orang tuanya. Persis seperti riwayat si kakek buta veteran perang kemerdekaan dalam cerpen “Riwayat Penyemir Lars” bahwa yang tua yang menderita. Tetapi semoga nasib mereka—mereka yang belum tercatat dalam buku sejarah negara, tak ikut-ikutan buta.

Cerita yang membawa pesan janganlah menganggap rendah pada profesi tertentu, pada orang tertentu, karena boleh jadi apapun pekerjaan dan pengalaman hidup seseorang, atau hidup seseorang kalau digambar secara utuh boleh jadi yang kita rendahkan adalah kemuliaan. Seperti yang dilakukan ustaz Ujang Lukman dalam cerpen “Pelacur yang mati di kali” yang tak menghakimi kaum pelacur yang ditampung sementara di mushalanya.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori