Oleh: Kyan | 24/08/2016

Menggugat Jejak Indonesia

 

Indonesia, meski dari salah ucap orang Eropa, tapi kita akui sebagai nama yang mewakili impian kita sebagai bangsa, sebagai yang menghimpun serba serumpun dalam wadah sebuah komunitas terbayang (imagined community). Seperti Minke tahu namanya berasal kata dari “Monkey”, tapi ia bilang bukan berarti aku tak akan menyahut kala nama itu dipanggil. Sebutan salah bukan berarti tidak sah sebagai nama impian yang juga belum jelas benar mimpi apakah para pendulum bangsa saat hari diproklamasikan sampai hari-hari kita merayakan hari kemerdekaan.

Koh Young Hun, __Pramoedya Menggugat, Melacak Jejak Indonesia.jpg

Tapi setidaknya Indonesia yang lahir dari rahim ibunda kepulauan nusa, sebuah jejak bangsa yang berbapak Austronesia dan Melanesia yang bercampur-campur maka jadilah Australo-Melanesia sebagai yang disebut pribumi dengan sebutan-sebutan suku yang mendiami gugusan wilayah tertentu. Melalui Indonesia sebagai nama yang meskipun salah eja, semoga dapat terhimpun suku-suku yang sebenarnya satu antara Proto-Melayu (Batak, Toraja, Wajo, Meo, Tayal, Ranau, Bontoc, Karen) dan selanjutnya mengembangkan Deutro-Melayu (Jawa, Bugis, Aceh, Minangkabau, Sunda, Madura, Bali) dan Melayu sendiri sebagai lingua franca untuk menyatakan setia pada proklamasi yang bhineka.

Indonesia adalah sebuah kehendak untuk “berbeda”, yang memforma dengan sepenuh jiwa-raga, bahwa dari satu peradaban angin muson yang dulu meliputi apa yang disebut sekarang ialah Hindustan, Indocina, dan Nusantara sendiri adalah satupadu kepercayaan Kapitayan yang mengajarkan “cinta tanah air adalah sebagian daripada iman”, adalah pemujaan roh leluhur maksudnya demikian, untuk menyatakan janji harus ditunaikan pada impian yang diimpikan.

Namun di kala tafsir yang ditafsir berlain-lain dan bersenyawa dengan yang lain-lain, menyebut misalnya Islam. Islam yang sejati ialah pengimbangan yang rasional dengan yang supra-rasional, yang menggeliatkan desa menjadi sebuah kota, lalu Islam dibawa ke pedalaman yang memangku raja-raja. Entah menata-krama atau bara fanatik buta atau ampasnya yang kita nama “feodalisme” sebagai penghambat untuk pengimbangan tadi. Mau Hindu, Budha, Kristen, atau Konghuchu atau Islam sekalipun sebagai agama, dan agama yang melembaga berkawin dengan situasi yang merestrukturisasi, pilihannya antara melumpuhkan memandekan atau menjumudkan, atau memperkaya memperluas dan penyemangat pergumulan sehari-hari antara lalu sekarang dan nanti.

Dan seorang Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disingkat: Pram) dengan semestinya diangkat ke muka saat hari-hari mengingat Indonesia merdeka. Tentang bagaimana Indonesia yang hendak dibangunkan, tentang Indonesia mana yang hendak kita isi dengan revolusi setengah hati. Sebuah buku ditulis Prof. Koh Young Hun, seorang yang berkebangsaan Korea Selatan menulis tesis tentang “Pemikiran Pramoedya Ananta Toer dalam Novel-Novel Mutakhirnya” lalu jadilah sebuah buku ini dihadirkan pada pembaca.

Saya sebagai orang bodoh, meski saya sudah baca beberapa karya Pram pada bulan dan tahun berlalu, karena saat bacanya hilang kosentrasi hingga sering ada yang terlewati dan tak terpahami, maka perlu pula membaca satu uraian yang dipaparkan oleh seorang kritikus mumpuni, dan semoga dapat mengingatkan serta menghadirkan situasi apa yang semestinya didapati dari yang telah lewat tadi.

Prof Koh Young berkata bahwa Pram di luar negeri begitu tenar, tapi di tanah airnya sendiri luput dari perhatian atau benar ada yang membincangkan tapi mengalami pasang-surut bergantung keadaan. Bagi chairman Pusat Budaya Indonesia di Soeul bahwa Pram tidak hanya mewakili Indonesia, melainkan juga ia wujud yang dapat mewakili kawasan Asia, yang semula hampir keseluruhan tanahnya pernah ditindas kolonialisme dan imperialisme.

Jadi Pram bukan hanya milik Indonesia, tapi milik Asia bahkan dunia. Sebab dunia yang dicipta Pram adalah yang “melawan”. Melawan penjajahan global dan untuk mengingatkan kebodohan bangsanya sendiri. Memang yang ditulis Pram adalah dari pengalamannya pribadi, ialah hasil seleksi pengalaman hidup yang pernah ditempuhnya dari sejak kecil yang bercerita pernah tidak naik kelas tiga kali, bahkan sesudah lulus pun oleh ayahnya disuruh mengulang lagi. Sejak itu ia menangis dan berjanji tidak ingin seperti ayahnya dalam mendidik anak-anaknya nanti.

Atau cerita saat meminta uang pada ayahnya buat membeli buku. Dalam surat Pram menulis pada ayahnya, “Ini permintaan anakmu yang pertama dan terakhir kali.” Tapi ayahnya tidak membalas suratnya sama sekali. Ayahnya yang seorang guru, ayah yang kata Pram sendiri sebenarnya bisa berkecukupan kalau ia memilih guru HIS di sekolah pemerintah. Tapi demi idealisme lebih memilih sebagai guru swasta di Taman Siswa.

Maka dunia yang dibangun Pram adalah “peralihan” dari dunia kekecewaan menuju dunia hasrat yang memberi harapan dan semangat. Dunia yang hendak diciptakannya adalah dunia alternatif tentang cerita manusia yang selalu didampingi oleh penderitaan. Tapi sebuah alternatif terhadap kenyataan, hanya mungkin dapat dibayangkan dengan berdasarkan pengetahuan kenyataan itu sendiri. Sebab itu landasan menulis Pram adalah humanisme.

Landasan Pram adalah “Pramis”. Kata Hamka—orang yang pernah bersitegang dengan Pram, landasan Pram menulis adalah cinta. Cinta pada tanah airnya beserta cinta pada kemanusiaan itu sendiri. Pram menulis utamanya bukan soal peristiwa tapi tentang manusia. Kalau Pram pernah terlibat Lekra sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, persinggungan Pram dengan Lekra itu secara tak sengaja saat butuh dana tapi tak ada yang bersedia memberi uang muka atas bukunya. Justru Lekra yang menumpang ikut tenar pada popularitas Pram. Taufik Ismail bercerita Pram dalam sebuah seminar, yang dia tahu, kata Taufik Ismail, Pram nol besar dalam Marxisme-Leninisme.

Mungkin sebagaimana khas angkatan 45 adalah eksistensialisme, soal keindividuan yang harus berani, yang bersamaan dalam ranah komunial melahirkan proklamasi. Pram dilahirkan dalam rahim perikehidupan orang-orang Samin, tumbuh dalam keluarga yang patriotik nasionalis kiri yang antipenjajahan, dan hidup di masa-masa perjuangan gelora kaum pemuda angkatan 45. Ia pernah mengecap penjara di masa Belanda karena mengedarkan stensilan, tapi juga dipenjara oleh orde yang didukungnya karena soal hoakiau di Indonesia, dan apalagi orba yang coba dilawannya, saat ada anak bangsa yang berjabat tangan dengan neo-imperialisme dan neo-kolonialisme—meminjam kata-kata dari Bung Karno.

Tapi kata Pram bahwa benar sangat busuk kolonialisme dan imperialisme. Tapi tidak semata penjajah Eropa yang membawa bedil dan teknologi terbarui. Tapi perkawinan antara feodalisme Jawa (khususnya) dengan semangat aufklarung Eropa, yang semestinya kata Naquib al-Attas kedatangan Eropa yang sebelumnya tercerahkan oleh Islam, Nusantara harus terkena api gelora mengusung rasionalisme yang dibawa Eropa.

Tapi pergumulan antara “Islam-Jawa” atau “Jawa-Islam”, atau berganti nama sekarang apakah “Islam-Nusantara” atau “Nusantara-Islam” mungkin tak sudah-sudah sampai kita sekarang. Bagi Pram yang pernah singgah di Sekolah Tinggi Islam di Gondangdia, bahwa Islam yang murni adalah Islam pesisir, Islam yang dibawa dari ibunya yang berasal muasal dari Rembang yang menginspirasi kemudian dalam Gadis Pantai—sebuah novel diangkat dari kisah nyata tentang neneknya atau siapa saja yang dijadikan “teman seranjang”, dinikahi secara syariat agama tapi tak diakui seia-sekata dalam rumah tangga.

Pram menggungat Islam pedalaman, Islam yang diwariskan atau yang dianut ayahnya. Memang benar ini pelik—setidaknya menurut saya bila bicara soal pergumulan antara Islam dan Nusantara dalam kuali negara-bangsa. Tapi Pram telah mewariskan tentang “dunia peralihan” tentang bagaimana melihat saat ini dan nanti dengan meneropong masa lalu kita sendiri.

Ia menulis “Arok Dedes” soal kudeta pertama di Nusantara. Tapi juga tentang renaissance kebudayaan Nusantara saat dominasi hinduisme. Ia menulis “Mata Pusaran” tentang percobaan menebus misteri jatuhnya kekuasaan laut terbesar dalam sejarah Majapahit. Menulis “Arus Balik” tentang hancurnya kekuasaan laut Nusantara di tangan bangsa Eropa dan dimulainya babak awal kolonialisme Eropa. Menulis juga drama “Mangir” tentang percobaan historis mendirikan feodalisme Jawa yang apriori takut terhadap kekuasaan laut Eropa pada masa Mataram II, yakni Mataram Islam, yang kerajaan pedalaman dan Islam pedalaman.

Begitu pula dalam Tetralogi Buru Pram menulis “Bumi Manusia” yang melukiskan konflik dan tragedi atas nasib manusia pribumi di hadapan orang Eropa yang berilmu tapi licik. “Anak Semua Bangsa” yang bercerita tokohnya yang turba (turun ke bawah) dan memaparkan secara luas dan mendasar soal kebangkitan bangsa-bangsa terjajah di awal abad 20. Menulis “Jejak Langkah” yang berkisah tentang kemunculan organisasi-organisasi modern pribumi. Lalu “Rumah Kaca” yang menceritakan usaha-usaha kolonial yang mengawasi gerak-gerik penduduk pribumi, tapi secara pribadi sang intel tersebut cukup bersimpati.

Membaca buku-buku Pram, atau soal Pram sehubungan Lekra, bolehkah dikatakan Pram adalah bagian dari kerangka gagasan Sanusi Pane yang berpolemik dengan STA soal kebudayaan Indonesia yang hendak dibawa kemana. Lekra lahir katanya sesudah pidato STA dalam “persetujuan kebudayaan”, setelah konferensi yang bertemakan “Kebudayaan nasional dan pengaruh asing” yang dipanelis STA, Ki Hadjar Dewantara, dan Trisno Sumardjo, selanjutnya yang tak setuju dengan STA berkumpul dan berdirilah Lekra.

Tapi siapa yang membisiki pemerintah, siapa kritikus yang menganggap bahwa tetralogi buru adalah masuk kategori makar terhadap pemerintah. Pada bagian mana dan halaman berapa yang mengajarkan tentang pertentangan kelas atau secara terselubung memberi arahan pada faham Marxisme-Leninisme. Apakah Mochtar Lubis tapi Mochtar Lubis pula yang menyarankan pada Soemitro selaku Panglima Kopkamtib agar Pram boleh lagi menulis. Saya menyebut Mochtar Lubis karena ia menolak menerima penghargaan Ramon Magsaysay, karena penghargaan yang sama diberikan juga kepada Pram, menurut buku yang saya baca—tapi persisnya saya lupa dan dari referensi yang mana.

Pram yang pernah frustasi, pernah berkata lebih baik mati kalau hidupnya sudah tak berati. “Aku sudah melawan, Ma” dalam penggalan dialog Bumi Manusia. Aku sudah memberitahu, Mak. Sudah aku beritahu bangsa yang tidak mementingkan daya inisiatif, karena dikatakan dapat mengganggu keseimbangan, sehingga bangsaku adalah bangsa yang kompromistis. Tak pandai ia mengimbangkan antara budaya-tanah dan budaya-air hingga terperosok pada kekuatan dan pengaruh asing.

Sudah aku beritahu bahwa ini bukan untuk perwujudan pertentangan kelas dalam masyarakat yang tak memiliki lebih dari dua kelas. Tapi ini soal dua kategori yaitu daya-hidup melawan daya-mati, soal penindas dan yang ditindas, dan soal pengembaraan dari dunia-kecewa dan nyata yang menghambat tadi, untuk menuju dunia hasrat sebagai mimpi yang memberi harap dan semangat. Merdeka.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori